Melongok Surga Tersembunyi Di Goa Pindul Dan Puncak Becici

0
375

Goa Pindul di dusun Gelaran 2, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo kab. GunungKidul banyak dikunjungi wisatawan setiap hari. ( foto: pindul.net)

JOGYAKARTA, bisniswisata.co.id:  Kumpul di meja makan saat makan pagi di hotel sambil bernostalgia soal nara sumber di era tahun 1985 an membuat hari ini kami lebih fleksibel menentukan jam keberangkatan ke Goa Pindul.

Maklum komunitas Ring Satu yang terdiri dari para senior journalist angkatan pertama Harian Bisnis Indonesia ini punya kenangan kolektif dari beragam nara sumber di lingkungan pemerintahan, partai politik hingga pengusaha yang setiap hari kami temui saat liputan.

Seperti biasa abang Emron Pangkapi yang lebih dulu menjadi politisi dari PPP dan menjadi pengusaha pariwisata punya banyak kenangan dan cerita yang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal di pagi hari.

Pada hari kedua wisata di Jogya ini rombongan komunitas Ring Satu menuju Goa Pindul dan hutan pinus Becici, salah satu lokasi yang diminati Presiden Amerika Serikat ke-44 Barack Obama yang terletak  di dusun Gelaran 2, Bejiharjo,Karangmojo, Gunungkidul, Jogya.

Kisah nostalgia hanya menyita waktu seperempat jam lebih alias membuat jadwal molor dari agenda semula untuk melongok obyek-obyek wisata baru di DIY. Yuli dan Rahmad Saleh memilih  tinggal di hotel untuk beristirahat.

Pasangan suami-istri itu  harus menghemat tenaga sebelum terbang ke Kuala Lumpur, Senin untuk ikut pameran. Sedangkan Turman Pangabean harus kembali ke Jakarta sehingga bis terasa lebih lengang.

Di perjalanan menuju Goa Pindul bis melewati pemandangan yang indah terutama di kawasan Bukit Bintang Patuk, Gunung Kidul, DIY. Sayang pemandangan kota Jogja di bawah sana tertutup banyaknya warung yang berderet disepanjang jalan.

Pesta durian di tepi jalan menuju Gn. Kidul, DIY

Di sebelah kiri nampak deretan pedagang durian yang langsung mencetuskan lomba makan durian sehingga bis akhirnya mangkal di depan pedagang durian. Alhamdulilah isi 10 buah duriannya tidak ada yang mengecewakan.

Setelah break selama 30 menit untuk pesta durian,  perjalanan di lanjutkan menuju Wonosari,  kecamatan yang sekaligus ibu kota Kabupaten Gunung Kidul yang menjadi lokasi Goa Pindul.

Goa ini memang mempunyai daya tarik keindahan dan keunikan tersendiri yang mungkin tidak ada di antara goa-goa wisata yang lain. Obyek wisata alam susur gua di bawah tanah ini memiliki aliran sungai di sepanjang lorong.

Saat week-end , goa ini  ramai dikunjungi wisatawan sebagai tempat wisata dengan kategori minat khusus di Jogja. Pengunjung yang datang selain membayar biaya masuk juga biaya menyusuri sungai sebesar Rp 50.000/orang.

Jam 11.00 kami tiba di depan kantor operator Wirawisata yang mengemas aktivitas pengunjung di Goa Pindul. Kedatangan kami bersamaan dengan tibanya serombongan wisatawan  yang baru kembali dari menyusuri goa.

Dari pembelian tiket wisata di operator Wirawisata, misalnya wisatawan mendapatkan fasilitas. peminjaman  jaket pelampung dan ban tubing. Sementara bagi mereka yang tidak ingin masuk goa maka di basecamp tempatnya nyaman dan luas, free wifi dan juga ada minuman hangat dari jahe yang tersedia gratis.

Ban besar (tubing) tersebut sudah di modifikasi atau diberi pengait berupa tali menyilang di tengah berfungsi sebagai tempat duduk di atas air yang mampu menahan berat badan lebih dari 100 kg sehingga tetap mengambang di permu-kaan air. Sementara jaket pelampung di pakai seperti rompi, dengan ukuran tertentu.

