Libur Lebaran di Yogyakarta, Telusuri Lorong Waktu ke Wisata Desa & Museum

0
2010
Desa wisata Kalibiru berada di ketinggian 450 mdpl. Lokasinya sekitar 40km dari Kota Pelajar,Yogyakarta. ( foto: Alfatih)

pesona-indonesia_update-22novJAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Lagu dari Kla Project yang dilantunkan Katon Bagaskara dan  diliris tahun 1993 menjadi musik pengiring saat mobil melintas melewati kota Wates, batas kota Yogyakarta.

Setiap kali mudik Lebaran dari Jakarta ke Yogjakarta menggunakan mobil pribadi, lagu itu otomatis  saya putar berulang-ulang sampai akhirnya tiba di rumah eyang, KRT Suryomurtjito di Jalan Patehan Tengah, berdekatan dengan Alun-alun Kidul.

Mudik dengan rute jalur darat sejak tahun 1985 memang sudah tidak pernah lagi saya lakukan. Pasalnya  Tahun 2004, orang-orang terkasih seperti suami tercinta dan kedua mertua sudah pergi menghadap sang Khalik. Mudik Lebaran ke Yogya akhirnya selalu  saya lakukan lewat jalur udara untuk nyekar dan bersilaturahmi dengan keluarga besar.

Namun Lebaran kali ini kerinduan napak tilas makin kuat, apalagi Peta Resmi Jalur Lebaran Sumatra-Jawa-Bali tahun 2015 yang dikeluarkan Kementrian Pariwisata, Kementrian Perhubungan  bersama instasi terkait sudah di tangan sudah sejak awal Ramadhan.

[pull_quote_center]“Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja. “  Lagu Yogyakarta, Katon Bagaskara

Bagi siswa maupun mahasiswa dari luar kota yang menuntut ilmu di Yogyakarta, kota pelajar ini  adalah surga tempat-tempat unik dan menarik yang tak dapat ditemukan di tempat lain. Seperti yang saya lakukan setiap kali datang dari bandara Adi Sucipto, saya selalu menyempatkan melintas di jalan Malioboro.

Saat itu, entah mengapa, seperti halnya lirik lagu Yogyakarta, maka dari atas kendaraan saya selalu  asyik memperhatikan ramainya pedagang kaki lima di sisi jalan yang menjual souvenir hingga beragam sajian khas sepanjang jalan Malioboro. Begitu juga jejeran andong dan becak serta musisi jalanan yang beraksi di tengah keramaian.

Bunyi klakson mobil yang sengaja dibunyikan Adit yang mengemudikan mobil sejak dari Jakarta  menyadarkan saya dari lamunan dan nostalgia sesaat. Kami bergegas turun menemui ipar-ipar dan keluarga besar. Sekitar satu jam beristirahat, saya sudah memanfaatkan waktu sore hari yang tersisa untuk melongok Taman Sari yang sudah banyak mengalami perbaikan.

Sewaktu masih hidup, Romo Suryomurtjito kerap mengajak saya dan anak-anak berjalan pagi dari rumah ke Taman Sari lalu ke Pasar Burung Ngasem yang kini sudah pindah ke daerah Dongkelan yaitu menjadi Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta ( PASTY).

Melewati lorong waktu di Taman Sari

Berkunjung ke Taman Sari sama halnya menikmati lorong waktu karena obyek wisata yang satu ini  menjadi satu dari sekian banyak tempat wisata sejarah yang terletak di Jalan Taman, Yogyakarta dan sangat dekat dengan lokasi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau sekitar 15 menit berjalan kaki dari Alun- alun Utara Keraton. Tempat ini dulunya merupakan tempat rekreasi bagi keluarga kerajaan sekaligus sebagai benteng pertahanan yang dibangun pada tahun 1758-1765 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Awalnya, bangunan berdiri di atas lahan 10 hektar dan mempunyai 57 bangunan terdiri dari kompleks kolam pemandian, danau buatan, pulau buatan, jembatan gantung, kanal air, taman, lorong bawah tanah, serta beberapa gedung dengan arsitektur Eropa, , China, Jawa, Hindu, Buddha, dan Islam.

