Mengenal tradisi leluhur lewat wisata belanja ke Kampung Batik Kauman Solo

0
2471

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Menikmati Liburan akhir tahun maupun di awal tahun 2015  ini bagi yang berwisata ke kota Solo jangan lupa mampir ke Kampung Batik Kauman untuk wisata edukasi agar anak-anak dan anggota keluarga lainnya memahami warisan budaya leluhur berupa kain batik yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.

Kampung seluas 20,10 ha di Kelurahan Kauman Kecamatan Pasar Kliwon ini  mempunyai kaitan erat dengan sejarah perpindahan keraton Kartosuro ke Solo yang kemudian berubah nama menjadi Kasunanan. Daerah berpenduduk sekitar 3435 orang ini terbagi dalam 22 Rukun Tetangga ( RT) dan 6 Rukun Warga (RW).

Mengapa berkunjung ke Kauman ? karena Kampung Kauman inilah yang menjadi cikal bakal industri batik Solo. Kalau pemerintah daerah Surakarta (Solo) lebih dulu mempromosikan kawasan Laweyan sebagai sentra batik, maka Kauman yang terletak bersebelahan dengan  Pasar Klewer justru berkembang dari upaya masyarakat setempat untuk menjadi Kampung Wisata Batik.

Tidak tanggung-tanggung, berkat kegigihan dari tokoh masyarakat dan penduduk setempat, Oktober 2014 lalu di Toraja, Sulawesi Selatan, Kementrian Pariwisata juga menganugerahkan penghargaan Kelompok Sadar Wisata ( Pokdarwis) tingkat Nasional.  Pokdarwis Kampung Kauman masuk enam besar, menyisihkan 53 Pokdarwis dari 19 provinsi di tanah air yang mengikuti kompetisi ini.

Enam Pokdarwis tersebut masing-masing Podang Lestari dan Gubuk Klakah dari Provinsi Jawa Timur, Lila Santhi dari Bali, LA Adventure dari Sumatra Barat, Pokdarwis Eko Kabo Jaya dari Kalimantan Timur dan Pokdarwis Kauman dari Solo, Jawa Tengah.

Mereka diundang ke Toraja yang menjadi tuan rumah Gerakan Nasional Sadar Wisata ( GWSN) dan Aksi Sapta Pesona sambil melaksanakan proses penilaian akhir di hadapan para juri yang terdiri dari pemerhati, akademisi, praktisi dan juri dari perwakilan media nasional dan Kampung Kauman meraih posisi sebagai juara ke tiga.

Kelurahan  Kauman ini dipenuhi beragam arsitektur rumah gedongan karena awalnya, daerah  yang berada di sisi barat depan Keraton Kasunanan diperuntukkan bagi tempat tinggal kaum  ulama kerajaan dan kerabatnya. Apalagi lokasinya memang berdampi-ngan dengan Masjid Agung Keraton di sisi barat alun-alun utara.

Kauman merupakan tempat ulama yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat mulai dari penghulu tafsir anom, ketip, modin, suronoto dan abdi dalam Kasunanan lainnya. Keberadaan kaum sebagai penduduk mayoritas di kawasan inilah yang menjadi dasar pemilihan nama “kauman”.

Masyarakat setempat yang sebagian merupakan kaum abdi dalem Keraton mendapat-kan pelatihan secara khusus dari kasunanan untuk mebuat batik baik berupa kain atau jarik /selendang dan sebagainya.

Karena itulah tradisi batik kauman ini mewarisi secara langsung inspirasi membatik dari Ndalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berbekal keahlian itulah masyarakat kauman dapat menghasilkan karya batik yang langsung berhubungan dengan motif-motif batik yang sering dipakai oleh keluarga keraton.

Berkunjung ke Kampung Kauman adalah tempat yang sangat pas kalau ingin merasakan nuansa batik yang sangat kental. Hampir 50% warga setempat membuka usaha rumah batik, toko kerajinan, museum batik dan usaha lainnya seperti kaos batik baik cetak maupun dengan desain batik tulis.