Untuk pelampung tersedia 3 jenis ukuran yang berbeda, yaitu ukuran kecil (untuk anak-anak), sedang/medium (all size untuk orang dewasa) serta ukuran  besar (jumbo), dapat dipilih dan sesuaikan dengan ukuran tubuh.

Retno Indarti dan Anna kali ini tidak bergabung turun ke goa sehingga rombongan hanya berjumlah 13 orang. Didampingi Badri dan Andi, pemandu dari Wirawisata, usai memakai pelampung rombongan langsung berfoto group di halaman berlatar belakang tulisan besar Wirawisata.

Persiapan menyusuri sungai di dalam goa Pindul ( foto-foto Nur Hidayat).

Menyusuri jalan setapak kami tiba di ‘bengkel’ ban tubing. Seorang petugas tengah memompa ban dan memeriksa setiap ban yang layak dan aman dipakai pengunjung. Tak sampai 50 meter kami sudah tiba di bibir goa dan menuruni tangga untuk mencapai pinggir sungai.

Pak Badri dan Andi memberikan informasi singkat yang harus kami lakukan sebelum, saat di goa dan setelah menyusuri sungai di bawah tanah itu. Usai berdoa kami bergabung dengan puluhan pengunjung lainnya yang ditangani operator lainnya.

“ Disini resminya yang menjadi operator  goa hanya 4  tapi yang ada 9 usaha sehingga lima operator lainnya menitipkan tamu pada ke empat operator resmi,” kata Badri yang akrab dipanggil si Mbah karena sudah punya tiga cucu.

Satu persatu kami merebahkan diri di atas ban besar dalam sungai lalu saling memegang tali di samping ban masing-masing sehingga membentuk barisan panjang di air. Di seberang kami,  serombongan anak sekolah berceloteh, bercanda dan ulahnya yang saling menyiram air membuat pemandu berkali-kali meminta mereka tenang.

Gua Pindul merupakan salah satu dari sekian banyak obyek wisata yang terletak di dusun Gelaran 2, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo kab. GunungKidul.
Tepatnya di sebelah timur kota Yogyakarta. Desa ini termasuk kategori “Desa Wisata” di GunungKidul Yogyakarta.

Sambil menarik ban, Badri bercerita soal ‘penghuni’ gua sebelumnya yaitu para burung walet. Tak lama masuk goa memang ada tangga besi di langit-langit untuk mengambil sarangnya yang punya nilai ekonomi tinggi. Tapi seiring banyaknya wisatawan yang datang maka burung-burung itu kini sudah pindah.

Asal usul nama

Asal usul nama Goa Pindul berasal dari kisah perjalanan Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan yang di utus oleh Panembahan Senopati Mataram untuk membunuh bayi laki-laki buah cinta Putri Panembahan Senopati.

Dalam perjalanannya, kedua abdi itu sepakat untuk tidak membunuh sang bayi. Keduanya lalu pergi kearah timur yaitu ke arah Gunungkidul. Sementara itu karena sang bayi terus menangis,kedua utusan itupun memutuskan untuk memandikan sang bayi.

Ki Juru Mertani naik ke salah satu bukit dan menginjak tanah di puncak bukit. Maka dengan kesaktiannya tanah yang diinjak pun runtuh dan mengangalah sebuah lubang besar dengan aliran air dibawahnya, kemudian sang bayi dimandikan di dalam goa di lubang tadi.

Saat dimandikan pipi sang bayi terbentur atau bahasa Jawanya  kebendul batu yang ada didalamnya. Karena peristiwa tersebut akhirnya goa itu dinamakan Goa Pindul (Pipi Kebendul).

Setelah  itu Goa Pindul menjadi tempat pertapaan keturunan Raja Mataram. Lekukan- lekukan dinding batunya menjadi tempat bertapa. Memperhatikan dinding dan langit-langit goa kata-kata yang meluncur penuh kekaguman.

Subhanallah, kekaguman pada dinding gua berstalaktit dan stalakmit ini membuat saya terdiam. Memandang langit-langit gua dengan tekstur batunya yang indah membuat saya makin paham mengapa dalam Alquran, kitab suci umat Islam banyak sekali ulasan tentang goa termasuk ditemukannya goa dan sungai di bawah laut.