Pembangunan Istana Air Taman Sari ini dibiayai oleh Tumenggung Prawirosentiko, yang merupakan Bupati Madiun dan menggunakan jasa Demang Tegis, seorang arsitek dari Portugis. Saat ini, luas Istana Air Taman Sari sudah berkurang drastis karena beberapa kompleksnya telah dijadikan pemukiman penduduk.

Pulo Kenongo merupakan sebuah pulau yang ada di tengah-tengah danau buatan kompleks Taman Sari. Di sini terdapat gedung bernama Gedhong Kenongo, yaitu bangunan yang dulunya merupakan tempat tertinggi di Keraton Yogyakarta sehingga memungkinkan untuk melihat wilayah keraton secara keseluruhan.

Di sekitarnya terdapat ventilasi udara untuk terowongan bawah tanah yang dapat digunakan jika akan melarikan diri dari musuh. Kita juga dapat melihat matahari terbenam di sini karena sampai saat ini, tempat ini masih merupakan salah satu bangunan tertinggi di Yogyakarta.

Bagian lainnya adalah Pulo Cemethi yang terletak di sebelah selatan Pulo Kenongo dan merupakan tempat sultan bermeditasi dimana untuk mencapainya, pengunjung harus melewati terowongan bawah tanah.

Di sebelah baratnya ada sumur Gumuling, tempat peribadatan sultan yang bisa dicapai melalui terowongan bawah tanah. Walaupun dimaksudkan sebagai masjid, sumur ini berbeda dari masjid pada umumnya karena berbentuk ceruk melingkar.

Sumur Gumuling terdiri dari dua lantai, lantai pertama adalah untuk jemaah laki-laki, sedangkan lantai kedua merupakan tempat untuk jemaah perempuan. Di tengah-tengah sumur terdapat lima jenjang tangga yang menyiratkan 5 rukun Islam, 4 di antaranya naik dan bertemu di tengah, sedangkan tangga kelima menghubungkan keempat jenjang tangga tersebut menuju lantai.

Perjalanan saya lanjutkan ke Alun-alun Selatan atau di sebut Alun-alun Kidul dimana di waktu malam dipenuhi masyarakat yang mencari hiburan, dan kuliner. Untuk urusan goyang lidah ini laman resmi Kementrian Pariwisata; www.indonesia.travel memiliki panduan lengkap kuliner di Yogyakarta termasuk tempat membeli oleh-oleh.

Kerlap-kerlip lampu dari odong-odong yang mengelilingi alun-alun yang dikenal dengan sebutan Alkid sudah terlihat saat saya datang tepat ketika matahari berangkat ke peraduannya. Yogyakarta mempunyai dua alun-alun, satu ada di depan keraton yang disebut Alun-Alun Utara (alun-alun lor), satu lagi ada di belakang yang disebut Alun-Alun Selatan (alun-alun kidul). Halaman belakang kediaman Raja Jogja ini konon dibangun agar nampak seperti bagian depan sehingga tidak membelakangi laut selatan yang dijaga oleh Ratu Kidul yang konon punya hubungan magis dengan Raja Mataram.

Cerita kedua adalah mitos melewati pohon beringin kembar dengan mata tertutup. Permainan ini bernama masangin, singkatan dari masuk dua beringin. Begitu malam tiba banyak wisatawan datang ke Alkid untuk kuliner dan menjajal peruntungan lewat permainan masangin tadi.

