Kurangnya Slot Penerbangan Ancam Target Kunjungan Wisman

0
120
Menteri pariwisata Arief Yahya

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Kurangnya slot penerbangan juga belum ada penerbangan langsung dari negara-negara potensial pelancong seperti China dan India menjadi salah satu faktor krusial terhambatnya pencapaian target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 15 juta turis asing sepanjang tahun 2017.

“Indonesia membutuhkan dua juta ‘seat’ (kursi pesawat) tahun ini. Baru ada tiga atau empat penerbangan langsung ke Indonesia, sehingga kita kalah dengan Thailand, Singapura dan Vietnam, dalam mendatangkan turis China. Juga, tidak ada ‘direct flight’ (penerbangan langsung) ke India, hasilnya ya nol dalam mendatangkan turis India,” ungkap Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya seperti dilansir Antara, Jumat (7/4).

Padahal, sambung Menpar, permintaan sangat banyak dari pasar-pasar potensial, baik dari Asia maupun Eropa bisa bertambah hingga tiga juta wisman. “Kami minta operator penerbangan baik maskapai, operator bandara maupun navigasi penerbangan untuk melihat peluang tersebut karena 80 persen lalu lintas wisman menggunakan transportasi udara,” jelasnya.

Menpar menilai LPPNPI/Airnav Indonesia memiliki peran penting dalam mendukung untuk peningkatan jumlah wisman ke Indonesia dengan memperbanyak jumlah slot penerbangan. “Kita tahu Airnav memegang peran sangat penting dalam hak konektivitas udara. Karena itu kita mencari solusi bagaimana target dua juta penumpang ini bisa tercapai,” katanya.

Dicontohkan dengan kondisi bandara yang tidak begitu berbeda, yaitu Bandara Gatwick London dengan Bandara Ngurah Rai, Bali, namun kapasitas slot masih terbilang jauh. “Gatwick itu 55 pergerakan pesawat per jam, Bali hanya 25, separuhnya, kalau kita belum siap paling tidak jangan separuhnya, harus lebuh dari itu,” kata Arief.

Dan untuk percepatan 10 destinasi utama pariwisata, sambung dia, dibutuhkan komitmen pemerintah untuk menjadikan bandara di destinasi tersebut menjadi bandara internasional dengan standar kelas dunia. “Tidak ada tawar menawar, kecuali kalau tidak mau menetapkan sebagai destinasi kelas dunia,” tegasnya.

Disebutkan, destinasi pariwisata Danau Toba, apabila wisman harus mengakses dari Bandara Kualanamu, maka dibutuhkan waktu tempuh enam jam. “Wisman sudah tidak mau, dikembangkanlah Bandara Silangit, saat ini akan dijadikan bandara internasional oleh Angkasa Pura II juga dengan Bandara Belitung,” katanya sambil berharap Bandara Komodo akan dijadikan bandara internasional juga tahun ini.

Direktur Utama LPPNPI/Airnav Indonesia Novie Riyanto mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan maskapai, operator bandara dalam hal ini PT Angkasa Pura I dan II serta Kementerian Perhubungan sebagai regulatoe untuk memaksimalkan slot penerbangan untuk menggenjot wisman.

“Airnav tidak bisa bekerja sendiri, harus ada kerja sama dengan AP dan Kemenhub dan kita koordinasi terus, ini memang terlihat mudah, tapi kenyataannya sulit apabila koordinasi tidak kita lakukan secara intens,” kata Novie.

Novie menjelaskan terkait kondisi Bandara Ngurah Rai Bali itu sangat terbatas dengan satu landasan pacu dan sisi-sisinya laut. “Saat ini sudah bertambah jadi 27 dan akan bertambah September atau Oktober jadi 30 pergerakan pesawat per jam,” pungkasnya. (*/ano)

LEAVE A REPLY