Jalan-jalan di kampung ini tergolong sempit hanya bisa untuk satu mobil yang bergan-tian, naik motor, sepeda gowes atau bahkan berjalan kaki menyusuri toko-toko. Banyak juga becak berseliweran di gang-gang membawa wisatawan nusantara yang ingin menikmati nuansa kampung batik Kauman.

Suasana Kampung Batik Kauman dan arah petunjuk kemana berbelanja bagi para wisatawan
Suasana Kampung Batik Kauman dan arah petunjuk kemana berbelanja bagi para wisatawan

Supriyadi, salah satu pengurus Pokdarwis Kampung Kauman, menunggu saya di rumah batik Gunawan Setiawan.  Pertemuan di Toraja, Oktober lalu membuat komunikasi kami terus berlanjut. Lokasi rumah batik ini di pertigaan jalan dan mudah ditandai karena di sisi rumah sejajar dengan atap garasi ada patung wanita pembatik. Di halamannya ada tugu panah yang menjadi tanda arah tujuan di kampung ini.

Batik Gunawan Setiawan adalah merek dagang dari produk batik yang di hasilkan oleh Perusahaan Batik Tulis Tradisional Batik Gunawan Setiawan. Selain memproduksi busana batik tulis, cap dan paduan cap serta tulis menjadi busana bagi wanita, pria,anak-anak dan beragam  produk turunan batik, di dalam rumah ini juga terdapat workshop sehingga proses pembuatan batik tulis dapat dilihat langsung oleh pengunjung.

Di dalam ruang  pertemuan di rumah batik itu sudah hadir  Dian Sari Gunawan, istri Gunawan Setiawan perajin batik tulis turun temurun yang juga tokoh masyarakat setempat sebagai salah satu pendiri Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman.

Ada pula pembina Pokdarwis Kampung Batik Kauman seperti Edi Warsito yang  menjadi motivator dan rajin  mengajak warga untuk selalu guyub serta menjaga kawasan itu sebagai kawasan industri batik sehingga kepentingan kelompok menjadi priorotas.

Hadir anggota lainnya antara lain Mohammad  Yuli, pengusaha kaos aplikasi, Mohammad Soim , penerus usaha keluarga generasi ketiga yang akhirnya memilih memiliki usaha sendiri yaitu kaos motif batik serta Wawan, seniman batik tulis di atas kaos.

Asyik juga mendengar cerita mereka agar kampung yang menjasi sentra batik ini tetap eksis. Apalagi usaha batik di kawasan ini juga mengalami pasang surut. periode tahun 1939-1970-an misalnya, usaha batik tulis mengalami kebangkrutan karena masuknya industri batik printing yang harganya lebih murah dan proses pembuatan lebih cepat. Sari mengatakan jumlah pengusaha yang bertahan malah tinggal dalam hitungan lima jari saja.

Para pengusaha batik lokal digempur habis-habisan hingga akhirnya banyak yang menyerah. Namun periode 1995-2000, industri ini mulai menggeliat bahkan saat Presiden Jokowi menjadi Walikota Solo pada 2006, kampung batik yang sekaligus menjadi training center bagi pekerja maupun pengusaha batik secara nasional ini menyelenggarakan Aksi 1000 Anak Membatik di Kampung Wisata  Batik Kauman dan berhasil memecahkan rekor MURI saat itu.

Jokowi juga mempelopori pembelian batik tulis dari Kampung Kauman untuk cindera mata bagi tamu-tamu kehormatan kota Solo sehingga industri batik benar-benar bangkit dan menjadi sentra batik di tengah kota yang mudah diakses. Hingga kini Presiden Jokowi masih mengenakan batik-batik tulis berbahan katun untuk tugas-tugas kenegaraannya baik di dalam maupun luar negri.

Kawasan Kampung Batik Kauman kini banyak melahirkan pengusaha baru yang kreatif  seperti Mohammad Yuli, misalnya, setahun setelah kampungnya dicanangkan sebagai sentra industri batik, lulusan sarjana hukum UNS ini memilih jadi pengusaha kaos  dengan aplikasi kain flannel, batik dan kreasi lainnya.

