Malang, Pintu Gerbang ke Bukit 29 Yang Dijuluki Negri Diatas Awan

0
37

Prof Dr I Gde Pitana MSi,  Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara ( BP3M) Kementerian Pariwisata didampingi  Sekretaris Deputi BP3M Ni Wayan Giri Adnyani dan Agung, Kabid Promosi Pariwisata Malang usai diskusi dengan pers.

MALANG, bisniswisata.co.id: Terminal tiga Bandara Soekarno Hatta menjadi meeting point sejumlah wartawan Forum Wartawan Pariwisata ( Forwapar) untuk mengikuti kegiatan bertajuk Promosi Pariwisata Mancanegara pada Media Nasional di Malang 10-12 November 2017.

Satu persatu peserta datang bergabung dan ternyata selain wartawan generasi NOW banyak juga generasi YES ( yesterday) alias wartawan senior yang sudah sama-sama meliput puluhan tahun sejak awal karir hingga usia di atas 50 tahun seperti saat ini.

Tak tanggung-tanggung total ada 50 peserta baik dari kalangan wartawan maupun staf dan dari event organizer sehingga pertemuan awal dari lintas generasi ini penuh dengan cerita nostalgia meliput progam pariwisata dari menteri ke menteri.

Jam 8.30 pesawat Garuda Indonesia tinggal landas menuju bandara Abdul Rachman Saleh di Malang, Jawa Timur. Penerbangan selama satu jam 15 menit membawa kami tiba di Malang tepat waktu dan langsung menuju bis wisata yang menjemput.

Sholat Jumat menjadi prioritas peserta setiba di kota Malang. Bis langsung parkir di halaman Mesjid Salsabilah. Masih ada satu jam sebelum suara azan berkumandang. Namun hal itu tidak jadi masalah bagi peserta lain yang tidak sholat karena bisa beristirahat dan sebagian bahkan tertidur.

Usai sholat, suasana dalam bis cukup heboh dengan berdendangnya lagu dangdut. Badanpun ikut bergoyang-goyang. Untunglah tak lama kemudian bis masuk ke kawasan kluster perumahan dan berhenti di depan Resto Taman Indie Malang.

Lokasinya di kluster perumahan Araya. Begitu masuk lobby restoran ini, mata sudah sibuk lirik sana-sini karena banyak souvenir dan makanan yang dijual termasuk  es krim dan es potong kesukaan saya. Banyak juga alat permainan jaman dulu ( jadul).

Menu yang disajikan sesuai yang ditawarkan adalah pawon ndeso, all you can eat hanya Rp 50 ribu/ orang jadi makanan rumahan saja sih yang dinikmati plus penutup ada minuman kopi, teh dan pastel. hmm yummy…

Pawon yang artinya dapur dan disinilah semua pesanan pengunjung resto Taman Indie diolah tapi saya pilih langsung ditunjukkan arah menuju musholla untuk sholat Dzuhur dan Ashar.

Dua buah saung bale terbuka menjadi musholla. Untuk wudhu tersedia tiga gentong besar di atas rerumputan terhubung dengan air kran sehingga selesai berwudhu tinggal melangkah langsung ke atas bale.

Berada di area beribadah juga nyaman karena di restoran ini semua sudut serba artistik. Tadi saat di pintu masuk dan melirik dinding batu misalnya, ada tiga topi petani ukuran lebar yang dilukis dan menghiasi dinding dengan indah.

Saya sholat jamak, mengumpulkan dua shalat dalam satu waktu karena aktivitas dihari pertama ini sangat padat. Shalat Ashar dilakukan di waktu Dzuhur. Islam adalah agama yang mudah dan tidak merepotkan penganutnya. Memang amat besar dosa orang yang meninggalkan shalat, akan tetapi shalat sungguh sangat dimudahkan.

Tidak bisa dengan berdiri boleh duduk, tidak bisa duduk boleh berbaring, tidak bisa dengan berbaring boleh terlentang hingga yang terakhir adalah cukup dengan isya’rat dengan pelupuk matanya kemudian dengan hatinya.

Intinya jangan sampai ada orang yang meninggalkan shalat. Tidak ada orang yang tidak bisa melakukan shalat karena shalat sangat mudah dan sesuai dengan kemampuan. Maka tidak ada satu orang pun yang boleh meninggalkan shalat dalam keadaan apapun, termasuk disaat sedang bepergian.

Bergabung kembali bersama teman-teman untuk santap siang dengan menu rumahan, saya menyapu semua sudut dengan mata yang penasaran ke halaman belakang. Ternyata resto ini terletak tepat disamping sungai yang bernama Kali Bango yang membelah daerah Malang.

