Komunitas Media Sosial Diajak Promosikan Wisata Sleman

0
600
Komunitas jelahi wisata Gunung Merapi di Sleman (foto: http://www.mingkem.com)

SLEMAN, test.test.bisniswisata.co.id: Komunitas media sosial semakin merebak, seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta memanfaatkan komunitas media sosial, dengan memberi peluang luas untuk ikut serta berpartisipasi mempromosikan potensi dan daya tarik pariwisata Sleman.

Upaya ini telah didiawali dengan diadakannya familiarization trip (famtrip) bagi 20 komunitas media sosial dan travel blogger ke beberapa destinasi Sleman. Objek wisata yang dikunjungi meliputi Museum Gempa Prof dr Sarwidi, Rumah Budaya “Omah Petruk”, Desa Wisata Pulesari dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Sri Rejeki. “Ternyata sambutannya sangat luar biasa,” papar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ayu Laksmidewi, Rabu (2/12/2015).

Seorang peserta famtrip asal Jakarta Ejie Belula yang mengelola ejiebelula.com, objek kunjungan famtrip tersebut sangat menarik dan memberi referensi yang bermanfaat sebagai bahan tulisan. “Famtrip kali ini memberikan pengalaman yang berbeda dan unik karena peserta diajak untuk mengunjungi destinasi yang masih tergolong baru baginya,” katanya.

Hajar Pamundi yang mengelola FB Jogjaku terkesan saat berkunjung ke Museum Gempa Prof Dr Sarwidi. “Konten dan koleksi yang ada didalamnya merupakan sarana edukasi kepada masyarakat untuk menghadapi dan memahami bencana secara positif,” katanya.

Di antara edukasi tersebut adalah bagaimana cara-cara menghadapi bencana khususnya gempa bumi. Terlebih dari itu Museum Gempa Prof Dr Sarwidi juga memberi dan mengenalkan teknologi rumah tahan germpa yang diberi nama Barrataga (Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa). Objek kunjungan yang lain yaitu Rumah Budaya “Omah Petruk” yang berlokasi di dusun Karang Kletak Hargobinangun Pakem juga memberikan pengalaman tersendiri kepada para peserta.

Menurut Antok sebagai salah satu pengelola, bahwa rumah budaya ini mengakomodasi berbagai perbedaan yang ada di negeri ini, baik menyangkut perbedaan agama, ras, budaya, suku, bangsa, dan lainnya.

“Intinya di sini merupakan tempat yang cocok untuk terjadinya akulturasi budaya yang tentunya akan memberikan kontribusi terhadap upaya membangun persatuan dan kesatuan bangsa. Bahkan pada 2014 silam dipilih sebagai ajang penyelenggaraan event internasional Asia Tri,” katanya. (*/ndy)

LEAVE A REPLY