Konser Jazz Ijen Dikecam Aktivis Lingkungan

0
943

BANYUWANGI, test.test.bisniswisata.co.id: Organisasi pecinta lingkungan, Banyuwangi’s Forum For Environmental Learning (BaFFEL), menggelar aksi menolak, memprotes dan mengencam pertunjukan musik jazz di Pos Paltuding Gunung Ijen, yang digelar Pemerintah Banyuwangi, Sabtu, 8 November 2014.

Sambil bertelanjang dada, para aktivis BaFFEL membentangkan spanduk bertuliskan: “Cagar Alam Ijen Kawasan Konservasi, Bukan Konser Musik”. Spanduk itu mereka bentangkan di pinggir jalan masuk menuju kawasan Gunung Ijen.

Aksi tersebut berlangsung sekitar dua jam. Para aktivis membubarkan diri setelah rombongan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan musisi pengisi acara lewat di jalan utama itu.

“Kami menyayangkan langkah bupati yang ngotot menggelar musik jazz di area konservasi. Musik jazz bisa mengganggu kehidupan di hutan cagar alam Ijen,” komentar Kordinator BaFFEL, Ari Restu

Padahal Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA) telah melarang acara itu melalui surat No. S. 46/BBKSDA.JAT.2.2/2014 tertanggal 5 November 2014. Ari menyesalkan, surat larangan BBKSDA itu justru diabaikan oleh Pemerintah Banyuwangi. “Pertunjukan jazz seharusnya bisa digelar di luar kawasan konservasi,” ucap dia.

Larangan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur tak memberi izin kepada pemerintah Banyuwangi untuk menyelenggarakan pertunjukan musik Jazz di Pos Paltuding, Gunung Ijen, karena kawasan itu merupakan wilayah konservasi, kata Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah III Jember, Sunandar Trigunajasa,

Balai Besar KSDA mengimbau pemerintah Banyuwangi untuk menggunakan area lain di luar kawasan konservasi. “Surat tersebut sudah dikirim ke pemerintah Banyuwangi, namun pemerintah Banyuwangi tetap ngotot melaksanakan acara berdalih bahwa acara itu untuk kemanusiaan dan kepedulian terhadap warga yang terdampak kebakaran hutan Gunung Ijen.

Balai Besar KSDA pun, kata dia, tak bisa membubarkan acara itu. Sebab, dikhawatirkan bakal terjadi kericuhan. “Tapi kami akan tetap turun untuk memantau,” ujar Sunandar.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi Muhammad Yanuar Bramudya mengatakan pemerintah Banyuwangi telah menandatangani kesepakatan dengan Kementerian Kehutanan untuk mempromosikan Ijen sebagai obyek wisata.

Pemerintah Banyuwangi tetap berkomitmen membatasi agar Jazz Ijen tidak padat penonton. Caranya dengan melarang sepeda motor naik hingga ke kawasan Paltuding. “Semua harus naik mobil,” katanya sambil menambahkan Jazz Ijen juga akan disertai dengan aksi kepedulian lingkungan berupa penanaman pohon dan pelepasan burung merpati.

Jazz Ijen yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB. Ribuan orang hadir menonton acara yang diisi oleh trio musisi jazz era 80an yakni Faris RM, Dedy Dhukun dan Imaniar itu.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, menolak berkomentar terkait tak adanya izin BBKSDA atas pertunjukan musik jazz tersebut. “Saya tak mau komentar, nanti yang tayang malah itu (tidak adanya izin),” katanya seperti dikutip laman tempo.co, Ahad (09/11/2014)

Sejumlah penyanyi yang mengisi acara itu, di antaranya Fariz Rustam Munaf, Dedy Dhukun, Imaniar Noorsaid dan Inang Noorsaid sudah datang ke lokasi sejak Jumat.

Fariz Rustam Munaf mengatakan dirinya akan membawakan lagu-lagu yang berjaya di era 80-an, seperti Sakura dan Barcelona. Lagu-lagu itu akan dinyanyikan lebih enerjik dan unik agar dapat membawa penonton ke era 80-an. “Kejayaan lagu-lagu 80-an itu belum hilang. Apalagi sekarang banyak di-recycle (daur ulang),” kata Fariz.

Inang Noorsaid bercerita bahwa dia akan mengkolaborasikan lagu-lagu jazz Barat dengan perkusi etnik Banyuwangi. Dengan demikian, akan dihasilkan aransemen jazz etnik dengan karakter Banyuwangi yang cukup kuat. “Banyuwangi itu memiliki musik sendiri yang sangat berbeda dengan Bali dan Surabaya,” kata adik dari Imaniar Noorsaid ini.

Menurut Inang, ada sekitar sepuluh pemusik yang terlibat dalam kolaborasi ini. Mereka mempersiapkan seluruh materi lagu dengan waktu cukup singkat.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan “Jazz Ijen” ini dipakai untuk kegiatan kemanusiaan. Setiap penonton diwajibkan membayar donasi senilai Rp 5 ribu. Hasil donasi dikelola Palang Merah Indonesia untuk membantu penambang belerang dan warga sekitar Gunung Ijen yang terdampak kebakaran hutan. “Ada penanaman pohon dan pelepasan merpati,” kata Bupati Abdullah. *

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.