Malioboro Bebas PKL, Wisatawan Kebinggungan

0
79
Jalan Malioboro Yogya

YOGYAKARTA, Bisniswisata.co.id: Kawasan Malioboro di Pusat Kota Yogyakarta, Selasa pagi berubah total. Bahkan suasananya berbeda jauh dibandingkan dengan hari biasa. Sejumlah wisatawan pun kebingungan atas perubahan yang terjadi. Pedestrian sisi barat Malioboro tampak lengang.

Biasanya, trotoar dipenuhi dengan lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL). Tak tampak kayu dan barang-barang jualan. Becak dan andong juga tak terlihat lagi ngetem. Jalanan kecil tempat andong dan becak biasa berlalu tampak kosong.

Bahkan ;orong-lorong pedestrian mulai Stasiun Tugu hingga titik nol kilometer, yang biasanya dipenuhi pedagang kaki lima hari ini tampak lengang. Para pedagang di Selasa Wage ini sepakat untuk tak berjualan hingga tengah malam nanti.

Dengan suasana berbeda itu, Wisatawan dan warga dapat berjalan kaki menikmati kawasan ini sambil di jalanan kecil sisi barat pedestrian. Sesekali, beberapa warga mengabadikan situasi unik yang baru terasa di Malioboro. Sementara sisi timur, gerobak angkringan ataupun gerobak soto yang biasa terparkir di pedestrian tak terlihat.

Beberapa warga malah tampak membersihkan jalur pejalan kaki. Mereka menyikat lantai dengan sabun berwarna putih. Beberapa pegawai toko-toko di Malioboro turut membersihkan selasar tempatnya berjualan.

Sebagian terlihat mengelap kaca jendela toko. Apa pula yang menyapu halaman dan atap dari tumpukan daun-daun kering. Hari ini Malioboro benar-benar bebas dari PKL. Pedestrian diistarahatkan dari angkringan, lesehan dan PKL untuk dibersihkan.

Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, menyebut kegiatan perdana kali dilakukan di Yogyakarta. Tujuannya untuk memberi kesempatan wisatawan menikmati kawasan legendaris ini dengan lebih leluasa dan nyaman.

“Kami mau memberi kesempatan masyarakat melihat suasana Malioboro yang asli, tanpa pedagang. Masyarakat dan wisatawan bisa mendapatkan sensasi menyatu dengan alam, lingkungan dan budaya di sini,” tutur Heroe saat mengunjungi pedestrian Malioboro, Selasa (26/09/2017).

Namun ia menegaskan kegiatan ini bukan dalam rangka untuk melarang dan menyingkirkan PKL dari Malioboro. Sebab PKL tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Malioboro. Rencananya kegiatan Malioboro bebas PKL seharian ini akan terus digelar pada Selasa Wage atau setiap 35 hari sekali.

“Tiap bulan temanya beda-beda. Bulan ini temanya resik Malioboro. Maka kami mengajak pedagang, toko jualan, komunitas dan warga untuk bersih-bersih kawasan Malioboro. Bulan depan bisa saja temanya soal budaya atau seni,” katanya.

Yang dapat pengecualian tetap buka dalam program Selasa Wage Malioboro hanya perhotelan, pertokoan, parkir dan sirip-sirip Malioboro. Pada Selasa Wage Malioboro perdana ini akan ada berbagai kegiatan seperti reresik Malioboro, ruwatan pedagang, pengajian, senam, nikah bareng dan lain-lain.

Salah seorang wisatawan asal Swiss Patrik(50) merasakan sensasi berbeda dengan keadaan Malioboro hari ini. Ia sudah sering mengunjungi Malioboro ini sejak tahun 1980. “Saya seperti melihat suasana tahun 80-an di mana belum Banyak pedagang kaki lima becak dan andong di sini,” ujar pria ini dengan bahasa Inggris seperti dilansir laman Metrotvnews.com.

Vina salah seorang wisatawan asal Jakarta merasa bingung dengan perubahan suasana di Malioboro. Di satu sisi ia senang dengan pedestrian Malioboro semakin tertata rapi. Namun ia bingung mencari makanan dan minuman di pedestrian ini. “Saya haus. Biasanya banyak mas-mas asongan yang juaalan es teh disino. Tapi bagus juga sih jadi lebih rapih dan bersih i,” kata Vina.

Wakil Ketua Umum Paguyuban Pelukis dan Pedagang Cenderamata Malioboro (Pemalni) Pujono menuturkan, para pedagang mendukung program Off PKL ini demi mewujudkan Malioboro lebih nyaman bagi wisatawan. “Jadi ada jeda hari di mana semua pedagang bisa meluangkan waktu untuk mengurus Malioboro agar semakin bersih dan terawat,” ujar Pujon seperti diunduh laman Tempo.

Hanya saja, ujar Pujono, seharusnya yang libur setiap 35 hari sekali tak hanya pedagang kaki lima Malioboro yang jumlahnya mencakup 22 paguyuban pedagang, 800 lapak, dan 1.300 pedagang itu. “Ada baiknya para pemilik toko, mall, juga libur sehingga bisa bantu bersih-bersih Malioboro,” ujarnya.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Yogyakarta Yunianto Dwi Sutono, menuturkan program Off PKL untuk Malioboro ini dilakukan sebagai program baru menyambut HUT Kota Yogyakarta ke 261 yang jatuh pada 7 Oktober 2017 nanti. “Tujuan program ini untuk memberi jeda atau nafas bagi kawasan Malioboro yang setiap hari perekonomiannya terus bergerak tanpa henti,” ujar Yunianto.

Yunianto menuturkan program Malioboro bebas PKL ini akan memberi kesempatan bagi warga Yogya dan wisatawan untuk menikmati Malioboro dengan suasana berbeda. Pada hari bebas PKL itu, kawasan Malioboro akan digelar kegiatan dengan melibatkan berbagai komunitas yang ada di Kota Yogyakarta.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Pemerintah Kota Yogyakarta Tri Hastono menuturkan, program Off PKL ini bertujuan untuk menjaga Malioboro yang sudah lebih tertata dengan kawasan pedestriannya. “Malioboro ibarat mesin yang terus berputar, jadi perlu maintenance barang sehari untuk disegarkan lagi,” ujarnya. (*/BBS)

LEAVE A REPLY