Mandra: Budaya Betawi Kurang Perhatian Pemerintah

0
1036

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: SENIMAN Betawi, Mandra Naih prihatin dengan kebudayaan Betawi yang semakin pudar. Untuk mengembalikan kegairahan budaya Betawi, tak bisa lepas dari dukungan pemerintah daerah.

“Terkikisnya budaya Betawi terjadi sejak 1990-an. Saat itu banyak kebudayaan Betawi yang mulai tercampur dengan budaya lain. Saya prihatin karena budaya Betawi sangat tidak ada perhatian, bukan hanya SDM, tapi juga kurangnya peran pemerintah,” ucap Mandra dalam diskusi “Tantangan Budaya Betawi” di Jakarta Ahad (06/03/2016).

Saat ini budaya Betawi, menurut Mandra, menjadi tamu di daerahnya sendiri. Padahal zaman dulu saat ada acara, biasanya disajikan kesenian Betawi. Namun kini budaya Betawi justru semakin kendur. Dalam acara-acara budaya Betawi, biasanya yang diterapkan hanyalah cangkangnya, seperti penggunaan pakaian Betawi dan ondel-ondel.

“Dulu seniman Betawi suka manggung dari hotel ke hotel. Setiap pejabat yang datang disambut dengan kesenian. Kalau sekarang, paling pakaian saja sama disambut ondel-ondel,” lontar pemeran sinetron Si Doel Anak Sekolahan.

Menurut Mandra, peran serta pemerintah dalam mengembangkan seni dan budaya merupakan kewajiban. Apalagi pemerintah sebenarnya memiliki anggaran yang disalurkan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. “Siapa pun yang menjadi kepala daerah Jakarta, kalau dia peduli, budaya Betawi jangan cuma dijadiin bak sampah.”

Pemerintah seharusnya memberi ruang kebudayaan untuk berkembang. Salah satunya dengan memberi kesempatan tampil di depan umum. Misalnya untuk menyambut tamu, baik dari lokal dan mancanegara, sehingga bisa dikenal. Dengan diberikan kesempatan seperti ini, diharapkan kesenian dan budaya Betawi tidak punah.

Mandra menambahkan kebudayaan Betawi saat ini sudah mulai terkikis lambat tahun kultur asing, dan hanya tinggal kenangan. “Sangat terasa tahun-tahun ini bahwa budaya dan bahasa ke depan saat ini tinggal kenangan. Seni maupun budaya ke depan tinggal kenangan,” kata seniman Betawi.

Saat ini hanya ondel-ondel saja yang masih ada di DKI Jakarta. Namun, bukan keseniannya yang dilestarikan melainkan hanya dijadikan pajangan.

Dia juga menyayangkan, banyak pihak yang mengaku-aku paham budaya Betawi padahal mereka tidak paham. “Rasa prihatin saja, pengetahuan tentang budaya Betawi sangat minim. Namun banyak orang yang pura-pura paham,” tukasnya. Menyedihkan memang. (*/e)

LEAVE A REPLY