Memasyarakatkan Fashion di Jalanan, Kenapa Tidak?

0
655

JAKARTA, BISNISWISATA.CO.ID: Kata siapa fashion selalu identik dengan peragaan busana di ruangan tertutup dan di atas catwalk yang teramat mewah, juga hanya dapat dinikmati kalangan atas?

Kerumunan orang yang berjalan di jalan raya Jakarta, Minggu (1/2), membantah kesan semacam itu. Orang-orang, tua-muda, lelaki-perempuan, dari berbagai kalangan masyarakat, tampil di jalan raya mengenakan pakaian tenun, kaus, batik, hingga selendang tradisi yang dililit menjadi syal, dililitkan di pinggang atau diikat di kepala, terlihat di jalan raya.

Para pesertanya terdiri atas berbagai latar belakang profesi, ada yang dikenal sebagai siswa-siswi sekolah mode, model, koreografer, komunitas, blogger hingga perancang mode dalam negeri.

Mereka bergerak dari Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata menuju Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. “Ini adalah acara gabungan dari berbagai komunitas. Kita harus merangkul banyak pihak, ada komunitas, pemerintahan, desainer, dan banyak lagi,” ujar Direktur Indonesia Fashion Week, Dina Midiani.

Kendati hujan, “Sunday Dress Up” yang digelar tahun ini tak membuat para pesertanya kehilangan semangat. Mereka berduyun tiba ke titik tujuan, yaitu Bundaran Hotel Indonesia.

Dalam acara ini tiap orang dapat berjalan dengan tata cara berpakaian yang menantang daya kreativitas. Ide penciptaan di publik terbuka dengan pakaian likal agar masyarakat mencintai produknya sendiri. “Ya, kita bergaya lokal tetapi tetap keren, terserah pakai apa saja, batik, sarung, itu semua tawaran lain di dunia mode. Masa kita hanya mengikuti tren yang ada di mal, bagaimana pun kita ini memiliki juga kekhasan,” tuturnya.

Bagaimana masyarakat melek mode, sekaligus semakin mencintai produk lokalnya. Selama ini kita masih terbawa pada produk dan brand terkenal dari mancanegara.

“Itulah inti kampanye kami. Kami punya misi agar masyarakat cinta produknya sendiri. Jadi, kita mengimbangi produk luar negeri ya, bukan menolaknya. Kita harus yakin dengan gaya kita, tampil unik dan mejeng. Jepang saja memiliki gaya fashion-nya yaitu Harajuku. Kita bahkan berharap acara ini dapat diduplikasi di kota-kota lain,” katanya.

Terhadap dunia fashion dan jalan raya ini, pada akhir 2014, pengamat mode dan pengajar di Institut Kesenian Jakarta, Tommy Christommy mengatakan, fenomena kota memang harus dibaca dalam dunia mode Indonesia.

“Pedestrian itu seharusnya ditonjolkan sebagai satu aspek dalam fashion. Trotoar bisa dipakai sebagai display fashion karena kota itu atraktif dan kompleks. Ada jalanan, perumahan, dan gedung-gedung. Dalam men-display itu, masyarakat akan menunjukkan nilai artistik dari cara mereka berpakaian,” tuturnya seeprti diunduh laman Sinarharapan,co, Senin (9/2/2015).

Di bawah tema besar “Urban Style”, acara “Sunday Dress Up” menjadi pra-event pelaksanaan Indonesia Fashion Week 2015 pada 26 Februari-1 Maret mendatang. Acara ini sudah kedua kalinya diadakan. “Sunday Dress Up” yang sebelumnya menghadirkan 2.000 peserta. ****

LEAVE A REPLY