Kesadaran Wisatawan Rendah, Raja Ampat Tercemari Sampah

0
1842
Sampah dan kura-kura mati di Raja Ampat (foto Robben Sauyai)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Destinasi wisata Raja Ampat tidak seindah dulu, sudah berubah total. Perubahan itu terjadi sejak dua tiga tahun terakhir. Wisatawan dari berbagai mancanegara juga turis dalam negeri, menyerbu untuk berwisata menikmati keindahan taman laut dengan terumbu karang, jutaan ikan hias yang mempesona, pantai yang bersih dan laut biru bagaikan kristal abadi.

Sayangnya, setiap wisatawan yang datang lalu pergi selalu meninggalkan sampah. Tak ada yang peduli dengan sampah yang dibawa lantas ditingalkan. Wisatawan mungkin berpikiran bahwa sampah akan disapu oleh alam, atau mengharapkan pegawai home stay, resort maupun penduduk setempat untuk membersihkan. Padahal tidak demikian, masyarakat juga punya kesibukan ya nggak hanya ngurusi sampah.

Kondisi ini diperparah dengan belum tersedianya penanganan sampah yang baik. Akibatnya, pantai berubah jadi kotor, jorok. Terumbuh karang tidak tumbuh subur, berkembang malah mati. Ikan hias menghilang bahkan ditemukan dalam kondisi memprihatinkan, nyawanya melayang. Juga di perairan dangkal lebih banyak tumbuh rumput laut daripada coral api seperti dahulu.

Edo Kondologit (47), penyanyi kelahiran Sorong Papua mengaku prihatin, sedih dengan kondisi Raja Ampat karena sudah ditemui sampah dimana-mana yang jumlahnya semakin menumpuk. Sampah itu tidak hanya dipingir pantai namun sudah menyebar sampai ke tengah laut.

“Saya memohon agar wisatawan yang datang ke Raja Ampat ikut menjaga kawasan itu. Papua itu, kan, ’surga’ kecil yang jatuh di bumi. Jadi, mari kita jaga agar tetap elok,” saran Edo yang baru selesai mengambil gambar untuk film Guardians of Raja Ampat,”

Film itu bercerita tentang pentingnya kita menjaga konservasi. Hal itu tak hanya harus dilakukan oleh penduduk lokal di Raja Ampat, Papua, tetapi juga semua pihak, termasuk wisatawan dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia demi mewujudkan kondisi lingkungan yang lebih baik.

”Kita semua harus lebih cinta lingkungan. Aksi yang bisa kita lakukan pun sebenarnya tak sulit, cukup dengan tidak membuang sampah sembarangan agar laut tetap bersih, Raja Ampat tetap asri” lontarnya.

Di Pantai Waisai Torang Cinta, Waisai, Kabupaten Raja Ampat, sampah bungkus rokok, botol minuman, bungkus mie, permen, roti bahkan pembalut wanita juga kondom ada dibeberapa titik.

Pantai memiliki keindahan deburan ombak dan hembusan angin serta pepohonan kelapa yang ada di sepanjang pantai ini menjadi tujuan wisata baru wisatawan dunia. Di beberapa titik juga terdapat beberapa pondok beratap ilalang yang bisa digunakan beristirahat.

Waisai merupakan ibu kota Kabupaten Raja Ampat. Dari Sorong, Waisai bisa ditempuh selama 1,5 jam hingga dua jam menggunakan kapal cepat. Di luar Waisai masih banyak terdapat lokasi-lokasi wisata lainnya seperti Pantai Wayag yang memiliki gugusan pulau-pulau kecil yang indah dan Pulau Misool yang memiliki terumbu karang spesifik yang tidak dimiliki di kawasan lain.

Sampah juga penuhi pantai Pulau Kri. Di Pulau ini sebelumnya hanya ada satu homestay Koronu Fyaks, namun kini sudah banyak homestay-homestay baru sehingga pemandangan alami Pulau Kri berubah total dengan berdirinya bangunan. Nah sisa tebangan pohon yang dipakai untuk membangun homestay itu dibiarkan berserakan. Bahkan membaur dengan sampah lainnya.

“Memang hati saya sangat miris, risau dan cemas dengan keadaan alam Raja Ampat saat ini akankah 5 tahun atau sampai akhir jaman Surga Raja Ampat tetap lestari alam beserta isinya?,” papar Robben Sauyai, pecinta lingkungan yang suka snorkling.

Dilanjutkan saat snorkling tiba-tiba kepala menyeruduk setumpuk sampah anorganik berupa styrofoam, gelas kemasan air mineral, juga sandal jepit, bahkan pampres bayi. “Memang sampah nya ga separah dan segawat seperti di teluk Ambon, namun bila tak segera ditangani akan berdampak buruk terhadap taman laut nasional Raja Ampat,” sarannya.

Diceritakan, usai snorkling lantas berjalan menulusuri pesisir pantai berpasir putih bersih, ditemukan banyak sampah anorganik, mulai plastik, bungkus rokok, botol minuman, kaleng minuman. “Masalah sampah adalah masalah serius, wistatawan, warga juga pemerintah harus bertindak. Lakukan tindakan nyata,” pintanya.

Bagi wisatawan, lanjut dia, jangan pernah membuang sampah ke laut, terlebih kalau trip antar pulau usahakan membawa bekal makanan memakai rantang dan membawa botol minuman milik sendiri. “Jangan mau dan tolak dengan keras bila jasa travel membungkus bekal makanan dengan kotak styrofoam dan air minum kemasan. Karena sampah-sampah inilah yang mendominasi,” paparnya.

Menurutnya, pemerintah pusat dan daerah wajib mengalokasikan dana, tenaga, serta melakukan sosialisasi larangan keras membuang sampah ke laut. Juga daripada buang-buang uang triliyunan rupiah untuk PROGRAM SAIL, yang manfaatnya tidak sampai ke masyarakat bawah, “Apalagi lingkungan hidup, mendingan buat bayar aparat khusus patroli sampah laut,” lontarnya.

Diakuinya, saat habis diving di dive spot Cape Kri, David wisatawan asal Ausie malah sibuk ngumpulin sampah daripada menikmati divingnya. Saat muncul dipermukaan laut usai diving david berujar ” HI, Guys, this is The Indonesia National Marine park renowned in the world, but what i can? thought only a small piece of plastic, but it”s very dangerous for coral and fish…” (endy)

LEAVE A REPLY