Kini kami bisa menyusuri sungai di bawah tanah dan menikmati suasana gelap di dalamnya dengan terus bertakbir di dalam hati. Apalagi bebatuannya adalah jenis speleothem (mineral sekunder) yang menggantung dari langit-langit gua kapur dan air menetes.

Badri sang pemandu kemudian menunjuk sebuah batu yang mencuat dari bawah sungai dan menyuruh Emron untuk memeluknya  Maklum Goa Pindul juga mempunyai beberapa mitos karena bebatuannya  bisa membuat perkasa dan juga awet muda.

Mitos-mitos Gua Pindul ini seakan menjadi pelengkap keindahan surga tersembunyi ini. Mengapa saya juluki surga tersembunyi karena setiap kali menyusuri goa di berbagai tempat baik di tanah air maupun di mancanegara maka keindahan di bawah tanah ini membuat saya selalu tadabur alam, makin mengagumi kekuasaan Allah SWT.

Di dalam goa ini lebar antara dinding rata-rata 4 meter, ketinggian dari permukaan air dengan dinding atas sekitar 5 meter dan kedalaman air sungai sekitar 1-12 meter. Namun ada salah satu zona sempit yang hanya dapat di lewati dengan 1 ban/tubing saja.

Hal inilah yang menjadi dasar mengapa penyusuran Goa Pindul hanya menggunakan ban, bukan sampan atau perahu karet. Tidak ada batasan usia atau jumlah minimum peserta untuk menyusuri Gua ini, karena sangat aman untuk segala usia.

Keindahan semakin lengkap dengan adanya ornamen di sepanjang dinding goa seperti mahakarya lukisan abstrak yang membuat kagum para pengunjung. Di tengah petualangan ini Badri juga sibuk mengarahkan senter agar kami memahami komunitas ‘penghuni’goa lainnya dilangit-langit.

Setelah melewati zona gelap dan sempit, zona lainnya yang dilewati adalah zona kelelawar yang terpanjang di Goa Pindul karena banyak kelelawar kerdil yang tinggal di sini.

Kelelawar di Goa Pindul ini cukup jinak dan tidak akan pernah menyerang manusia. Kelelawar jenis ini adalah pemakan serangga atau nyamuk,  biasa disebut kampret.

Tuh lihat kalau yang menggantung bergerombol itu oleh kami disebut kampret karena berpoligami. Satu kampret pria tidur bersama empat kampret wanita makanya mereka bergantungan dengan bergerombol. Kalau yang masih jomblo ( sendiri) menggantungnya juga sendirian” kata Badri.

Di langit-langit gua,  bekas kotoran para kelelawar itu juga meninggalkan bekas dengan membuat guratan-guratan bentuk yang indah. Buat saya semua yang dilihat indah bahkan mata kelelawar yang bergelantungan bagaikan kristal  menyala menghiasi lorong goa dan suara tetesan air yang jatuh ke sungai juga terasa merdu.

Menyusuri sungai di bawah tanah ( foto: Nur Hidayat)

Daya dukung

Ketika sebuah obyek wisata banyak dikunjungi wisatawan maka pengelola perlu memperhatikan daya dukung alam karena sebenarnya jumlah pengunjung yang pagi itu menyusur sungai sudah terlalu banyak.

Para operator seharusnya membatasi jarak dan  jumlah pengunjung saat berada di dalam goa sehingga bagi mereka yang ingin benar-benar menikmati petualangan tidak terganggu suara berisik rombongan lain.

Saat menyusuri Goa Pindul, pengunjung bisa melihat sebuah stalaktit yang menyatu dengan stalagmit sehingga tampak seperti sebuah pilar besar. Keahlian dan pengetahuan pemandu sangat besar untuk berbagi infornasi dengan pengunjung yang umumnya wisatawan nusantaea dari berbagai daerah.

Sebab itu adalah Stalaktit terbesar di Goa Pindul dan peringkat empat terbesar di dunia yang usianya mencapai ribuan tahun. Butuh lima orang untuk bisa memeluk stalaktit ini. Penduduk setempat menyebut batu Sstalagtit sepanjang 7 meteran  ini sebagai Soko Guru atau tiang penyangga kedua bukit yang berada di atas Goa Pindul.

