Larangan PNS Rapat di Hotel, Bisnis Perhotelan Tak Ambruk

0
930

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Siapa bilang bisnis perhotelan di dalam negeri bakal mati, gulung tikar pasca pemerintah mengeluarkan kebijakan pelarangan pegawai negeri sipil (PNS) menggelar rapat di hotel? General manager The Sunan hotel Solo mematahkan asumsi kerdil itu.

“Tahun ini, bisnis perhotelan di Indonesia diprediksi tetap mengalami pertumbuhan,” papar pebisnis perhotelan dan pengamat pariwisata Dicky Sumarsono, di Jakarta, seperti dilansir laman Mediaindonesia.com, Selasa (10/3/2015).

Menurutnya ada sejumlah faktor yang sangat memungkinan bisnis perhotelan dan pariwisata bakal cerah. Faktor itu seperti langkah pemerintah meningkatkan anggaran promosi pariwisata Indonesia dari Rp250 miliar menjadi Rp1,2 triliun pada tahun 2015. “Kenaikan promosi wisata menjadi sinyal yang menggembirakan juga bagi lahan bisnis hotel,” ucapnya.

Selain itu, sambung dia, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke luar negeri juga bertambah dari tahun ke tahun.
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata per Desember 2014, pada tahun lalu masuk sebanyak 9,5 juta turis asing atau
pertumbuhannya sekitar 7,5%.

Di sisi lain, pertumbuhan kunjungan wisatawan ke Indonesia tergolong tinggi. Pasalnya pertumbuhan turis di Asia Pasifik hanya 5%. Sedangkan pertumbuhan turis di dunia sekitar 4,7%. Artinya, lanjut Dicky, pertumbuhan kunjungan turis asing yang tertinggi ada di Indonesia.

Ditambahkan, faktor lain yang membuat dirinya yakin bahwa kebijakan larangan PNS rapat di hotel tidak akan membuat bisnis perhotelan dan pariwisata gulung tikar, tak ambruk adalah semakin bertambahnya kelompok kelas menengah di negeri ini. Juga, penduduk kelas menengah di Indonesia sekitar 132 juta jiwa atau total 56% dari total populasi penduduk Indonesia.

Sebanyak 70% dari mereka masih berada di usia yang produktif. Konsumen ini cenderung sangat konsumtif. ”Mereka menjadikan hotel bukan barang mewah, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup,” sambungnya. ****

LEAVE A REPLY