Lion Air Sengsarakan Konsumen, Kemenhub Tak Punya Nyali

0
653

JAKARTA, BISNISWISATA.CO.ID: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) geregetan dengan sikap manajemen Lion Air. Maskapai penerbangan murah yang berulangkali menyengsarakan konsumennya, terakhir terjadinya delay hingga lebih dari 24 jam, namun tak ada sikap dan tindakan tegas dari Kementrian Perhubungan (Kemenhub).

“Kami mendesak dengan keras agar Kementerian Perhubungan jangan ciut nyali untuk memberikan sanksi tegas dan keras atas sikap semena-mena managemen Lion Air, karena seringkali menelantarkan konsumen,” kata Anggota Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi dalam pernyataan yang diterima redaksi www.test.test.bisniswisata.co.id di Jakarta, Sabtu (21/2/2015).

YLKI juga menyayangkan saat terjadinya keterlambatan atau pembatalan penerbangan, pihak maskapai tidak segera memberikan kompensasi atau setidaknya memberi informasi yang akurat kepada para konsumennya.

“Menteri Perhubungan Ignasius Jonan juga harus berani melakukan audit total terhadap kinerja manajemen Lion Air. Selama ini Kemenhub tampak tidak bernyali dan tak punya gigi dengan maskapai besar itu. Apakah karena Presdir Lion Air (Rusdi Kirana) menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden? Buruknya pelayanan Lion Air juga tidak terlepas dari lemahnya pengawasan regulator kepada operator.” pintanya.

Menurutnya, pemerintah bukan hanya punya kewenangan menerbitkan izin maskapai, namun juga berkewajiban menegakkan fungsi pengawasan.

Karena itu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta pemerintah agar mengambil tindakan tegas terhadap layanan penerbangan murah ini, tanpa melihat jabatan politik pemiliknya.

Eri Purnomo, penumpang Lion Air yang terlantar selama dua hari di Bandara Soekarno Hatta menilai operator pesawat mengurus usaha laiknya juragan angkutan perkotaan alias angkot. Mereka cuma mengejar setoran, memburu keuntungan, tanpa memikirkan pelayanan dan kenyamanan penumpang. “Jangankan kenyamanan, keamanan dan keselamatan penumpang pun kerap dinomorsekiankan,’ paparnya di Jakarta, Jumat kemarin.

Kasus Lion Air ini, lanjut dia, juga membuktikan dunia transportasi udara Indonesia tidak taat asas pada tuntutan standar. Tidak hanya standar keselamatan, tapi juga standar pelayanan. Yang lebih mengherankan, maskapai sebesar Lion Air tak memiliki manajemen krisis. “Bayangkan, untuk sekadar mengganti uang tiket penumpang yang batal berangkat, maskapai meminta talangan dari operator, Angkasa Pura,” ucapnya prihatin.

Makin membuat miris lagi, tambah dia, regulator seperti membiarkan sistem bekerja dengan standar yang amat rendah itu. Itu semua terjadi karena pemerintah sebagai regulator tak pernah bertindak tegas. Pelayanan buruk yang terus berulang hanya diganjar dengan sanksi-sanksi ringan. Pemerintah tidak sadar tengah menanam bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meluluhlantakkan industri itu sendiri.

“Bom itu baru saja meledak. Lagi-lagi, yang menjadi korban ialah penumpang. Kita bosan mengulang-ulang ini, tetapi tetap harus kita katakan lagi kejadian ini harus menjadi yang terakhir. Tak boleh lagi ada toleransi yang membuat operator merasa ‘baik-baik saja’, padahal ia telah menelantarkan penumpang dan membuat kusut wajah bandara,” sambungnya. (marcapada@yahoo.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.