Lyra Puspa, Guru Para Coach Indonesia, Singapura Untuk Mengeksplore Kekuatan Dalam Diri

0
663
Panitia dan peserta World Game Conference di Bali, 4-7 April lalu berbaur akrab. ( foto dok pribadi Lyra Puspa)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Kisah inspirasi bakal abadi, walau Bali World Game Conference 2016 sudah berakhir, namun kisah-kisah akan terus abadi. Kisah inspiratif tersebut tertuang dalam buku berjudul “33 Coaching Inspiration from Indonesia” yang dicetak dalam dua bahasa yaitu Indonesia dan Inggris, tulis Lyra Puspa ketika berbagi cerita lewat WA Group dengan komunitas WISE yang terdiri dari para pengusaha wanita yang menjadi saudara-saudara spiritualnya.

“Pada sesi penutupan, buku tersebut secara simbolis ditandatangani oleh Marylin W Atkinson, Founder of Erickson Coaching International kemudian dibagikan gratis kepada semua peserta.Tujuannya agar dunia melihat bahwa ada gerakan transformasi dan perubahan melalui coaching di Indonesia,” tambah Lyra lagi.

Peluncuran buku dipenghujung acara Wolrd Game Conference 2016 yang digelar di Bali, 4-7 April 2016 lalu memang penuh makna bukan hanya bagi Lyra Puspa tetapi juga bagi peserta mancanegara yang sebagian diantaranya datang secara Go Show,  datang tanpa reservasi jauh-jauh hari dan langsung muncul karena terbius oleh program yang dipaparkan dalam konferensi internasional itu.

Bagi Lyra sebagai nyonya rumah pertemuan akbar dua tahunan yang dihadiri 120 orang peserta 26 negara  dari lima benua, konferensi ini menjadi bukti bahwa dalam dunia coaching Indonesia berhasil menjadi penggerak perubahan bagi negara-negara lain. Apalagi dalam event ini dia dan sejumlah coach asal Indonesia juga menerima sejumlah penghargaan. Lyra misalnya menerima penghargaan “The Most Sustainable World Game Movement”. Penerima penghargaan lainnya dari Indonesia  adalah proyek “The Most Impactful World Game ” karya Indrawan Nugroho, dengan program “Jenius Lokal”.

Ada dua lagi penghargaan untuk bangsa ini yaitu Butterfly Effect dari Indonesia dengan program “Coaching for Building Future Leadership” serta sebuah program “Coaching for Health,  proyek kesehatan bersama yang meraih juara 2  yaitu  Health Dynamics dari gabungan coach global (Indonesia, Rusia, Bulgaria, Korea, UK).

Lyra sendiri adalah pendiri komunitas Coachnesia, komunitas yang terdiri dari alumni Erickson Coaching International yang  selalu menggelar kegiatan untuk perubahan bidang bisnis, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Melalui Coachnesia, Lyra menghasilan gerakan yang dinamakan World Game Innitiatives. Gerakan ini tumbuh berlandaskan nilai-nilai kekhasan Indonesia. Lyra yang juga pendiri Vanaya Coaching Institute telah mensertifikasi lebih dari 800 coach di seluruh Indonesia, di samping juga mensertifikasi para coach di Singapura.

World Game merupakan sebuah even berkelas internasional yang merupakan rangkaian dari gerakan masif menciptakan dunia yang lebih baik melalui pendekatan coaching.  Acara ini  di inisiasi oleh Erickson Coaching International, sebuah lembaga coaching tertua di dunia yang telah berkembang di 50 negara.

Di Indonesia dan Singapura, pemegang otorisasi lisensi Erickson Coaching adalah Vanaya Coaching Institute (Vanaya) yang dipimpin Lyra Puspa..Sebagai tuan rumah dia bangga ketika Indonesia terpilih sebagai tuan rumah tahun ini. Pasalnya, Indonesia baru bergabung dengan Erickson pada tahun 2013.

Eksplorasi Diri

Menjadi eksekutif sebuah perusahaan dan menjadi pebisnis handal bersama suami tercinta sudah dijalani oleh seorang Lyra Puspa. Tak perlu menganggur, Wanita lulusan S1 Agribisnis IPB tahun 1998 ini langsung menjadi eksekutif di sebuah perusahaan selama setahun.

Kelahiran dua putra tercinta membuatnya memilih bekerja mandiri,  membuka usaha jasa rumahan yang terus membesar. Wanita yang lincah dan kaya ide ini rupanya kompak dengan suami sehingga ketika kembali ke bangku kuliahpun sama-sama menempuh pendidikan Strata Duanya di PPM tahun 2000

Sukses sebagai pebisnis yang berkembang hingga ke bidang otomotif, property dan lainnya, Lyra dan suami banyak meluangkan waktu untuk menjadi mentor para star-up bisnis terutama UMKM. Keinginan untuk selalu berbagi akhirnya membuat dia kerap muncul di seminar dan pelatihan UMKM.

