Kenali Sosok Konsumen Untuk Memudahkan Pemasaran Produk

0
189

Suasana Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan dan Perumusan Strategi Kreatif Prioritas Unggulan Indonesia menjadi Pusat Fashion Muslim Dunia (foto: bundayoely)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Mengenali sosok konsumen dalam belanja, akan mempermudah produsen atau penjual saat memasarkan produknya.

Begitu juga dengan konsumen muslim. Semakin makmur mereka, semakin knowledgeable mereka, dan semakin technologysavvy, justru mereka semakin religius.

“Mereka semakin mencari manfaat spiritual atau spritual value, dari produk yang mereka beli dan konsumsi,” kata desainer Irna Mutiara dalam Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan dan Perumusan Strategi Kreatif Prioritas Unggulan Indonesia menjadi Pusat Fashion Muslim Dunia, di Jakarta, Jumat malam (30/9).

Irna yang juga owner Islamic Fashion Institute (IFI) ini, dalam paparannya berjudul Mengenali Pasar Middle Class Muslim, menuturkan ada empat sosok konsumen muslim di negeri ini. Keempat sosok konsumen muslim tersebut adalah apathist (emang gue pikirin), conformist (pokoknya harus Islam), rationalist (gue dapat apa?), dan universalist (Islam itu penting).

Keempat sosok yang mewakili kelas menengah muslim tersebut, lanjutnya memiliki impian, aspirasi, nilai-nilai, dan perilakunya masing-masing. “Dengan memahami karakteristik konsumen di setiap sosok, kita akan tahu persis bagaimana memperlakukan mereka,” ujarnya.

FGD yang diikuti oleh pengusaha, desainer, peneliti, dan pengamat busana muslim, diadakan atas kerja sama Badan Ekonomi Kreatif dengan Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ), di Hotel Mercure Jakarta, 30 September-1 Oktober 2016.

Irna menambahkan untuk mengambil hati konsumen kelas menengah muslim, merek busana harus ramah dan bersahabat, merangkul semua (tak hanya eksklusif sebatas kalangan muslim), open-minded, terbuka, dan berlapang dada terhadap informasi, ide, pikiran, toleran terhadap perbedaan, dan selalu berpikir positif.

“Itu semua harus diwujudkan dengan satu tujuan dalam rangka menghasilkan kebaikan universal kepada seluruh stakeholders. Singkatnya, your brand must be an inclusive brand,” ungkap pengurus Indonesian Fashion Chamber (IFC) ini. ( bundayoely@gmail.com)

LEAVE A REPLY