Aliran sungai yang tenang menjadikan siapa pun beraktifitas dengan aman, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Waktu terbaik untuk menyusuri goa ini adalah pukul 09.00-10.00 karena air sungai tidak terlalu dingin.

Wisata Goa Pindul dikelola warga setempat sejak beroperasi tahun 2010. Dengan inisiatif tujuh orang. Wisata Goa Pindul akhirnya menjadi kebanggaan warga Gunung Kidul.  Wisatawan nusantara yang datang bisa mencapai 3000 orang oer hari dan diakhir  jumlahnya bisa dua kali lipat.

“Wisatawan mancanegara  banyak datang di bulan Juli-Agustus terutama dari Eropa seperti Perancis suka menikmati keindahan alam,” kata Badri.

Sejak tahun 2010 silam obyek Wisata ini mulai dikembangkan oleh masyarakat sekitar. Goa Pindul memiliki panjang kurang lebih 350 meter, penyusuran dapat ditempuh dengan waktu normal 40-60 menit. Durasi waktu tergantung situasi, kondisi dan keinginan pengunjung sendiri.

Menjelang akhir petualangan dalam goa, saya menyaksikan lagi batu tirai yang saya lihat diawal petualangan. Sesuai namanya, batu  tirai ini adalah salah  batu yang bentuknya unik berjuntai ke bawah dengan lekukan mirip tirai ( korden).

Mengakhiri perjalanan,  Badri menawarkan kami untuk berenang atau tetap naik ban lagi sampai finish. Tempat finish Goa Pindul mempunyai nama sendiri, warga sekitar menyebutnya dengan nama Banyu Moto atau Mata Air.

Kejahilan Emron Pangkapi yang memilih turun dari ban adalah menggoda teman-temannya dan menjungkirbalikan ban-ban lainnya sehingga sesi main air memang tidak terelakkan mengundang gelak tawa dan membuat saya lupa umur.

Setelah berjalan keluar, wisatawan akan di jemput dengan alat transportasi unik yang bernama Pajero Pindul, berupa pickup terbuka dan diantarkan kembali ke basecamp Wirawisata. Rombongan kami mengakhiri sesi Pindul dengan sibuk berfoto di atas mobil yang di Jakarta jadi alat transportasi mengangkut sayur mayur di Pasar Induk.

Puncak Becici

Menikmati panorama indah di Puncak Becici, DIY. ( foto: Nur Hidayat)

Keluar dari kawasan Pindul, bis menuju restoran Nila Sari yang menyediakan makanan tradisional dengan sistem buffet sehingga perut yang keroncongan usai berendam lama di air teratasi.

Resto ini lengkap pula dengan mushola sehingga anggota rombongan bisa menunaikan kewajiban beribadah. Ruang yang luas dan lengang membuat usai makan kami masih bisa minum kopi dan mencicipi minuman tradisional lainnya seperti air jahe dan beras kencur.

Meninggalkan resto dengan perut kenyang dan mata yang mengantuk, perjalanan dilanjutkan ke  Puncak Becici, kawasan hutan pinus yang Juni lalu sempat dikunjungi mantan Presiden Amerika Serikat Barack Husein Obama saat berlibur bersama kekuarga.

Puncak Becici berada di Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul atau 50 Km dari pusat kota Yogyakarta. Untuk menuju ke sana, wisatawan bisa melewati jalur Yogyakarta-Wonosari. Namun, pastikan kendaraan prima. Karena jalan yang harus dilalui naik turun dan berkelok.

Untunglah tak lama kemudian sudah tiba dilokasi sehingga tidak sempat tertidur. Setelah melewati deretan warung, bis berbelok ke kanan dan mendapat parkir tak jauh dari pintu gerbang dari kayu. Banyak wisatawan bergerombol untuk foto group di depan gerbang itu.

Banyak jeep disewakan untuk mengelilingi area ini. Maklum Puncak Becici memiliki hutan pinus seluas 4,4 hektar dengan hawa yang sejuk. Pada sore hari, pengunjung bisa menikmati sunset. Dari sini pula, pengunjung bisa melihat kecantikan Candi Prambanan bagian utara serta indahnya pantai selatan.