Dengan membeli kain penutup mata  atau sewa, pengunjung berjalan lurus sekitar 20 meter dari depan Sasono Hinggil menuju tengah-tengah diantara dua beringin. Namun hasilnya rupanya tidal mudah dijalani. Banyak sekali orang yang berusaha berjalan lurus tapi malah berbelok ke berbagai arah, jauh dari tujuan. Konon hanya orang berhati bersih yang bisa tembus melewatinya.

Maksudnya  permainan ini menyampaikan pesan bahwa untuk mencapai apa yang diinginkan, maka kita harus berusaha keras dan tetap menjaga kebersihan hati serta fokus.

 

pengunjung ber foto ria di Museum De Mata, Yogyakarta ( foto: De Mata)
pengunjung ber foto ria di Museum De Mata, Yogyakarta ( foto: De Mata)

Pagi berikutnya sejak jam 10.00 mobil sudah mengarah ke XT Square di Jl Veteran, Pandeyan, Yogyakarta, dimana ada obyek wisata baru  yaitu De Mata Trick Eye  Museum dan De Arca Museum  yang lokasinya memanfaatkan lantai basement Gedung Umar Kayam, Pasar Seni XT Square.

Kalau pada umumnya kegiatan berkunjung ke museum hanya sebatas menikmati benda-benda bersejarah yang tersimpan di dalamnya saja, lain halnya De Mata Trick Eye Museum. Di museum ini, salah satu kegiatan yang wajib dilakukan pengunjung adalah berpose dan berfoto karena gambar tiga dimensi yang ada membuat hasil bidikan nyata.

Obyek wisata buatan (Manmade) ini benar-benar dapat menjawab trend masyarakat Indonesia yang gemar berfoto narsis lalu mengunggah  di media soisal karena setiap sudut menjadi obyek menarik untuk berpose di depan gambar-gambar super besar.

Terlihat banyak orang bergantian menunggu giliran untuk dapat berpose di depan gambar-gambar super besar yang mampu membelalakkan mata tersebut. Bagi yang sudah rindu untuk traveling ke Belanda, bisa berpose berlatar belakang kincir angin. Pernah ingin naik balon udara ? nah di De Mata keinginan itu bisa tercapai karena aktivitas mahal itu bisa dilakukan bersama keluarga.

Tapi ada juga pengunjung yang memilih untuk memanjat sebatang bambu bersama seekor panda lucu, ada pula yang tiba-tiba menjadi begitu kebal karena berhasil tidur tanpa terluka di atas ratusan paku menganga. Semuanya dapat dilakukan di ruang berlabirin seluas 1600 meter persegi ini.

Gambar-gambar tiga dimensi yang sebagian besar hasil karya Petrus Kusuma ini mulai menghuni labirin-labirin basement XT Square sejak Desember 2013. Sejak saat itu pula, ribuan pasang mata telah menikmati sensasi tipuan tiga dimensi yang mengagumkan dalam bingkai-bingkai foto yang mereka abadikan.

Masih di tempat yang sama, sensasi eksis di dunia maya lewat unggahan (upload) foto-foto dengan sosok popular lainnya silahkan longok De Arca  Museum. Di kelola oleh manajemen yang sama, di sini pengunjung bisa pilih untuk berfoto dengan Mr.Bean, Jackie Chen, Indiana Jones, Michael Jackson, Albert Einstein, Kartini, Presiden Soekarno, Presiden Habibie, Presiden Soeharto dan banyak orang terkenal lainnya.

Di klaim sebagai museum patung pertama dan terbesar di Indonesia yang  diresmikan pada Desember 2014, De Arca Museum sesuai dengan namanya, menjadi rumah bagi puluhan koleksi patung tokoh-tokoh terkemuka dengan skala 1:1 karya seniman patung kenamaan Jogja, Dunadi.

Patung-patung  ini dibuat mirip seperti aslinya dengan kostum dan gestur yang sama. Hanya saja, patung-patung ini tidak terbuat dari lilin, melainkan dari resin (getah yang dihasilkan oleh tumbuhan tertentu) karena disesuaikan dengan keadaan iklim di Jogja.