Lyra Puspa, Founder & President, Vanaya Coaching Institute. (foto dok pribadi Lyra)
Lyra Puspa, Founder & President, Vanaya Coaching Institute. (foto dok pribadi Lyra)

Sering tampil di pelatihan entrepreneur dan mendengarkan langsung masalah yang dihadapi peserta akhirnya Lyra mengambil kesimpulan bukan pelatihan  motivasinya yang salah, namun kemampuan para pengusaha pemula itu sendiri untuk mengeksplorasi diri dan menemukan bisnis yang pas sesuai dengan minat ( passion) justru yang luput dari perhatian.

Itulah sebabnya, wanita yang aktif menulis di blog sendiri ini mengajak para star-up untuk mengeksplore kemampuan diri. “ Kalau mau sukses dalam bisnis kuncinya ada pada diri si pelaku usaha itu sendiri. Makanya  saya mencari metode apa yang paling pas untuk menumbuhkan potensi dari si pelaku usaha itu sendiri, bukan bimbingan soal teknis berbisnis tetapi menggali kelemahan dan kekuatan diri sendiri,” kata Lyra bersemangat.

Menemukan passion dan drive dari dalam diri adalah sebuah proses perjalanan panjang kehidupan, yang semestinya dimulai sejak dini. Sebab passion adalah wujud manfaat spesifik diri kita bagi dunia. Lyra memang memiliki Passion for People  karena itu energinya seakan tidak ada habisnya untuk menuntun seseorang menemukan jati dirinya.

“Saya pilih pendekatan coaching untuk menuntun klien menemukan passion dan coaching lebih pada sebuah percakapan yang terjalin dengan baik dan menantang pemikiran, sehingga menginspirasi klien untuk memaksimalkan potensi dan kinerjanya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pribadi maupun organisasi. Sebagai coach kita lebih banyak bertanya dan mengedepakan solusi bagi klien, bukan terfokus pada masalah,” kata Founder & President, Vanaya Coaching Institute ini.

Kiblat Coachnesia

Metode coaching yang tumbuh dengan marak di Indonesia dan masih berkiblat ke dunia Barat menjadi perhatiannya yang serius. Itu sebabnya bukan hanya mendalami dunia coaching, Lyra juga membawa sekolah coaching terbesar di dunia Erickson International yang berdiri tahun 1980 ke Indonesia agar lahir Coach ala Indonesia yang tidak melupakan kearifan lokal dan budaya Indonesia.

Tujuan lainnya tentu saja untuk memberikan coaching yang terstandar, tersertifikasi dan kredibel. Karena di Indonesia ada banyak yang menyelenggarakan coaching tetapi belum tersertifikasi dan kredibel. Melalui kerja sama itu, pihaknya dan Erickson International ingin mengedukasi masyarakat Indonesia mengenai coaching dan meningkatkan kualitas coach yang ada di Indonesia agar memenuhi standar coach internasional.

Tidak banyak coach di Indonesia yang memiliki sertifikasi dari International Coach Federation (ICF) dan program yang dijalan Erickson International telah mendapat sertifikasi dari ICF. Di dunia coaching terdapat yang namanya credential dan sertifikasi. Hal yang dilakukan Erickson adalah sertifikasi, sementara untuk hal credential dilakukan dengan ICF, jelasnya.

“Credential di Indonesia masih sangat sedikit. Saya termasuk angkatan awal credential ICF, termasuk 3 orang Indonesia pertama yang mendapat status ACC (Associate Coach Credential). Credential yang dimaksud adalah seseorang yang sudah melewati sertifikasi tertentu, seperti Erickson, namun memiliki sejumlah jam terbang dan terdapat ujiannya,” ungkap Lyra Puspa..

Lyra  yang mendirikan Vanaya Institute pada 2007 bersama suaminya dan sejak 2012 menggandeng  Erickson yang menjadi pionir coaching di 50 negara di dunia itu kini juga menjadi  partner Google Asia Pasific. Kepuasannya adalah melahirkan ratusan coach baru setiap tahun sehingga dia menjadi gurunya para coach yang kini menjadi profesi bergengsi.

Kini, Vanaya telah membantu lebih dari 500.000 coachee dari berbagai perusahan baik nasional maupun multinasional, kandidat Presiden dan wakil Presiden, BUMN, eksekutif, dan lainnya. Event  Wolrd Game Conference 2016 memang sudah berakhir, cita-cita Lyra untuk membuat metode yang berakar dari budaya Indonesia, sehingga lebih mengena dengan latar belakang budaya dan cara berpikir klien yang orang Indonesia, dan tumbuh besar dengan budaya Indonesia juga sudah terwujud dengan lahirnya buku Coachnesia.

Tak heran jika teman-temannya di komunitas WA Group WISE yang dikomandani  Presdir  PT Jaty Arthamas, Santi Mia Sipan  ramai menuliskan pesan dan kesan atas kesuksesannya yang memancarkan energi bahagia ke semua anggota bahkan mungkin semua wanita di Indonesia karena kiprahnya sebagai Kartini masa kini yang aktif membangun kemampuan kreatif. (Hilda Ansariah Sabri)

 

 

LEAVE A REPLY