Memble, Penerapan Standardisasi Penerbangan Global di Indonesia

0
640

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: International Air Transport Association (IATA) kembali mendesak semua maskapai Tanah Air agar mengacu pada IATA Operational Safety Audit (IOSA). Hal ini dinilai penting untuk meningkatkan standar keselamatan penerbangan nasional yang berpatokan pada sistem evaluasi bertaraf internasional.

Pengamat transportasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Arista Atmadjati, mengatakan sejak lama pemerintah belum menentukan sikap mengenai penerapan standar IOSA bagi setiap maskapai di Indonesia. “Bisa dibilang memble karena selalu kalah cepat dengan perubahan dan syarat-syarat ketentuan airline dunia,” tuturnya seperti dilansir laman SH.co, Sabtu (14/3/2015).

Saat ini, sambung dia, hanya maskapai Garuda Indonesia yang terdaftar menerapkan standar IOSA. Padahal, terdapat sekira 17 airlines penerbangan berjadwal serta 45 maskapai chartered service di Indonesia. Artinya, hanya 1,6 persen maskapai Indonesia dari total maskapai yang terdaftar yang mengaplikasikan standar IOSA.

“Memang, kalau untuk rute domestik tidak terlalu diperlukan sekali. Namun, jika kita menerapkan standar IOSA secara konsisten dan menyeluruh, persepsi dunia internasional terhadap maskapai Indonesia semakin baik dan menjadi pilihan,” katanya.

Ia menegaskan, apalagi industri penerbangan di Tanah Air tengah disorot pascakecelakaan AirAsia di Pangkalan Bun serta penundaan penerbangan Lion Air yang menelantarkan banyak penumpang di sejumlah bandara pada bulan lalu.

Arista mengakui, saat ini pemenuhan syarat IOSA sangat berat. Hal ini karena setiap maskapai harus diaudit dengan berbagai item acuan menyangkut keselamatan, keamanan, dan tingkat pelayanan penerbangan. “Kalau untuk maskapai yang rutenya full domestic memang tidak urgen sekali.

Hal itu karena mereka wajib penuhi lisensi para staf, flops, pramugari, termasuk pilot, apakah valid atau tidak. Termasuk juga jadwal para staff operation. Lalu, pusdiklat maskapai juga kena audit, mulai back office, jadwal pemeliharaan pesawat, aktivitas kerja seluruh staf maskapai di bandara, hingga manajeman kantor pusat. Ada sekitar 250 item,” tuturnya.

Director General dan CEO IATA, Tony Tyler, mengungkapkan IOSA merupakan upaya kami dalam meningkatkan keselamatan penerbangan dunia. “Standar global ini menjadi kewajiban untuk dipenuhi 250 anggota IATA,” ucap Tyler.

Ditegaskan, pentingnya seluruh operator penerbangan di Indonesia untuk menjalankan standar IOSA lantaran tingkat keselamatan industri moda transportasi udara nasional saat ini dinilai masih kurang. Hal tersebut bisa dibuktikan dari penilaian Universal Safety Oversight Audit Program (USOAP) 2014, lansiran Internasional Civil Aviation Organization (ICAO).

Disebutkan penerbangan Indonesia masih di bawah rata-rata standar keselamatan global. Padahal, lalu lintas penerbangan udara Indonesia terbilang sibuk di mana mengangkut 86 juta penumpang pada tahun lalu. “Bahkan, Federation Aviation Administration (FAA) menurunkan peringkat Indonesia ke kategori dua pada International Aviation Safety Assessment (IASA). Indonesia setidaknya kehilangan satu pesawat per tahun sejak 2010,” ucapnya.

Ia mengklaim, dengan adanya IOSA, standar keselamatan penerbangan lebih terimprovisasi. Pada 2014, seluruh penerbangan yang menerapkan standar IOSA mengalami satu kecelakaan dari setiap 900.000 penerbangan. Sementara itu, penerbangan yang tidak menerapkan sistem audit tersebut, tercatat ada satu kecelakaan dari setiap 300.000 penerbangan.

Menurutnya, untuk menerapkan standar IOSA, maskapai Tanah Air tidak diwajibkan menjadi anggota IATA. Selain itu, untuk armada yang tidak dapat memenuhi persyaratan yang diwajibkan agar teregistrasi dalam sistem IOSA, IATA menyediakan sistem audit berbeda yang dinamakan IATA Standard Safety Assessment (ISSA) yang segera dirilis dalam tahun ini. “Misalnya, armada mereka berbobot di bawah 5.700 kilogram (kg) atau maskapai menerapkan model bisnis yang tidak sejalan dengan standar IOSA, kami menyediakan ISSA,” katanya.

Direktur Kelaikan dan Pengawasan Pesawat Udara Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Muzaffar, menyebutkan belum ada keputusan apakah pemerintah akan mengikuti rekomendasi IATA untuk memakai standar IOSA atau tidak.

“Saat ini kami masih merevisi standar keselamatan udara yang masih menggunakan standar CASR (Civil Aviation Safety Regulation) yang lebih rendah dibanding standar global. Bila sudah di-update, itu harus comply kalau itu sudah sejalan dengan ICAO (Organisasi Penerbangan Sipil Internasional),” tutur Muzaffar.

Dicontohkan, standar penerbangan Indonesia yang dinilai di bawah standar global adalah kelancaran berbahasa Inggris para penerbang. Padahal, menurutnya, seorang harus fasih berbahasa Inggris karena seluruh instruksi terbang dalam bahasa Inggris. “ICAO bilang level 4 standarnya, kita masih level 3. Kita revisi, seorang penerbang harus mampu level 4,” ucapnya. ****

LEAVE A REPLY