Konstribusi Wisata MICE Indonesia Diproyeksikan US$ 2,5 Miliar

0
496
Suasana TTC Travel Mart 2015 di hotel Redtop, Jakarta, dimana para penjual (seller) dan pembeli (buyer) produk wisata langsung memasarkan produk wisata mereka. ( foto: Hilda Sabri Sulistyo)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Pemerintah menempatkan wisata MICE ( Meetings, Inventions, Conferences, dan Exhibitions) sebagai produk unggulan pariwisata nasional karena kontribusinya terhadap kunjungan wisman maupun peningkatan perjalanan wisnus cukup besar.

“MICE masuk dalam lima teratas (top five contributors) dalam mendatangkan wisman, selain wisata belanja dan kuliner; wisata heritage & religi; wisata bahari; dan wisata olahraga. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengamanatkan agar pertumbuhan MICE ditingkatkan dari 5% menjadi 10% pada 2019 mendatang,” papar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara (Deputi BP3N) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Esthy Reko Astuty, pada Rapat Koordinasi MICE di Jakarta, Kamis (02/06/2016).

Selain pertumbuhannya meningkat, sambung dia, daya saing MICE Indonesia di tingkat global juga mengalami kenaikan dari kondisi saat ini menurut data ICCA berada di posisi 42 dunia dan berada di ranking 12 untuk kawasan Asia Pasifik (Aspas) meningkat di ranking 8 Aspas dengan jumlah kegiatan event yang juga meningkat dari sebanyak 76 event menjadi 150 event pada 2019.

”Bahkan, kontribusi MICE terhadap peningkatan kunjungan wisman dan pergerakan wisnus serta perolehan devisa juga akan meningkat signifikan diproyeksikan mencapai US$ 2,5 miliar,” ungkapmya.

Diharapkan, Rakor MICE menghasilkan pemikiran sebagai usulan yang dapat dilaksanakan oleh para pelaku bisnis MICE di Tanah Air dalam upaya memperkuat MICE Indonesia agar dapat memenangkan persaingan bisnis MICE di kawasan ASEAN maupun Aspas.

Asisten Deputi Pengembangan Segmen Bisnis dan Pemerintah, Deputi BP3N Kemenpar, Tazbir menjelaskan selama ini MICE Indonesia terpusat di Bali dan kota-kota besar di Jawa karena didukung dengan aksebilitas berupa jumlah penerbangan langsung, faslitas konvensi dan pameran, dan sumber daya manusia (SDM)nya. Dengan rakor ini, diharapkan dapat memicu daerah untuk serius mengembangkan MICE-nya sesuai pontensi yang ada.

“Kalau punya banyak obyek alam dan budaya, sementara terbatas hotel dan venu konvesi atau pamerannya ya kembangakan wisata incentive saja, dan sebalaiknya kembangkan wisata konvensi dan pameran,” terangnya sambil ditambahkan event MICE dalam negeri terus meningkat terutama di lingkungan korporasi atau bisnis dan pemerintahan baik yang diselenggarakan sendiri maupun diserahkan kepada event organizer atau PCO (Professional Conference Organizer).

Peningkatan kegiatan MICE dalam negeri ini telah menciptakan peluang pasar yang besar bagi para PCO di Tanah Air. Pangsa pasar di dalam negeri yang tumbuh besar menjadi kekuatan untuk memenangkan bisnis MICE global utamanya di kawasan Aspak. Meningkatnya kegiatan MICE di dalam negeri antara lain karena banyak daerah yang kini memiliki fasilitas konvensi dan pertemuan yang representatif. “Fasilitas MICE di daerah gencar dipromosikan. Daerah gencar menawarkan diri sebagai daerah yang siap dikunjungi wisatawan MICE,” terangnya.

Dilanjutkan, daerah harus perkuat wisata MICE, karena wisata ini bisa membawa dampak besar untuk kemajuan daerah maupun untuk pariwisata itu sendiri. MICE merupakan luxury product ebagai produk wisata sebuah negara maju. “MICE ini akan cepat berkembang kalau diikuti dengan perkembangan transportasi, SDM, dan fasilitas,” terangnya.

Sejumlah kota besar di Tanah Air MICE-nya akan maju, terutama 10 destinasi wisata MICE yakni Jakarta, Bali, Batam, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Palembang, Medan, Manado, dan Makassar. “Kota-kota lain sendirinya akan mengikuti asal dibarengi dengan kemudahan akses, ketersedian hotel, venue konvensi dan SDM yang cakap di bidang MICE,” sambungnya. (endy)

LEAVE A REPLY