Masyarakat makin paham manfaat ekowisata mangrove Wonorejo

0
2343
DJoko Suwondo (kanan) bersama pengunjung

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id; Wisatawan dari dalam maupun luar negri menyukai ekowisata mangrove Wonorejo dan makin memahami fungsi hutan mangrove di kawasan pantai Timur Surabaya ini, kata Djoko Suwondo, Ketua pengelola hutan itu, hari ini.

Kawasan konservasi hutan mangrove seluas 800 hektar itu sejak tahun 2008 tidak hanya gencar ditanami pohon bakau oleh berbagai organisasi, perusahaan, dan masyarakat, tetapi wilayah itu juga menjadi tempat wisata sambil belajar tentang lingkungan.

“Tiap hari terutama week-end selalu saja ada kegiatan dari perusahaan, organisiasi, pelajar maupun mahasiswa yang datang ke kawasan hutan ini. Setelah membuktikan sendiri bagaimana keadaan hutan mangrove Wonorejo ini, mereka baru percaya dan kagum bahwa hutan mangrove ini benar-benar masih alami,” kata Djoko Suwondo mengawali pembicaraan.

Belum lama pihaknya mendapat kunjungan wisatawan dari Korea yang takjub bahwa di Surabaya ada paket wisata ekowisata Mangrove Wonorejo dan mereka memuji kondisi alamnya yang memang masih alami karena pengelola memang tidak banyak melakukan perombakan sehingga keaslian lingkungan justru menjadi daya tariknya.

Djoko Suwondo menambahkan Walikota Surabaya, Tri Risma Maharani beserta Kombes Pol Setija Junianta, Kapolres Tabes Surabaya pada 6 Oktober lalu juga meresmikan kapal terbaru yang di miliki oleh pengelola, yaitu kapal Jaya Samudra yang telah di lengkapi dengan sistem GPSdan keselamatan Kapal berserta kenyaman di dalam kapal tersedia TV, Tempat tidur, toilet, AC, Home Teater dan ruang santai.

Wisatawan Korea
Wisatawan Korea

Bersamaan dengan itu di resmikan pula Gazebo Korem 084 oleh Komandan Korem Wisnoe P. B colonel Infantri . Gazebo tersebut adalah Gazebo ke empat di lokasi wisata yang telah di berikan kepada ekowisata mangrove wonorejo, yang bertujuan untuk menunjang kenyamanan pengunjung Wisata, tambahnya.

Wisatawan yang berkunjung diajak menyusuri sungai sampai ke muara untuk melihat keindahan mangrove yang eksotik berikut flora dan fauna tersebut. Setelah berkeliling menikmati pemandangan, wisatawan bisa beristirahat di gazebo yang menghadap pantai.

Di titik ini, wisatawan akan dijamu dengan kuliner khas Wonorejo yaitu minuman buah kelapa muda dilengkapi dengan menu makanan Bandeng Bakar Lempung lengkap dengan sambel kacang kecap, Bandeng Sumpit(boneless) dan kare kepiting.

Keberadaan hutan mangrove menjadi habitat bagi 148 jenis burung, termasuk puluhan burung migran dan burung yang dilindungi, seperti Bubut Jawa, Raja udang, Kuntul, Pecuk ular, Gajahan, Trinil dan jenis lainnya. Selain itu, pengunjung juga bisa menjumpai kera ekor panjang yang masih sesekali tampak di sela-sela rerimbunan pohon,

DJoko menjelaskan bahwa pengembangan ekowisata mangrove ini sangat efektif dalam menggugah kesadaran masyarakat menghadapi perubahan iklim. Mereka telah merasakan sendiri fenomena alam yang di luar kebiasaan terutama pergantian musim yang tidak pada waktunya.

“Bulan Oktober yang seharusnya sudah turun hujan tapi ternyata cuaca justru sangat panas. Sebaliknya di musim hujan pada tahun 2011 sepanjang tahun banjir terjadi di mana-mana dan semua itu terjadi karena faktor alam dan tidak lepas karenakan faktor manusia. Sekecil apapun yang kita lakukan seperti membuang sampah sembarangan dan menebang pohon tanpa peduli akan menimbulkan longsor dan banjir dimana-mana,” ungkapnya..

Berangkat dari hal-hal tersebut, pihaknya sebagai ketua pengelola Ekowisata Mangrove Wonorejo untuk mengajak anak-anak muda usia sekolah dan dan masyarakat yang peduli pada umumnya, untuk bersama-sama sadar akan pentinganya keseimbangan ekosistem alam, dalam hal ini akan peduli akan hutan Mangrove.

“Hutan ini satu-satunya hutan yang tersisa di Surabaya, itu mungkin jawaban sederhana yang dapat kami berikan. Sekarang setelah masyarakat maupun wisatawan dalam dan luar negri melihat langsung mereka tergugah untuk menjaga alam dan bersikap peduli. Pada saatnya nanti mereka akan mengajak serta orang-orang terdekat mereka terlebih dulu yang selanjutnya di harapkan kepedulian mereka akan di tularkan kepada masyarakat lebih luas,” jelas Djoko Suwondo.

salah satu Gazebo untuk wisatawan bersantai dan menikmati kuliner
salah satu Gazebo untuk wisatawan bersantai dan menikmati kuliner

Sarana berwisata sambil belajar di kawasan mangrove itu sudah memadai, hanya perlu dilengkapi pemandu yang andal. Keberadaan pemandu wisata yang paham tentang seluk-beluk hutan bakau beserta isinya sangat penting. Wisatawan bisa mendapat penjelasan selama perjalanan dari dermaga ke gazebo.

Kawasan hutan juga perlu dibersihkan dari sampah yang sangat mengganggu pemandangan, terutama ketika air laut surut. Pengelola harus mempersiapkan tempat sampah di beberapa lokasi strategis agar pengunjung tidak membuang sampah sembarangan.

Djojo mengaku bahagia dengan kemajuan kawasan ekowisata mangrove Wonorejo yang dikelolanya ini karena menjadi satu diantara dua kawasan mangrove di Indonesia yang dijadikan percontohan dalam proyek Mangrove Ecosystem Conservation and Sustainable Use (MECS). Proyek tersebut merupakan hasil kerjasama antara Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI dengan Japan International Cooperation.

aktivitas memancing ikan bandeng
aktivitas memancing ikan bandeng

Sebagai sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat, pihanya ingin ikut memberikan sumbangsih pengetahuan kepada masyarakat akan pentingnya kesadaran dalam menjaga keseimbangan ekosistem alam. Caranya dengan membagi pengetahuan dan wawasan kepda masyarakat tentang peran hitan mangrove terhadap keseimbangan ekosistem.

Misinya memberikan edukasi secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat pada umumnya, terutama pada anak-anak usia sekolah. Pasalnya sebelum tahun 2008, kawasan ini menjadi tempat pembalakan sehingga hutan bakau nyaris punah. Aktivitas pembalakan kini melanda hutan mangrove di Kali Saridamen, Kejawan Putih Tambak, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya. Sekitar 100.000 pohon bakau di areal seluas 10.000 hektar di Mulyorejo ditebang secara ilegal.

“Membuka cara pandang baru tentang mangrove dan keberadaan satwa di dalamnya dalam hubunganya dengan kehidupan manusia terus kami sampaikan. Semakin banyak komponen masyaralat terutama dari akademisi yang peduli lingkungan khususnya mangrove. Maka semakin berdampak positif untuk pelestarian lingkungan khususnya demi generasi mendatang,”tegasnya. (hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY