Membangun Kesadaran Akses Energi Lewat “Indonesia Women for Energy”

0
675
Jumpa pers Kopernik Luncurkan Indonesia Women for Energy di Jakarta, Kamis (12/11/15). Foto. evi

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Kopernik, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penyediaan produk-produk teknologi tepat guna yang ramah lingkungan untuk mempermudah akses energi dan peningkatan taraf hidup juga pengurangan kemiskinan di daerah terpencil di Indonesia, meluncurkan kampanye sosial “Indonesian Women For Energy”.

Kampanye ini mengajak masyarakat untuk bersama-sama menandatangani petisi yang bisa diakses di women4energy.kopernik.ngo untuk mendorong pemerintah mengakselerasi pemerataan energi di Indonesia dan lebih memperhatikan kaum perempuan sebagai subjek sekaligus solusi pemerataan energi.

Sejak tahun 2011, Kopernik telah bekerja sama dengan lebih dari 330 Ibu Inspirasi di berbagai lokasi di Indonesia, terutama Timor Barat dan Flores Timur di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Lombok Timur di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Program ini menunjukkan bahwa perempuan merupakan pemeran sekaligus solusi pemerataan energi di Indonesia. Hingga saat ini, melalui program Ibu Inspirasi, kaum perempuan di daerah terpencil telah berhasil menjual lebih dari 12,500 teknologi energi bersih, serta mengurangi emisi C02 hingga lebih dari 6,000 ton.
Ibu Inspirasi merupakan program yang memberdayakan para perempuan Indonesia untuk menjadi agen teknologi ramah lingkungan.

Berdasarkan data ESDM tahun 2014, rasio elektrifikasi listrik berkisar di antara 43% di Papua hingga 85% di Bali, dengan lebih dari 39 juta penduduk Indonesia masih hidup tanpa akses listrik, dimana banyak di antaranya masih mengandalkan lampu minyak tanah yang cenderung boros dan berdampak buruk bagi kesehatan.

“Pengalaman kami menunjukkan bahwa program pemberdayaan perempuan untuk memperluas akses energi dengan mendistribusikan teknologi bersih dan tepat guna terbukti mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujar Direktur Operasional Kopernik, Rino Sudibyo di Jakarta, Kamis (12/11/15).

Rino mengatakan, “Melalui kampanye ini, kami ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk melihat bahwa pemerataan akses energi merupakan pemerataan akses kesempatan dan upaya pemerataan energi juga dapat dilakukan oleh kaum perempuan di Indonesia”.

Hingga kini, menurutnya masih ada sekitar 100 juta penduduk Indonesia yang menggunakan tungku tradisional yang boros kayu bakar untuk memasak (World Bank 2014). Padahal, asap pembakaran dari tungku tradisional tersebut merupakan penyebab dari 165.000 kematian dini setiap tahunnya. Bahkan, lebih dari 50% tingkat kematian anak-anak di bawah usia 5 tahun dikarenakan penyakit paru-paru basah (pneumonia) akibat polusi udara di dalam rumah (WHO 2015).

“Dengan gangguan kesehatan, rendahnya produktivitas, dan kurangnya akses ke informasi dan pendidikan yang dialami oleh para perempuan di wilayah yang akses energinya masih rendah, semakin rendah pula kontribusi perempuan untuk pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut,” ungkapnya.

Sementara pada kesemparan yang sama, Ibu Inspirasi asal Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maria Nogo menjelaskan, “Karena menggunakan tungku tradisional yang boros kayu bakar, perempuan di daerah-daerah yang pernah saya kunjungi saat menjadi penyuluh KB banyak menghabiskan waktunya untuk mengumpulkan kayu bakar”.

Bagi mereka yang menggunakan lampu minyak saat mati lampu, menurutnya langit-langit rumah mereka menghitam. Anak-anak juga kasihan karena harus belajar dengan kondisi cahaya yang bergoyang-goyang, terlebih jika angin sedang kencang.

“Saya bersyukur karena sekarang mereka bisa menggunakan teknologi yang lebih murah dan sehat. Menjadi Ibu Inspirasi, selain bisa menabung, saya juga berkesempatan untuk memperkenalkan teknologi tersebut sehingga membantu orang di sekitar saya untuk hidup lebih baik,” ungkap perempuan yang biasa disapa Mama Mia ini.

Sementara Dasri dari Ibu Inspirasi asal Lombok Timur menambahkan, “Di bawah kaki Gunung Rinjani, dua hari sekali biasa mati lampu. Anak-anak tidak bisa belajar, langit-langit rumah menjadi hitan kena asap, namun sejak ada Kopernik kami bisa hidup lebih sehat”.

“Ketika mengunjungi masyarakat di daerah terpencil, saya melihat bagaimana kaum perempuan tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengembangkan diri akibat kemiskinan energi,” tambah Duta Kampanye Indonesia Women for Energy, Prisisa Nasution.

Prisia mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari kampanye ini dengan berpartisipasi dalam sejumlah kegiatan di media sosial resmi Kopernik, seperti selfie competition ataupun menyumbangkan ide kreatif untuk membantu pengalihan penggunaan energi ke sumber energi bersih.

Selain Prisia, dukungan terhadap kampanye ini juga datang dari sejumlah public figure lain seperti Maudy Koesnaedi, Farhan, Anya Dwinov, Farah Quinn, Mario Irwinsyah, David Chalik, Ligwina Hananto, Devy Zulyantin dan Olivia Fendry yang menjadi Sahabat Ibu Inspirasi dan mengajak masyarakat Indonesia untuk bersama-sama mengakhiri kemiskinan energi di Indonesia. (evi)

LEAVE A REPLY