“Modal awal hanya Rp 1 juta kini bisnis ini sudah bisa menghidupi kami sekeluarga dan empat karyawan. Kalau permintaan tinggi, saya menggunakan 8 tenaga outsourcing untuk memenuhi pesanan. Selain punya toko sendiri, saya titip jual kaos di toko bersama milik paguyuban,dan rajin ikut pameran” kata bapak dua anak ini.

Usai berbincang-bincang, ditemani Supriadi saya melongok rumah yang menjual makanan tempo doeloe khas Solo tepat dimuka rumah batik itu. Perjalanan berlanjut ke gang-gang lain dan melongok toko batik milik supriadi dengan pewarnaan alam, cafe dengan furniture kuno di oulet batik dan suasana kampung lainnya.

Suasana Cafe di dalam toko batik yang kental dengan nuansa tempo doeloe dan pengunjung bisa rehat di tengah aktivitas berbelanja
Suasana Cafe di dalam toko batik yang kental dengan nuansa tempo doeloe dan pengunjung bisa rehat di tengah aktivitas berbelanja

Museum Batik

Sebagai tujuan wisata batik, kampung ini dilengkapi juga dengan Museum iBatik yang terletak di sebuah sudut kampung. Inilah salah satu upaya untuk melestarikan, atau merawat sebuah jeak panjang industri batik, agar tidak sepenuhnya hilang.

Begitu memasuki ruang museum, maka ratusan lembar kain batik berusia di atas 35 tahun bisa langsung terlihat. Begitu  juga bermacam peralatan membatik yang usianya tak kalah tua untuk menggambarkan kejayaan industri batik tempo dulu dipajang pula ratusan cap yang menandai produsen batik masa itu.

Di sini kita bisa melihat alat pres batik dari besi yang digunakan tahun 1940-an yang dipakai untuk merapikan batik yang akan dikemas dalam jumlah banyak. Tak kalah unik adalah alat giling batik dari besi masa 1920-an. Sejumlah alat stempel kuno pun dipamerkan.

Memasuki ruang utama, nuansa Jawa tempo dulu sungguh terasa. Lemari kayu berukir yang terlihat klasik menempati beberapa sudut ruang. Lembaran kain batik dalam berbagai motif ditaruh di dalamnya. Kain kuno juga dipamerkan di meja, kayu panjang, dan kayu terikat tali yang digantung di atap. Semuanya diberi label untuk menerangkan setiap motif kain batik itu.

“Proses membatik kan panjang jadi diharapkan masyarakat menjadi paham mengapa untuk membuat selembar kain bisa memakan waktu hingga tiga bulan. Di sini masyarakat dapat melihat dan mempelajari sejarah batik Kauman khususnya, dan batik Solo serta turunannya,” kata Dian Sari.

Alat produksi batik lainnya dapat ditemukan di lantai dua bangunan dan berbagai stempel motif untuk membuat batik cap ada di ruangan itu. Alat pres besar dari masa lalu, tetapi kali ini terbuat dari kayu, berdiri kokoh di dekat dinding.

Di tengah acara berkeliling kampung melihat proses produksi dan berburu batik, kunjungan ke museum ini akan memperkaya wawasan tentang sejarah batik di Solo, terutama batik Kauman. Apalagi, koleksi di museum ini merupakan milik warga Kampung Kauman yang sejak dahulu membuat batik

Tidak bisa dimungkiri kalau Solo sudah menjadi salah satu sentra industri batik di tanah air. Kota yang dikenal dengan wisata budaya Kesultanan Surakarta ini tidak lagi menjual keraton sebagai objek wisata utama, tetapi juga wisata belanja, khususnya kain batik dan wisata kuliner. Nah tidak salahkan pilihan berwisata ke Solo ? (hildasabri@yahoo.com)

 

LEAVE A REPLY