Makan di Atas Daun, Tradisi Masyarakat Minahasa Utara

0
778

AIRMADIDI MINUT, test.test.bisniswisata.co.id: Indonesia kaya akan keragaman budaya dan adat istiadat. Jenis dan kebiasaan makan masing-masing daerah di Indonesia pun sangat beragam, seperti makan bersama di Maluku, Magibung di Karangasem Bali, Khanduri di Aceh, makan di atas daun di Minahasa Utara, dan lain sebagainya.

Sulawesi Utara, termasuk Minahasa Utara memiliki potensi makan yang luar biasa, mereka punya istilah “apapun bisa dimakan” asal tidak beracun.

Pada Festival Pangan Non Beras yang berlangsung di Lapangan Klabat pada 19-20 November 2015 tampak terlihat keunikan dan menjadi daya tarik wisata kuliner.  Pasalnya selain ditampilkan berbagai stan makanan non beras festival ini menampilkan makan di atas daun.

“Makan di atas daun yaitu makan menggunakan daun sebagai alas makan. Dahulu budaya makan ini digunakan untuk mempersatukan masyarakat dalam bentuk kekerabatan,” ujar Kadisbudpar Minahasa Utara, Femmy Pangkarego kepada test.test.bisniswisata.co.id di Lapangan Klabat, Minahasa Utara, Kamis (19/11/15).

IMG-20151120-WA0001Femmy mengatakan, “Kami menggelar makan di atas daun ini untuk mestarikan budaya zaman dulu di Minut. Makanan disajikan diatas daun pada meja makan, dan makan pakai tangan”.

Adapun makanan yang disajikan di atas daun, yakni nasi, berbagai olahan sayuran seperti pangi, daun pepaya, saluat batang pisang yang muda, daun keluak, serta lauk pauk ikan dan daging.

Sebagai minumannya saguer yang merupakan air dari pohon nira disajikan sebagai minuman khas.

Air nira yang telah di fermentasikan ini (saguer) menurutnya biasa dijadikan untuk membuat gohu (asinan pepaya).

“Pangi semacam sayuran yang diiris-iris tipis. Jenis sayuran ini hanya ada di Minut,” ungkapnya.

“Kami berharap dengan kegiatan ini warga akan lebih termotivasi mengembangkan kuliner yang ada di Minut,” tutup, Femmy. (evi).

LEAVE A REPLY