Libur Lebaran, Orang Indonesia Berwisata ke Luar Negeri Melonjak

0
415
Orang Indonesia padati Singapura

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Selama momentum libur Lebaran 2016, ternyata orang Indonesia yang berwisata ke luar negeri cukup tinggi dan melonjak tajam dibandingkan Lebaran 2015. Bahkan Tingkat kunjungan masyarakat Indonesia ke luar negeri (outbound) lebih tinggi dibandingkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia (inbound).

“Perbandingkan kunjungan antara inbound dan outbound selama Lebaran 2016, lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi tahun 2015. Tahun lalu perbandingannya 1:3, tahun ini ada peningkatan menjadi 1:3,5. Artinya, satu kunjungan wisman ke Indonesia sebanding dengan 3,5 kunjungan orang Indonesia ke luar negeri,” ungkap Ketua Umum Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (Asita) Asnawi Bahar.

Dilanjutkan, jumlah kunjungan masyarakat Indonesia ke luar negeri memang cukup tinggi. Selain negara-negara tradisional seperti Asean, destinasi yang paling banyak dituju adalah Jepang, Korea, dan China. Animo yang besar ini terlihat dari kepadatan di bandara dan juga load factor maskapai pada rute-rute penerbangan ke negara tersebut yang tercatat mengalami kenaikan.

“Jumlah wisatawan ke luar negeri pada periode libur Lebaran kali ini juga lebih banyak dari biasanya. Perkiraan peningkatannya sekitar 10% dari tahun lalu, khususnya yang bepergian ke China,” ujarnya seperti dilansir laman Bisnis.com, Selasa (12/07/2016).

Rata-rata wisatawan memanfaatkan libur Lebaran berkunjung ke destinasi menarik di sejumlah negara. Alasan ini lebih kuat ketimbang adanya kegiatan khusus seperti Malaysia Mega Sale Carnival 2016, promosi belanja di Malaysia sejak 15 Juni–31 Agustus 2016. “Soalnya kita juga ada Jakarta Great Sale yang lebih menyasar pasar domestik. Jadi bukan event wisata belanja membuat orang datang ke Malaysia tetapi lebih karena ingin berlebaran,” tuturnya.

Faktor lain yang mendorong lonjakan arus outbound adalah akses yang kian mudah, murah dan terjangkau.

Ketua Asita menegaskan kondisi ini tidak dapat terus dibiarkan sebab akan membuat Indonesia kehilangan potensi pendapatan. “Saya berharap, di samping terus meningkatkan angka kunjungan wisman, pergerakan wisatawan nusantara juga harus terus didorong karena pasar pariwisata domestik tidak dapat ditinggalkan,” tandasnya.

Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Didien Junaedi mengatakan pemerintah dan pelaku usaha harus bekerja sama mengembangkan potensi pariwisata dalam negeri. Tingginya kunjungan masyarakat Indonesia ke luar negeri antara lain disebabkan oleh kurangnya edukasi, promosi, dan sosialisasi mengenai destinasi dalam negeri.

“Sebagian orang Indonesia masih lebih merasa bangga kalau ke luar negeri meski sebenarnya destinasi lokal sudah bagus-bagus. Barangkali ini salah industri juga kurang promosi pasar domestik,” katanya.

Dia mengakui sebagian wisatawan lokal lebih memilih ke negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia, lantaran faktor kenyamanan dan biaya. Padahal, dari segi budaya, Indonesia jauh lebih kaya.

Sulitnya akses dan masih minimnya infrastruktur pendukung membuat biaya yang diperlukan untuk menjelajahi tempat-tempat tertentu di Indonesia menjadi jauh lebih mahal daripada ongkos ke Singapura. “Kita harus lebih siap lagi dengan terus memperbaiki pariwisata lokal baik destinasi maupun perjalanan ke destinasi tersebut agar potensi pasar domestik ini tidak hilang. Terutama mengenai Lebaran, kita harus ekspos terus-terusan mengenai destinasi Lebaran di Tanah Air,” katanya. (*/BIO)

LEAVE A REPLY