Melasti, Tawur, Pengrupukan

0
725

MANGUPURA, test.test.bisniswisata.co.id,– SEBELUM melaksanakan Nyepi, umat Hindu baik di Bali mau pun didaerah lain di Indonesia menyelenggarakan beberapa rangkaian upacara, yaitu Melis, Tawur (mecaru) dan Pengerupukan. Upacara Melasti juga disebut Melis, Mekiyis dilaksanakan tiga atau dua hari sebelum Nyepi. Hari itu, sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.

Umat Hindu di Batam Melis di Danau Sei- Ledi
Umat Hindu di Batam Melis di Danau Sei- Ledi

Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada “tilem sasih kesanga” (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar).
Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

Tawur Kesanga
Tawur Kesanga

Di Bali Tawur Kesanga tahun 2016 tingkat propinsi dilaksanakan di Pura Besakih, ditingkat kabupaten dan kota dilaksanakan di masing- masing daerah. Sementara di daerah Jawa tengah dan DI Jogyakarta dilaksanakan di pelataran Candi Prambanan, melibatkan sekitar 20 ribu umat Hindu di wilayah Jateng dan DI Jogyakarta, dihadiri Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, didampingi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
“Sebelumnya, ada upacara pengambilan tirta suci di sekitar wilayah Solo Raya,” kata Suparman, Wakil Ketua Panitia Peringatan Hari Raya Nyepi 1938. Suparman menambahkan, ada beberapa tempat mengambil air suci, yakni Klaten, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, dan Karanganyar. Pengambilan tirta  dilakukan saat upacara Melasti.

Melasti umat Hindu Tengger
Melasti umat Hindu Tengger

Saat menghadiri Tawur Kesanga Nyepi Caka 1938 yang bertema “ Keberagaman Perekat Persatuan”, Gubernur Ganjar Pranowo menegaskan, orang Indonesia diciptakan dalam keberagaman. Karena itu, kebhinekaan adalah rahmat. “Jangan kita hanya rumangsa bisa, tapi bisa-a rumangsa,” tuturnya.

Pawai Ogoh- ogoh

Usai pelaksanaan Tawur diikuti oleh upacara pengerupukan, dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.
Pengerupukan dengan pawai ogoh- ogoh di Jogyakarta tahun in diikuti 23 ogoh-ogoh melintas di sepanjang Jalan Malioboro hingga Alun-Alun Utara Yogyakarta.

Gunungan melengkapi pawai ogoh- ogoh
Gunungan melengkapi pawai ogoh- ogoh

“Ada panggung utama di Titik Nol Kilometer,” kata Ketua Panitia Nyepi Tahun Saka 1938 DIY I Wayan Ordiyasa di Yogyakarta. Sebanyak 23 ogoh-ogoh yang ditampilkan dalam pawai tahun ini memiliki beragam bentuk dan wujud namun akan didominasi bentuk raksasa atau “buto” dan hewan serta tumbuhan. Juga ditampilkan dua gunungan, bregodo prajurit keraton, serta drum band dari Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta. Pawai ogoh-ogoh juga dilakukan di Kabupaten Sleman yaitu dari simpang empat Selokan Mataram hingga batas Hotel Tentrem. (dwi/i:bisniswisata.co@gmail.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.