Kla Project: Musikalitas Musisi Lokal Kian Terpuruk

0
868

YOGYAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Kla Projec, kelompok musik legendaris Indonesia sedih dengan kondisi musikalitas mayoritas musikus Indonesia, yang semakin anjlok, terpuruk. Penurunan kualitas merupakan konsekuensi dari lesunya industri musik di dalam negeri pada beberapa tahun belakangan ini.

Kondisi suram industri musik saat ini, mengingatkan saat situasi di akhir dekade 1980-an. Di saat itu, industri musik Indonesia disesaki musik-musik pop cengeng, yang pasarnya lebih laku bahkan digemari masyarakat.

“Sekarang kita sudah tertinggal jauh dengan musik yang dihasilkan musikus luar negeri, termasuk Asia yang makin ngetrend. Seperti musik K-Pop, bahkan musik India yang kian merasuki masyarakat Indonesia,” komentar Adi Adrian, pemain keyboard KLA Project di Yogyakarta, akhir pekan kemarin.

Selain itu, lanjut Pria berkacamata minus yang terjun di dunia musik sejak tahun 1980-an, industri musik di dalam negeri telat mengantisipasi datangnya era musik digital. Di era digital, masyarakat lebih suka mengunduh lagu-lagu terkenal dari jalur daring secara ilegal.

Transisi dari bentuk fisik (kepingan) ke bentuk digital masih belum begitu sukses dijalani oleh industri musik di Indonesia. Akibatnya, digitalisasi yang seharusnya menjadi ladang bisnis menguntungkan bagi musisi, ternyata tak berimbas signifikan. Akibatnya, apresiasi masyarakat terhadap karya dari para musisi pun masih terbilang sangat rendah, ucapnya.

Fenomena itu bermuara pada semakin malasnya musisi nasional mengeluarkan album musik, yang baru. “Musisi semakin takut albumnya tidak laku dijual karena pembajakan lagu semakin mudah,” sebut Adi sambil manambahkan jika merilis album, para musikus tidak menggarap serius albumnya seperti dahulu.

Adi menambahkan, industri musik Indonesia saat ini beruntung karena diselamatkan dunia pertunjukan hiburan di televisi. Lantaran industri musik saat ini ditopang oleh sejumlah acara hiburan di televisi, para musikus muda memilih mengeluarkan single daripada album. “Tujuannya, mereka bisa terus diundang ke variety show di televisi agar eksis,” imbuh dia.

Kendati banyak musikus lokal gentar merilis album baru, Kla Project yang kini beranggotakan Katon Bagaskara (vokal), Lilo (Romulo Radjadin-gitar), dan Adi tetap berani merilis album baru. Album bertajuk Grand Klakustik tersebut baru saja dirilis pada November lalu.

Yang membanggakan, timpal Katon, Kla berani mengeluarkan album dalam bentuk fisik format compact disk (CD) kendati
berbiaya besar.”Kami bangga masih berani mengeluarkan album dalam bentuk fisik, karena hal itu bukan hal yang gampang sekarang,” timpal sang vokalis seperti dilansir laman Antara.

Dikatakan, album Grand Klakustik yang dirilisnya tersebut memang tak berisikan lagu-lagu baru. Album yang berformat DVD hasil live recording konser Kla di Jakarta Convention Center tahun lalu, diisi lagu-lagu yang beraransemen jauh lebih baru. “Bahkan jauh berbeda dengan aransemen lagu aslinya. Karena, jujur saja, sebagai musisi penciptanya, kami pun bosan jika harus terus-terusan membawakan lagu itu dengan aransemen yang sama,” ucapnya.

Terlebih, dengan keterlibatan orkestra yang terdiri dari 40 orang jelas membuat lagu-lagu lama itu terasa jauh lebih baru. Tak hanya itu, pihaknya pun memformat Grand Klakustik tersebut menjadi 2 keping. Keping pertama telah dirilisnya 14 November lalu. Sedangkan untuk keping kedua, Adi mengatakan bahwa baru akan dirilisnya Januari 2015 mendatang.

Begitu pula dengan Katon Bagaskara. Ia pun mengakui bahwa meski saat ini pembajakan karya musik digital sangat marak, namun ia percaya karya yang dirilis dalam bentuk kepingan masih memiliki peminatnya. “Meski sedikit, saya percaya, masih ada kok yang mau membeli CD original,” ucapnya.

Memang, aransemen baru terhadap lagu-lagu lama yang ada di album Grand Klakustik adalah bentuk kreativitasnya sebagai musisi. Sebagai vokalis, ia sendiri merasakan perbedaan aransemen tersebut. Ia menilai lagu-lagu KLA Project saat ini terasa lebih segar.

Dalam konser di Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo Yogyakarta itu, KLa Project sukses mengobati kerinduan para
penggemarnya di Yogyakarta. Setidaknya 12 lagu mampu membuai penonton dalam buaian kisah romantis berlatar historis.

Tembang seperti Satu Kayuh Berdua, Terkenang, Menjemput Impian, Pasir Putih, dan Terpurukku dapat mengobati para KlaNese, julukan penggemar Kla Project, yang sudah lama tidak melihat konser Kla dengan personel lengkap.

Musik yang dihadirkan Kla Project pun terasa sedikit berbeda dengan munculnya permainan biola, saksofon, dan flute dari additional players. “Mari kita nyanyi bersama-sama,” kata Katon mengajak penonton untuk larut dalam musik yang dihadirkan.

“Saya ingat betul saat pertama kali main di Yogya. Penontonnya tepuk tangan dan bilang lumayan. Di konser malam ini,
banyak wajah yang familier. Ada yang datang dari Purwokerto, Nganjuk, Pati, dan Jakarta juga,” ujar Katon. ***

LEAVE A REPLY