MEA, Bukan Ancaman Penguatan Segmentasi Produk dan Pasar

0
706
Direktur Perancangan Destinasi dan Investasi Pariwisata, memaparkan hal MEA di Rakerda I Asita Bali

KUTA, test.test.bisniswisata.co.id – Berlakunya MEA memberikan dorongan peningkatan kualitas konsolidasi antar stake holder kepariwisataan di kawasan ASEAN. ‘’Bukan ancaman, tetapi menumbuhkan kesadaran berusaha sesuai standar. Standar yang berlaku sejajar dengan semua pihak, ‘’ demikian dijelaskan Direktur Perancangan Destinasi dan Investasi Pariwisata, Kementerian Pariwisata RI, Frans Teguh dihadapan peserta Rakerda I Asita Bali di Kuta, hari ini.

Ironisnya, code conduct – standar akreditasi, sertifikasi SDM, usaha dan produk – yang disepakati antar Negara ASEAN, justru tidak ditindaklanjuti secara teknis di Indonesia. ‘’ Serupa dengan implementasi kode etik kepariwisataan dunia. Lembaga pendidikan kepariwisataan di Indonesia sampai saat ini belum mempertimbangkan hal sertifikasi kompetensi kepariwisataan. Dilain sisi, tidak semua stake holder kepariwisataan merasa ‘’pentingnya’’ standarisasi, sertifikasi dan kompetensi tersebut’’, lanjut Frans.

Kalau pun beberapa hari terakhir issue sertifikasi naik daun, energy masih berkutat pada sertifikasi SDM. Belum pada dimensi usaha dan produk, bahkan meminta MEA ditunda pelaksanaannya, jelas Ketua Asita Bali, Ketut Ardana menambahkan. Asita untuk kepentingan anggota segera membentuk LSU dengan sejumlah program pelatihan pendukung.

Kesepakatan pasar tunggal ASEAN bermula dari pelaksanaan KTT ASEAN ke-9 tahun 2003 di Bali. Para pemimpin ASEAN telah menyepakati BALI CONCORD II yang memuat 3 (tiga) pilar untuk mencapai ASEAN Vision 2020 yaitu ekonomi, sosial budaya dan politik keamanan. Terkait dengan ekonomi, diwujudkan dalam bentuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

MEA merupakan komitmen bersama untuk menjadikan ASEAN sebagai: i) pasar tunggal dan basis produksi; ii) kawasan berdaya saing tinggi; iii) kawasan dengan npembangunan ekonomi yang merata; dan iv) integrasi ke dalam perekonomian dunia. Pada tahun 2007, Para Pemimpin Negara ASEAN menyepakati melakukan percepatan implementasi MEA dari tahun 2020 menjadi tahun 2015. Untuk mewujudkan MEA 2015, dirumuskan AEC Blueprint, yang memuat langkah-langkah strategis yang harus diambil setiap Negara Anggota ASEAN mulai tahun 2008 sampai dengan tahun 2015.

Segmented

Perihal target kunjungan sebesar 20 juta wisatawan mancanagera dalam lima tahun ke depan. Frans mengingatkan, pencapaian target tersebut tidak sepenuhnya menjadi tanggungjawab Kementerian Pariwisata tetapi menjadi pekerjaan bersama sejumlah departemen. Diingatkan bahwa konsep pembangunan Indonesia dalam pemerintahan Presiden Jokowi berada dalam satu payung Indonesian incorporated.

Terkait target tersebut, baik Ketua DPD Asita Bali, Ketut Ardana dan Penasehat DPD Asita Bagus Sudibya meminta pemerintah dan stake holder kepariwisataan di Indonesia mampu memetakan produk wisatanya disesuaikan dengan kualitas pasar yang didatangkan. Dengan adanya code conduct MEA akan terjadi segmentasi pasar, dan produk, sehingga destinasi berkualitas mendapat pasar yang berkualitas, segmented, tegas Frans Teguh mengingatkan.

Perihal potensi pasar, kunjungan wisatawan ke ASEAN pada tahun 2012 mencapai 89 juta orang, itu terdiri dari 40 juta wisatawan Intra ASEAN dan 49 juta wisatawan Extra-ASEAN. Indonesia berada di peringkat ke-4 (menerima total 8 juta wisatawan) setelah Malaysia, Thailand dan Singapura. Di tahun 2013; jumlah wisatawan yang berkunjung ke ASEAN sebesar 93.068 juta naik 10.5% dari tahun sebelumnya serta menghasilkan devisa sebesar 358.923 juta Dollar. Indonesia pada peringkat ke-3 dengan 8.8 juta (9.4%) kunjungan serta nilai devisa 9.337 juta dollar. (bisniswisata.co@gmail.com)

LEAVE A REPLY