“Sore hari waktu paling bagus jika ingin menikmati panorama hutan pinus yang dikenal dengan nama Hutan Sudimoro atau Becici Asri. Hutan lindung ini dikelola oleh RPH Mangunan,” kata Andi, supir bis kami.

Tanaman pinus yang ada di hutan ini diambil getahnya untuk dijadikan terpentin. Namun karena memiliki panorama yang elok di puncaknya, maka orang-orang berbondong-bondong datang ke Puncak Becici.

Akhirnya Puncak Becici dikelola oleh warga setempat dan dijadikan salah satu destinasi wisata baru. Berada di kawasan hutan ini menyenangkan dan memanjakan mata. Desiran angin yang menggoyangkan ranting-ranting pohon membuat kaki tak merasa lelah.

Apalagi kami menjumpai kursi-kursi panjang dari kayu yang bisa digunakan beristirahat, maklum sebagian besar peserta sudah menjadi warga senior. Foto group banyak dilakukan sambil duduk.

Akhirnya Retno Indarti yang belum lama ini juga datang ke Puncak Becici bersama komunitas teman SMA langsung turun tangan menjadi penata gaya dan memilih spot dengan latar belakang pemandangan indah.

“ Ayo jangan duduk tapi menyebar tiap orang berdiri di satu pohon dan bergaya,” terdengar instruksi dari  Retno Indarti yang akrab dipanggil Iin.

Saat sibuk berfoto, jumlah pengunjung yang baru datang makin banyak. Entah apakah mereka datang karena terprovokasi kunjungan Obama bersama keluarga seperti yang terjadi pada kami meski Obama hanya berkunjung selama 15 menit.

Tahun 2015 saat berkunjung ke Nami Island, Korea yang menjadi tempat syuting drama seri  Korea Winter Sonata saya banyak bertemu wisatawan Indonesia terutama dari Surabaya yang terpikat datang karena film itu.

Pulau buatan di Chuncheon, Korea Selatan itu kian populer sejak menjadi lokasi syuting Winter Sonata pada 2002. Lokasinya 63 km dari Seoul, dan dapat dicapai dengan berkendara sekitar 1,5 jam. Kemudian dilanjut naik kapal 5 menit menuju dermaga di Nami Island.

Panorama indah

Sejauh mata memandang terlihat deretan pepohonan hijau yang tumbuh rapat-rapat dari ketinggian dengan latar belakang Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Tidak hanya itu, jika cuaca sedang cerah kita akan melihat goresan air yang memanjang lurus, itulah garis Pantai Selatan. Dari kejauhan pengunjung jug bisa melihat Candi Prambanan pada bagian utara.

Lokasi yang dikelola sekitar 40 warga sekitar sejak tahun 2015 ini awalnya merupakan hutan pinus yang disadap getahnya. Setelah dikelola sebagai lokasi wisata akhir 2015 sudah tidak disadap. Pengunjung cukup membayar Rp 2500/ orang dengan rata-rata kunjungan hari biasa sekitar 1000 orang dan untuk hari libur bisa dua tiga kali lipat.

Melihat pose kekinian yang dilakukan pengunjung generasi NOW memanjat tangga untuk mencapai spot foto berbentuk sarang burung, sayapun antri naik.

Tak disangka ketika sampai diatas justru teman-teman bukannya memotret tapi berteriak: “ Andung hati- hati, jangan maju-maju lagi, aduh pegangan dong,” teriak Rizal Kumeang, Refri, Imam Bahtera dan teman-teman lainnya. Maklum yang naik neneknya Sarah Anjani, cucu saya yang berumur 2, 5 tahun.

Mengingat malam hari akan merayakan ulang tahun Rosyani di tempat karaoke Inul Daratista maka setelah saya berfoto di spot sarang burung diikuti Abdullah Alamhudi, Anna dan Rosyani,  rombongan akhirnya beranjak menuruni bukit menuju bis.

Banyak spot lain intuk berfoto ria tapi terpaksa harus dilewati seperti  spot gardu pandang, tempat terbaik menikmati senja dari ketinggian. 

Sambil berjalan pulang saya bersyukur diberi kesempatan melihat ‘surga-surga’ tersembunyi yang kini bisa dinikmati secara kasat mata maupun mata batin. Subhanallah, walhamdulilah, wallahu akbar….

 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.