Ketua BPD PHRI Bali 2015 – 2019: Simulakra Bisnis Kepariwisataan Bali

0
722
Musda ke- 13 BPD PHRI Bali

Mangupura Bisnis Wisata.co.id ,- Cokorda  Artha Ardana Sukawati yang karib disapa Cok Ace, untuk ke tiga kalinya memimpin BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, periode tahun 2015- 2019.  Menghadapi tugasnya pada period eke 3, Cok Ace mengakui bahwa budaya industri dalam kepariwisataan, menyamarkan jarak antara fakta dan informasi, antara informasi dan entertainment, antara entertainment dan politik.

Pelaku industri yang nota bena anggota PHRI, menurut Cok Ace disela penyelenggaraan Musda BPD PHRI Bali  di Nusa Dua,  tidak sadar akan pengaruh simulasi dan tanda (signs/simulacra) yang manipulatif tersebut. Ikut terhanyut dalam dikotomi pilihan pariwisata budaya atau sesuatu yang baru, hanya untuk tetap menunjukkan bahwa PHRI masih eksis, ada.

Ketua BPD PHRI Bali (merah) bersama pengurus Dekari Bali
Ketua BPD PHRI Bali (merah) bersama pengurus Dekari Bali

Citra PHRI saat ini adalah simulacrum  PHRI sebelumnya yang keaslian jiplakannya tidak dapat dibedakan oleh siapa pun, dan tanpa dikenali sejak kapan terjadi. Ketika tidak ada lagi kebenaran atau realitas  asosiasi, maka tanda asosiasi tidak lagi melambangkan segala sesuatu. Tidak mampu menunjukkan keberfungsian, pengabdiannya (dharmaning urip lembaga dan organic didalamnya) baik bagi anggota mau pun asosiasi terkait.

Contoh bagaimana Permen no 52 mengamputasi eksistensi PHRI sebagai control hal kualitas keanggotaan PHRI. Rekomendasi PHRI yang diposisikan sebagai pelengkap nyaris menjadikan PHRI macan ompong dengan tidak berhaknya PHRI melakukan fungsi klasifikasi hotel. Sementara, Bali dengan kekhasan Perda Pariwisata Budayanya, memiliki kriteria muatan lokal terhadap investasi perhotelan mau pun usaha ikutannya di Bali. Kebijakan yang sangat merugikan bagi Bali dalam kaitan destinasi pariwisata budaya Bali berbasis Hindu.

Begitu juga hal penetapan Bali sebagai destinasi wisata syariah yang jelas Bali memiliki Perda no 2 tahun 2012 hal pariwisata budaya berbasis ajaran Hindu. Protes bermunculan hampir disemua lini kehidupan sosial masyarakat Bali, LSM berbasis Hindu pun menggelar unjuk rasa. Pada akhirnya GIPI Bali mengirim nota keberataan kepada pihak pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata.

Tidak hanya persoalan tersebut, ungkap Cok Ace, simulakra pembangunan kepariwisataan juga berlaku ditataran birokrasi terkait. Contoh, saat menentukan kelayakan investasi ditanamkan di satu daerah. Kajian kelayakan dilakukan tidak kurang dari tujuh (7)  institusi berkaitan berbekal rekomendasi PHRI. Kenyataan dilapangan saat ini, zoning, peruntukan kawasan makin carut- marut, tidak jelas. Dengan kasat mata kita bisa merasakan ketidak layakan satu kawasan untuk satu investasi. Berkaitan dengan hotel, restoran dan usaha ikutannya yang berdiri di areal non komersial, tanpa kelengkapan fasilitas pendukung. Contoh hotel  kapasitas besar berada di dalam gang sempit tanpa parkir.

Sementara secara nasional Indonesia, selalu berbicara hal pembangunan pariwisata berkelanjutan. Berbicara tentang keunikan, keberbedaan, kenyamanan, keamanan, kenangan indah, pengalaman tak terlupakan. Berbicara tentang etika bisnis yang saling menguatkan bukan saling ‘’memakan’’, melalui persaingan yang sehat.

Realita dilapangan, pariwisata di Bali dipandang sebagai monster kesejahteraan masyarakat Bali empunya destinasi pariwisata budaya. Simulakra pembangunan yang secara tak sadar meminggirkan pelaku dan budayanya, atas nama kepariwisataan, tegasnya.

Kedepan dengan kepengurusan baru PHRI Bali tak hendak membiarkan asosiasi hanya sekadar pelengkap kepariwisataan Bali. Dan menjadi tumpuan citra buruk pembangunan di Bali. Sejatinya  kepariwisataan adalah  industri yang membuka pilihan luas dan lebar, ragam pilihan  akan dibawa kemana destinasi secara holistic. Kenyataannya ‘’blunder’’ dalam praktik kesehariannya. Bali yang mencanangkan diri pada tataran pariwisata budaya, dihadapkan pada target kunjungan mass tourism. Perdebatan antar pilihan bertahan pada kaidah pariwisata budaya atau beralih pada mass tourism bergulir menggurita dikalangan pelaku industri baik yang berada diasosiasi utama mau pun industri ikutannya.  (dwi;bisniswisata.co@gmail.com)

 

LEAVE A REPLY