Di bagi dalam tiga zona yaitu i zona tokoh nasional, zona presiden dunia dan zona tokoh dunia. Maka para orangtua dapat memanfaatkannya untuk ajang edukasi dan memotivasi anak-anaknya dari keteladanan para tokoh nasional dengan prestasinya masing-masing.

Pasalnya tokoh pahlawan kemerdekaan yang ada sudah menunjukkan kesetaraan gender. Ada pahlawan nasional Cut Nyak Dhien, RA. Kartini, Jenderal Soedirman dan beberapa pahlawan lain.

Tak semua berwujud tokoh nyata, karena ada juga sosok patung Spiderman yang unik sedang duduk menyilangkan kaki di atas sebuah bola dunia yang terlihat penyok oleh beban berat yang disangganya. Uniknya lagi, ia mengenakan blangkon lengkap dengan kain batik motif parang yang menutupi tubuh bagian bawahnya.

Patung Spiderman versi jawa inilah yang menghantarkan kami sampai di zona presiden dunia. Di zona ini, beberapa presiden terkemuka seperti, Megawati, BJ. Habibie, Ratu Elizabeth 2 hingga Presiden Amerika Serikat, Barack Obama yangf memiliki kehidupan masa kecil di kawasan Menteng, Jakarta

Berdiri artistik dengan latar agungnya Gunung Merapi, museum 2 lantai yang diresmikan tahun 2010 silam ini menjadi salah satu tempat wisata menarik di daerah Hargobinangun, Sleman. Bentuk bangunannya unik, berbentuk trapesium dengan salah satu sisi puncaknya mengerucut membentuk segitiga. Ketika hari cerah dan Gunung Merapi tak tertutup awan, maka keduanya tampak begitu gagah.

Dari desa ke desa

Desa Pentingsari, di lereng Gunung Merapi, 20 Km dari pusat kota Yogyakarta. (
Desa Pentingsari, di lereng Gunung Merapi, 20 Km dari pusat kota Yogyakarta. (

Aktivitas wisata lainnya yang menarik dari kota Gudeg adalah menyambangi desa-desa wisata yang kini popular di kunjungi wisatawan baik nusantara maupun mancanegara. Kunjungan ke Desa Pentingsari yang pasti bisa memberikan pencerahan baik bagi pikiran maupun hati karena suasana desa yang menentramkan dan pas untuk kegiatan spiritual.

Lokasinya berjarak sekitar 20 km dari pusat kota Yogyakarta atau 45 menit mengendarai mobil. Letaknya dilereng Gunung Merapi dan terdiri dari dua dusun yaitu Bonorejo dan Pentingsari.  Desa ini ditetapkan sebagai desa wisata pada tanggal 15 Mei 2008 dan sejak itu terus berkembang dan setiap hari dikunjungi wisatawan sampai-sampai untuk kegiatan rombongan harus melakukan reservasi jauh-jauh hari terlebih dulu.

Doto Yogantoro, manager yang mengelola desa wisata yang disebut juga Dewi Peri ini mengatakan kalau ke Yogyakarta sempatkan mampir di Desa Pentingsari karena selain lebih terasa pulang kampung, maka kita seperti memiliki saudara-saudara baru. Soalnya warga yang menyewakan sebagian dari kamar tidur yang dimilikinya untuk wisatawan, memperlakukan tamu layaknya anggota keluarga besar.

Suasana desa yang asri membuat tamu betah menyusuri obyek-obyek wisata yang ada seperti Pancuran  Suci Sendangsari yang  dipercaya oleh masyarakat dusun Pentingsari dan sekitarnya sebagai tempat bertemunya Dewi Nawang Wulan dan Joko Tarup di tengah nuansa keindahan   lembah sungai kuning.