Taman Indie Restoran dan suasana pertemuan di Harris Hotel & Convention, Malang

Sayang waktu juga yang mengharuskan kami meninggalkan resto tanpa mengeksplor pinggir kali Bango di belakang resto. Duduk di halaman tepat di atas kali itu memang mengademkan raga dan jiwa.

Bis kemudian bergerak menuju Hotel Harris & Convention arah ke pinggiran kota Malang menuju jalur transportasi ke Surabaya, ibukota Jawa Timur. Siang ini diskusinya seru karena tujuan utama kami adalah ke Bukit 29 di kawasan Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru yang akan dilaksanakan di hari kedua.

Lokasinya hotel masuk ke dalam dengan lingkungan yang rimbun sehingga membuat saya langsung berharap bisa jogging seputar hotel.

Rombongan langsung ke ruang meeting di lantai bawah hotel. Setiap peserta dibagikan satu tas berisi beragam atribut untuk dikenakan saat meninjau lokasi Puncak B 29 untuk melihat gunung Bromo, Tengger dan Semeru ( BTS) di hari kedua.

Prof Dr I Gde Pitana MSi selaku Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara ( BP3M) Kementerian Pariwisata didampingi  Sekretaris Deputi BP3M Ni Wayan Giri Adnyani  sudah menanti kedatangan rombongan.

Pembagian ikat kepala dan sarung di dalam goodie bag menjadi kesibukan pertama rombongan sambil menunggu panitia menyiapkan kunci kamar hotel. Keakraban antar anggota rombongan langsung terasa terutama saat para pria belajar memakai udeng, ikat kepala yang dikenakan kaum pria Bali.

Udeng umum dikenakan oleh masyarakat dari berbagai lapisan masyarakat.Terbuat dari kain dengan ukuran panjang kurang lebih sekitar setengah meter. Berhubung kunjungan besok ke kawasan BTS banyak yang beragama Hindu maka rombongan akan mwnyesuaikan diri dengan memakai udeng.

Sementara saya sendiri memanfaatkan sarung yang diberikan untuk mondar-mandir di dalam ruangan, bergaya bak foto model. Penggunaan sarung pada wanita Tengger memiliki makna dan arti sendiri.

Kalau kain sarung simpulnya dibelakang leher dan tergerai di bagian depan artinya pemakainya sedang hamil. Jika simpul dipundak kanan dan tergerai di sebagian sisi depan artinya pemakainya  masih gadis.

Makna dan arti sarung bagi wanita Tengger

Kalau wanita menggunakan sarung dengan simpul ikatan di pundak kiri maka artinya sudah tidak memiliki suami alias janda. Nah kalau ikatan di tengah depan dan tergerai kebelakang artinya wanita tersebut sudah berkeluarga.

Saat bincang-bincang dengan I Gde Pitane, Giri Adnyani dan Kepala Bidang (Kabid) Promosi Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang, Agung Hariana Buana banyak informasi yang kami peroleh.


Target kunjungan wisman tahun  ini 15 juta, atau harus menaikkan 3 juta dari capaian tahun 2016, di   angka  12  juta optimistis tercapai apalagi ada program yang sedang  dilaksanakan pada Oktober-Desember atau triwulan IV pada tahun ini.

“Untuk   mencapai   target   tersebut stategi pemasaran   dan   promosi   pariwisata terus digencarkan, marketing strategy menggunakan pendekatan DOT (Destination, Original, dan Time), promotion   strategy   dengan   BAS (Branding,  Advertising,   dan   Selling).

Media   strategy   dengan pendekatan POSE ( paid, owned, social media, dan endorser) “Strategi media dilakukan pada pasar utama di antaranya dengan berpartisipasi pada event pameran pariwisata internasional untuk mempromosikan Wonderful Indonesia,” ujar Pitana.


Dia menjelaskan hasil  capaian  kunjungan wisman   sampai   periode  2017   data dari BPS adalah sebesar  10.458.299 orang.  Jumlah ini naik secara signifikan sebesar 25,05% dibandingkan  dengan  capaian tahun 2016.

I Gde Pitana juga menjelaskan Top 5 capaian kunjungan wisman per pasar maka Tiongkok  masih mendominasi kunjungan wisman sebesar 1.607.615 (naik 45.68%), diikuti Jepang sebesar 416.040 (naik 6.46%), Australia sebesar 918.957, (naik 1.38%), Malaysia sebesar 885.412 (turun 0.16%), dan Singapura sebesar 1.067.242 (naik 0.36%).

“Untuk pertumbuhan kedatangan wisman berdasarkan pintu masuk, Bandara Sam Ratulangi naik paling signifikan sebesar 95.52% dibandingkan dengan tahun 2016, diikuti Bandara International
Lombok sebesar 48.42%, Sultan Syarif K II sebesar 41.36%, dan Bandara Adisucipto  sebesar31.39%”, terang Pitana.

Fokus Hard Selling  I   Gde   Pitana mengatakan,   tahun   2017   ini   Kemenpar lebih   fokus   pada kegiatan hard selling. “Setelah dua tahun terakhir ini kami  fokus membangun branding Wonderful Indonesia,   pada tahun ini kami   memang lebih fokus   pada   kegiatan hardselling dan kerjasama dengan airlines dan wholesalers,” tambahnya.

Kegiatan   pemasaran   di   pasar   kawasan Asia   Tenggara yang akan dilaksanakan di pasar Asia Tenggara antara lain Promosi  Sail   Sabang   di  Malaysia   dan Thailand,  serta   pendukungan   pelaksanaan  Sail Sabang pada 1-5 Desember 2017.

Kegiatan yang sedang dan akan dilaksanakan adalah  Promosi Paket wisata dalam rangka annual meeting IMF-WB   2018,   Festival   Wonderful  Indonesia di   Oman,   Qatar,   Equador   dan Europalia, WTM London, DEMA Show, Moscow Halal Expo, dan International Luxury Travel Market di Cannes.

Deputi BP3M Kemenpar itu juga telah melaksanakan promosi pariwisata di berbagai media di dunia antara lain; pemasangan iklan di media online (Google, TripAdvisor, Facebook, Baidu, Xinhua,Lonely   Planet),   pemasangan iklan di   TV   &   radio   (7   televisi   tiap   negara pasar,   8   televisi internasional, dan pemasangan iklan di kompetisi sepakbola LaLiga).

Pemasangan iklan di mediacetak internasional (The Strait Times, Al Tijara, Hindustan Times, Bloomberg, New York Times,TIME),   pemasangan   iklan   di media ruang (Tram  di  Amsterdam,   Bis  di Paris,   LED   di   Dubai, Billboard di Times Square, Amerika, Ferry di Perth, Australia), serta mendukung pembuatan TVC Asian Games 2018 dan TVC Europalia.

Dalam kesempatan ini, I Gde Pitana juga menyampaikan keberhasilan Indonesia memperoleh 2 award pada perhelatan WTM London. “Dua tahun berturut-turut (2016-2017) Indonesia memperoleh  penghargaan Best Dive Destination dari majalah Dive Magazine yang diterima pada tanggal 6 November 2017.

Selain itu pada tanggal 7 November 2017, Bali juga memperoleh penghargaan Best Agent Choice Award pada katagori Destination for Spa & Wellness dari Selling Travel.

Malang Night Paradise, salah satu tempat hiburan malam di kota Malang, Jatim

Kabar baru lainnya dari Agung Hariana Buana, Kepala Bidang (Kabid) Promosi Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang adalah upaya melayani wisatawan nusantara ( wisnus)  maupun mancanegara ( wisman) dengan aplikasi kekinian tentunya.

Namanya Malang Menyapa merupakan aplikasi pariwisata berbasis android yang dibuat Disbudpar Kota Malang untuk memenuhi kebutuhan informasi wisatawan yang hendak berwisata ke Kota Malang.

“Wisatawan bisa mengunduh  aplikasi Malang Menyapa di playstore, dan akan mendapatkan banyak informasi terkait kepariwisataan Kota Malang,” kata Agung  sambil menjelaskan bahwa Kota Malang merupakan bagian dari Malang Raya ditambah dengan Kabupaten Malang dan Kota Batu.

Nah Malang inilah yang menjadi pilihan Kemenpar mengundang media nasional sebagai pintu gerbang rombongan kami menuju Puncak B 29, sebuah bukit diketinggian 2900 meter yang masih menjadi bagian Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang dikenal dengan julukan Negri Di atas Awan.

Acara yang berakhir menjelang magrib akhirnya hanya menyisakan waktu yang sedikit karena tengah malam sudah harus berangkat ke Desa Argosari, Kecanatan Senduro di Kabupaten Lumajang. Praktis tidak ada waktu untuk tidur karena selesai sholat magrib sudah ada jadwal ke Malang Paradise Night, yuk eksplor hiburan malam di kota ini.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY