Komunitas Mata Air Gelar Pasar Papringan Sedot Turis Asing

0
386
Komunitas Mata Air Gelar Pasar Papringan (Foto: Merdeka.com)

TEMANGGUNG, Bisniswisata.co.id: Komunitas Mata Air membuka secara perdana sebuah lokasi perdagangan dengan konsep tradisional yang cukup unik bernama ‘Pasar Papringan’ di Dusun Ngadiprono Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung, Minggu (14/5/2017).

Ketua Komunitas Mata Air, Imam Abdul Rofik (29) menyebut, konsep membuat sebuah pasar di bawah rimbunan vegetasi tanaman bambu ini sebenarnya terinspirasi oleh pasar papringan yang sebelumnya pernah digelar di Dusun Kelingan Desa Caruban Kecamatan Kandangan beberapa waktu lalu.

Diselenggarakan di atas lahan bambu seluas 2.500 meter persegi, pasar ini hanya akan dibuka setiap Minggu Wage dan Pon saja, mulai pukul 6.00 sampai 12.00 WIB. Tak hanya sebagai upaya konservasi alam, terutama vegetasi tanaman bambu, pasar papringan juga ditujukan untuk mengangkat segala kearifan lokal masyarakat sekaligus merangsang pertumbuhan ekonomi warga setempat.

“Dulu tempat ini hanya digunakan warga setempat sebagai lokasi pembuangan sampah. Nah, bermula dari rasa kepedulian, akhirnya kami sepakat untuk menyulapnya menjadi pasar papringan,” jelasnya.

Di dalam pasar ini, lanjut Imam, terdapat 42 lapak dagangan yang dijalankan mayoritas oleh warga di dusun tersebut mulai olahan kuliner khas, hasil pertanian, hingga kerajinan produksi lokal masyarakat.

Uniknya, pengunjung dan pedagang di tempat ini diwajibkan bertransaksi menggunakan kepingan uang berbentuk persegi panjang yang terbuat dari bambu. Setiap keping bernilai Rp 2.000 yang dapat ditukarkan di berbagai titik di dalam komplek pasar papringan.

“Ada yang menjual nasi jagung, mangut, jamu, dawet anget khas Ngadiprono, jajanan pasar, serta yang paling khas adalah makanan bernama Nglemeng. Yaitu campuran ubi dan gula merah yang dimasukkan ke dalam batang bambu dan dimasak dengan cara dibakar. Harganya macam-macam, ada yang 1 keping dan seterusnya. Semua ini untuk memperkenalkan kekayaan produk lokal masyarakat dusun,” imbuhnya.

Di hari pertama pembukaan, pasar ini mampu menyedot animo sekitar 1.000 pengunjung. Mereka berasal dari Temanggung dan sekitarnya, luar daerah seperti Bali dan Surabaya, hingga wisatawan mancanegara. Di antaranya Thailand, Amerika Serikat, dan Jepang.

Salah seorang warga setempat yang turut berdagang nasi jagung, Noimah (47) mengaku dibukanya pasar ini cukup berpengaruh dengan pendapatan serta perekonomian warga. Ia menjual 1 porsi nasi jagung dengan harga 2 keping dan 3 sampai 4 keping apabila ditambah lauk seperti telur atau tahu.

“Lumayan belum sampai habis saja saya sudah dapat 110 keping koin bambu. Lumayan untuk tambahan keluarga,” kata wanita yang sehari-hari hanya menjadi peternak kambing ini.

Sementara itu, pengunjung asal Bangkok Thailand, Teerapoj Teerapos (27) mengaku sangat takjub dengan konsep pasar papringan di Dusun Ngadiprono ini. Pasalnya, ia belum pernah melihat pemandangan serupa di negaranya, khususnya Bangkok.

“Its my first time visit Indonesia. Pasar papringan very nice and inspiratif, may be for my country, Thailand. In Bangkok all bamboo trees vegetation had been cut and used to rice plant. So no one village scenary like this,” ungkapnya seperti dilansir laman Merdeka.com.

Bupati Temanggung, Bambang Sukarno yang hadir dalam pembukaan berharap inspirasi-inspirasi seperti ini dapat terus dikembangkan oleh masyarakat agar mampu menggerakkan perekonomian berbasis kerakyatan. “Luar biasa, patut menjadi contoh yang lain,” tukasnya.

Singgih S Kartono, selaku pendamping penyelenggara menyebut dipilihnya konsep pasar bambu lantaran sejauh ini rumpun bambu di berbagai wilayah pedesaan sangat rentan digusur lantaran dianggap sebagai lokasi yang kotor, banyak sampah, dan dipenuhi nyamuk.

Namun demikian, sejatinya bambu memiliki nilai estetis tinggi sekaligus beragam manfaat. Mulai penghasil oksigen, menyuburkan tanah, bahan material bangunan di masa mendatang mengingat teksturnya yang kuat, hingga mengandung keterikata psikis yang kuat dengan masyarakat desa.

“Ini adalah harta karun kita. Kami ingin kebun bambu kembali dicintai masyarakat, menghidupkan nilai sosial, sekaligus memberikan nilai ekonomis tinggi. Apalagi bambu di Indonesia sangat istimewa karena tumbuh berumpun dan memberikan celah ruang untuk beraktifitas. Beda dengan di luar negeri seperti China di mana bambu tumbuh sendiri-sendiri sehingga sangat rapat,” harapnya.

Imbuhnya, selain mengajarkan para pedagang untuk menyajikan makanan berkualitas dari segi harga, rasa, dan visual, diselenggarakannya pasar papringan juga memberikan berkah bagi pemilik lahan. Mereka mendapat retribusi pendapatan Rp 10.000 dari masing-masing lapak yang ada.

Dengan tingginya animo pengunjung, ia memiliki keinginan untuk mengembangkan konsep-konsep kearifan lokal serupa di tempat lain, namun tanpa meninggalkan nilai otentik. Terutama untuk menjadikan masyarakat kembali menggemari sesuatu yang nyaris dilupakan.

“Memajukan masyarakat adalah proyek jangka panjang. Jadi pendekatannya harus benar dan konsisten. Sayang selama ini pemerintah jarang melibatkan pihak luar dalam menyusun berbagai rencana,” pungkasnya. (*/mdk)

LEAVE A REPLY