Kita juga bisa melongok luweng, alat masak warga dusun Pentingsari dalam menyediakan konsumsi bagi tentara Pangeran Diponegoro, disamping sebagai tempat persembunyian bila dalam posisi terdesak. Ada juga rumah joglo, rumah adat di DIY dan Jawa Tengah yang  dapat digunakan sebagai tempat pertemuan, diklat, pentas seni dan budaya.

Kondisi lingkungan di Pentingsari atau Dewi Peri yang masih sangat alami  membuat pengelola kreatif pula mengemas beragam mata acara  seperti atraksi bajak sawah/tanam padi, mancing ikan, tracking/petualangan, main sepak bola lumpur hingga outbond untuk segala usia.

Kangen dengan kuliner khas desa seperti  nasi, gudhangan, sate dan tongseng jamur, ayam terik, tahu bacem, dan peyek petho, semua bisa dipesan dulu dengan pengelola desa. Makan dengan piring dari anyaman bambu dengan alas daun pisang.menjadi salah satu  pengalaman berkesan.

Doto mengatakan pihaknya juga bisa membuatkan paket seperti ke Lava tour Merapi/Mbah Marijan,. Kunjungan ke sentra Jamu Godhog sampai ke museum Gunung Api Merapi (MGM) yang membuat replika sebaran awan panas dari tiga buah letusan Gunung Merapi, yakni pada tahun 1969, 1994 dan 2006.

Melengkapi kunjungan ke desa, Kali Biru menjadi pilihan saya sebelum mengakhiri libur bersama menyambut Hari Raya Idul Fitri 2015. Desa ini merupakan bagian dari Bukit Menoreh yang terus berkembang dan menyita perhatian dari para wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Secara geografis, Kalibiru berada di ketinggian 450 mdpl. Lokasinya sekitar 40km dari Kota Pelajar, Yogyakarta atau 10km dari Kota Wates. Dari Yogyakarta menuju ke Kalibiru bisa ditempuh kurang lebih dua jam jika kondisi jalan lancar, melewati Jl Wates.
Perjalanan dari Wates ke Kalibiru, jalannya terus menanjak dan tidak membosankan. Pasalnya jalanan yang ditempuh berkelok dan di kiri-kanannya ada hamparan tanaman perkebunan, serta pepohonan lebat.

Sebelum tiba di Kalibiru, kita akan berjumpa dengan Waduk Sermo yang asri dan cantik. Disini kita bisa beristirahat sejenak menikmati tenangnya air waduk Sermo. Lalu melanjutkan perjalanan ke Kalibiru.

Selain menikmati suasana desa dengan pemandangan yang indah dari atas ketinggian, pengelola desa juga menawarkan paket outbond seperti flying fox.Hal yang paling banyak diburu para wisatawan yakni foto dari atas pohon pinus. Dimana dari papan kayu itu, kita bisa memandang birunya air waduk Sermo. Dan jika cuaca bersahabat, keindahan kota Yogyakarta pun bisa dilihat.

Jangan khawatir dengan keamanan ketika outbond atau naik ke atas pohon pinus atau sekedar duduk dia atas papan kayu untuk sekedar menikmati pemandangan dan berfoto ria, pasalnya keamanan di sana sangat terjaga dan sesuai standart.

Sementara untuk fasilitas, disana fasilitas yang disediakan sudah mendukung yakni seperti home stay. Dan jangan takut juga kelaparan serta kehausan lantaran banyak warung-warung yang menyediakan camilan serta minuman ringan.

Tak terasa masa ‘bulan madu’  dengan suasana desa wisata di Yogyakarta harus diakhiri. Waktu berlibur dan cuti bersama nyaris habis.Sambil menikmati rute perjalanan ke ibukota negara lewat jalur Selatan, rasa bahagia seakan mengalir ke seluruh tubuh.karena  banyaknya  kenangan foto narsis dan video yang tersimpan bukan hanya dalam memori mobile phone yang lumayan canggih. ( hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY