Konferensi Kota Kreatif Pertama Digelar di Solo

0
380

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Solo mendapat kepercayaan sebagai kota pertama penyelenggara Indonesia Creative Cities Conference ( ICCC 2015),  meski belum mendapat predikat sebagai kota kreatif, penunjukkan tersebut telah dilakukan berdasarkan konferensi Kota Kreatif yang dilakukan di Bandung pada 26-27 April lalu.

“Dibeberapa kota, penerapan kota kreatif terbukti menjadi salah satu daya pikat terhadap pariwisata serta penggerak perputaran ekonomi. Hal inilah yang memicu kreativitas warga untuk mewujudkan kota yang menarik untuk dikunjungi wisatawan,” ujar Menteri Pariwisata, Arief Yahya pada Jumpa Pers ICCC di Gedung Kementerian Pariwisata, Jakarta Pusat.

Arief mengatakan industri kreatif merupakan salah satu bidang yang bisa diunggulkan jika ingin membuat Indonesia maju, sebab, sulit untuk menaruh harapan di industri manufaktur karena China sudah merajainya. Menurutnya negara China bisa menang di industri kreatif karena manufacturing sudah hampir seluruhnya di China.

“Semua kota yang ada di Indonesia memiliki daya tarik yang apabila dikembangkan dapat menjadi ciri khas yang menarik dan mendatangkan wisatawan. Di Indonesia sendiri, sudah ada beberapa daerah yang telah mendapat pengakuan sebagai kota kreatif. Ada baiknya hal ini terus ditingkatkan secara kualitas dan kuantitas”. Lebih lanjut Menpar, mengatakan,

Upaya untuk mendorong perkembangan ekonomi kreatif diawali dengan terbitnya Inpres No. 6, tahun 2009. Upaya ini semakin dikukuhkan melalui pembentukan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif (Kemenparekraf) yang memulai kiprahnya pada 19 Oktober 2011. Pada tahun 2015, terbit Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2015 yang menjadi dasar pembentukan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF).

“Sejak itu, sejumlah kota mulai menerapkan pengembangan ekonomi kreatif dan selanjutnya menjadi kota kreatif. Sebut saja Bali, Bandung, Jogja, Pekalongan dn Solo,” sambung Arief.

Dalam ICCC yang pertama ini akan ada 60 kota di Indonesia yang diundang. Kota-kota terpilih yang diundang merupakan anggota Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), kota anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), kota yang termasuk dalam hasil index competitiveness survey majalah Tempo, kota yang mendapatkan penghargaan Kota Cerdas dari harian Nasional Kompas, asosiasi praktisi profesional di 15 subsektor Industri Kreatif dan berbagai pihak yang mewakili pengembangan kota kreatif di Indonesia.

Dengan terselenggaranya ICCC ini, diharapkan akan terbentuk Indonesia Creative Cities Network (ICCN) sebagai bagian dari program pengembangan industri kreatif. Sehingga setiap kota bisa menghadirkan karya dan produk unggulan mempersiapkan diri dalam program Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Sementara pada kesempatan yang sama Ketua ICCC, Irfan Sutikno, menjelaskan “Konferensi ini diadakan dengan dengan tujuan untuk mengkristalisasikan 10 konsep kota kreatif yang nantinya bisa dijadikan konsepsi operasional sebagai landasan kerja”.

ICCC juga bertujuan untuk menghubungkan kota dan kabupaten di Indonesia untuk saling berbagi pengalaman, ide-ide, dan praktek-praktek terbaik untuk pengembangan budaya, sosial, dan ekonomi.

“Kita sama-sama belajar membangun wilayahnya masing-masing pada untuk mengembangkan pariwisata kreatif melalui pengembangan industri kreatif,” ungkapnya.

Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kerja sama industri kreatif dengan memastikan peran kota dan kabupaten di Indonesia sebagai pusat keunggulan dan kebutuhan untuk saling mendukung antar kota-kota di Indonesia.

Menurut Irfan, tujuan akhirnya disamping terbentuknya network mudah-mudahan konferensi ini juga bisa menghasilkan kota kreatif yang mewakili di kancah global.

Irfan menambahkan, “Dibandingka dengan Bandung, Solo memang belum kreatif. Tapi Solo bisa berkontribusi lebih baik, karena memiliki pola hubungan yang lebih baik dibandingkan kota lain. Pola hubungan baik ini antara akademisi, pebisnis, pemerintah, dan komunitas sudah terjalin berkepanjangan sejak 10 tahun lalu”.(evi)

LEAVE A REPLY