Menhub: Business Is Your Job, Safety Is My Job

0
661
Menhub Ignatius Jonan

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Menteri Perhubungan Ignasius Jonan meminta seluruh maskapai penerbangan nasional wajib meningkatkan kualitas layanan sehingga dapat berkompetisi, terutama menghadapi ASEAN Open Sky 2015. Sebagai regulator, pihaknya tidak akan masuk ke urusan bisnis karena Kemhub menaruh perhatian utama pada keselamatan.

“Tupoksi Kemhub tidak mengurus untung-rugi orang. Business is your job, safety is my job,” ujarnya saat menyampaikan sambutan dalam Rapat Umum Tahunan Asosiasi Perusahaan Penerbangan Indonesia (Indonesia National Air Carier Association/INACA) di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (13/11/2014).

Jonan menyampaikan, pihaknya akan fokus pada keselamatan penumpang. “Menurut saya, lebih baik orang tidak pernah terbang, daripada tidak pernah mendarat. Karena itu kita akan tegas soal keselamatan ini. Soal bisnis, itu urusan Anda,” katanya.

Secara khusus Jonan juga meminta maskapai tidak berjadwal untuk meningkatkan aspek keselamatan. “Selama berhubungan dengan nyawa manusia, kita harus serius. Jadi tolong, aspek keselamatannya harus benar-benar dijaga,” tegasnya.

Menurutnya, INACA merupakan organisasi yang paling internasional dibanding semua asosiasi lain yang berkaitan dengan Kemhub sehingga angkutan udara harus kompetitif dan tidak terlalu banyak meminta proteksi. “Kita berharap penerbangan nasional maju, tapi jangan terlalu banyak proteksi juga. Kalau terlalu banyak proteksi, tidak sehat. Bersaing saja,” ujar mantan Dirut PT KAI.

Menurut Jonan, kesanggupan dan kemampuan berkompetisi merupakan hal yang mutlak di era keterbukaan sehingga pengusaha diminta untuk inovatif dan meningkatkan layanan karena tidak ada batasan tarif dalam bisnis jasa. “Sky is the limit. Anda naikkan layanan, harga bisa naik. Karena itu inovatiflah supaya bisa kompetitif,” ujarnya.

Menurutnya, nature pebisnis adalah berada dalam persaingan dan berusaha memberikan yang terbaik. “Sebab kalau tidak kompetitif, makin lama makin habis. Jadi saran saya, bisnis saja dengan baik, inovatif. Namanya pebisnis itu ya memang begitu,” tutur Jonan.

Jonan menyampaikan, banyak permintaan kepada pihaknya untuk membuat aturan terkait persaingan bisnis. Dia mengambil contoh, permintaan dari maskapai kargo Cardig Air agar pemerintah mengatur tarif kargo pada maskapai berjadwal.

Menurutnya, usul tersebut ada benarnya. Dia mengisahkan, saat masih menjadi Dirut Kereta Api Indonesia, tarif kargo di kereta reguler Jakarta-Surabaya Rp 100. Sementara harga di kereta khusus barang lebih mahal, yakni Rp 250.

Jonan kemudian memutuskan menaikkan harga kargo di kereta penumpang menjadi Rp 2.000. “Sebab yang berjadwal kan pasti berangkat, jadi kalau lebih mahal tetap masih ada kok. Nah, tapi itu kan jangan saya yang atur. Maskapai yang berjadwal, ya naikkan saja harganya. Pasti ada kok pasarnya. Saya di kereta saja bisa, maskapai pasti juga bisa. Ngurus kereta itu susah lho,” ujarnya disambut tawa seluruh peserta rapat.

Memang, lanjut Jonan, ada sejumlah hal terkait regulasi yang perlu diperbaiki. “Kalau Anda rugi karena regulasi, ayo kita perbaiki. Tapi kalau karena bisnis, itu urusan Anda,” tegasnya.

Untuk hal itu, Jonan membuka diri untuk berkomunikasi. “Sekjen Kemhub sudah minta semua big player, termasuk asosiasi untuk tunjuk dua orang sebagai penghubung. Jadi tidak ada alasan komunikasi kita lama. Semua bisa kita diskusikan,” ujarnya sambil menambahkan jika INACA berpikir ada yang bisa lebih cepat, maka harus disampaikan ke Kemenhub.

Ketua Umum INACA Arif Wibowo meminta pemerintah untuk memperhatikan beragam hal yang memberatkan maskapai nasional untuk bersaing.
“Soal keselamatan, pemerintah diharapkan melakukan percepatan untuk menaikkan kelas dari FAA kategori dua menjadi kategori satu, dengan demikian akan menurunkan country safety risk yang pada akhirnya juga menurunkan biaya asuransi pesawat,” pintanya seperti dilansir laman SP.com.

Selain itu, penurunan terhadap struktur biaya avtur di Indonesia yang masih tergolong tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

Hal ini memengaruhi daya saing maskapai penerbangan nasional jelang ASEAN Open Sky Policy 2015. Selain itu, Kemhub diharap berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk membuat kebijakan nol persen untuk bea masuk bagi komponen pesawat. Walau sudah ada SK Menkeu mengenai hal tersebut namun dalam pelaksanannya belum berjalan baik. ****

LEAVE A REPLY