Hamburkan Anggaran, Kemenpar Diunjuk Rasa Sineas Indonesia

0
712

JAKARTA, BISNISWISATA.CO.ID: Kedua kali dalam sejarah berdirinya Kementrian Pariwisata, sekitar 200 sineas muda Indonesia melakukan aksi unjuk rasa di halaman depan Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Jalan Medan Merdekat Barat No. 17, Sabtu (7/2).

Dan ini aksi kedua dilakukan insan perfilman Indonesia. Aksi pertama saat Menteri Pariwisata dan Kebudayaan dijabat Jero Wacik. Sineas Indonesia ramai-ramai mengembalikan Piala Citra, karena tak puas dengan kinerja sang Menteri yang terlalu ikut campur mengurusi dunia film Indonesia, termasuk mengatur agar kran film impor dan membatasi peredaran film Indonesia.

Topik demo saat ini lain cerita. Gara-gara Kementrian Pariwisata menghamburkan anggaran dengan memberangkatkan orang-orang tidak memiliki kredibilitas di bidang perfilman ke Festival Film Berlin (Berlinale). Karena itu, aksi yang dipelopori Sutradar Joko Anwar memprotes keras keputusan Kemenpar lewat Direktur Pengembangan Industri film.

Memang, Direktur Pengembangan Industri Perfilman, Armein Firmansyah, dicopot dari jabatanya karena melakukan keputusan itu sekaligus bertindak sebagai ketua rombongan delegasi yang dinilai salah dalam prosedur. Armein melakukan kegiatan itu karena belum mendapatkan izin dari Sekertariat Negara. Bahkan anggaran untuk ke Berlin sebesar Rp1.5 milar.

Joko Anwar melihat pencopotan Armein tak menyelesaikan masalah. “Kami para pekerja film Indonesia menyatakan bahwa pencopotan jabatan tersebut bukanlah penyelesaian yang tuntas dari masalah yang selama ini menggerogoti pemerintah dalam memajukan perfilman Indonesia,” paparnya.

Joko menilai keikutsertaan para sineas Indonesia di festival-festival internasional dan pasar film adalah upaya untuk menyelesaikan beberapa masalah yang sedang dihadapi perfilman Indonesia saat ini, termasuk kurangnya skill pekerja film Indonesia dan kepentingan promosi untuk film-film Indonesia.

“Sayangnya, selama ini upaya-upaya tersebut telah disabotase oleh oknum-oknum pejabat yang seharusnya memajukan perfilman Indonesia, bukan melemahkannya,” lontar Joko dalam orasinya.

Ody C Harahap, salah seorang sutradara dalam aksinya menambahkan pencopotan Direktur Pengembangan Industri Perfilman, Armein Firmansyah, bukan penyelesaian yang tuntas dari masalah yang selama ini menggerogoti pemerintah dalam memajukan perfilman Indonesia.

Ody menuntut agar para pejabat terkait lainnya ikut bertanggung jawab secara ksatria dengan mundur dari jabatan mereka dan untuk tidak di kemudian hari menerima jabatan di sektor ekonomi kreatif. “Mereka adalah Drs. Ukus Kuswara (Sekretaris Jendral Kementrian Pariwisata) dan Prof. Dr. HM. Ahman Sya (Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya),” kata dia yang disambut teriakan para peserta aksi.

Robby Ertanto, anggota dari Badan Perfilman Indonesia juga menuntut pihak berwenang, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut kemungkinan penyalahgunaan uang negara untuk kegiatan-kegiatan serupa pada tahun-tahun sebelumnya, dan pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan perfilman Indonesia, termasuk penyelenggaraan Festival Film Indonesia yang menhambisakan anggaran sampai Rp 300 miliar.

“Kami mendesak agar uang rakyat yang dikelola pemerintah untuk membangun perfilman Indonesia ditata secara profesional, bersih dari segala kepentingan pribadi, dan transparan,” ungkapnya.

Sineas muda yang hadir seperti, Ayushita, Aming, Lukman Sardi, Atiqah Hasiolan, Rio Dewanto, Nia Dinata dan lainnya berharap, lewat aksi ini, pemerintah bisa membangun perfilman secara sehat dan profesional.

Selain melakukan aksi demo, juga menyampaikan surat terbuka untuk Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Presiden Jokowi terkait fasilitasi serta dukungan pemerintah terhadap pekerja film yang mereka nilai tidak tepat sasaran. Juga menuntut para pejabat yang terkait dengan skandal itu mengundurkan diri. (endy)

SURAT TERBUKA UNTUK MASA DEPAN PERFILMAN INDONESIA

Yang Terhormat

Menteri Pariwisata Republik Indonesia

Bapak Arief Yahya

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pada hari Selasa, 3 Februari 2015, publik Indonesia dikejutkan dengan terungkapnya di sosial media surat permohonan izin ke luar negeri bernomor KP.1011/2/24/SEKJEN/KEM-PAR/2015 yang dilayangkan Kementerian Pariwisata lewat Direktur Pengembangan Industri Perfilman.

Pada surat itu, Kementerian Pariwisata mengajukan nama-nama yang akan diberangkatkan ke Festival Film Berlin yang digelar pada tanggal 5-15 Februari 2015 untuk ikut ambil bagian dalam mempromosikan film Indonesia di European Film Market yang merupakan bagian dari Festival Film Berlin.

Nama-nama yang diutus untuk mewakili insan perfilman Indonesia sangat diragukan kapabilitas dan kredibilitasnya serta tidak memiliki relevansi dan urgensi untuk diberangkatkan oleh pemerintah. Bahkan sebagian besar tidak dikenal oleh para pelaku industri perfilman di Indonesia.

Pada saat yang bersamaan, beberapa pembuat film dan aktor Indonesia yang lolos seleksi untuk menayangkan film mereka di Festival Film Berlin dan mengikuti kegiatan pelatihan Berlinale Talent Campus tidak mendapatkan dukungan dana keberangkatan dari pemerintah sekalipun mereka telah mengajukan permohonan bantuan. Padahal jelas-jelas mereka adalah orang-orang berprestasi yang membawa nama baik negara di kancah perfilman internasional.

Pada awalnya, Kementerian Pariwisata lewat para pejabat mereka yaitu Drs. Ukus Kuswara (Sekretaris Jenderal Kementerian Pariwisata), Armein Firmansyah (Direktur Pengembangan Industri Perfilman), serta Prof. Dr. HM. Ahman Sya (Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya) berkilah mengatakan bahwa nama-nama yang terungkap di surat dinas yang bocor ke publik hanya merupakan pengajuan dan belum tentu diberangkatkan.

Tapi kemudian terbukti bahwa nama-nama tersebut telah didaftarkan ke European Film Market pada Festival Film Berlin dan sudah tercantum di situs resmi ajang tersebut.

Pada tanggal 4 Februari 2015, para sineas dan aktor film Indonesia berkumpul di Gedung Film untuk mengadakan pernyataan sikap menuntut pertanggungjawaban pemerintah berkenaan dengan perjalanan delegasi Indonesia ke Berlin ini yang dinilai sangat tidak transparan, penuh manipulasi, dan pemborosan serta berpeluang sangat besar dalam penyalahgunaan uang rakyat.

Pada acara tersebut juga hadir Armein Firmansyah (Direktur Pengembangan Industri Perfilman) yang akhirnya mengaku khilaf dan mengaku bahwa delegasi Indonesia ke Berlin telah dibatalkan dan uang negara yang sudah dikeluarkan akan dikembalikan.

Tentu saja ini bukan penyelesaian yang bertanggung jawab. Bukti-bukti yang kemudian terungkap menujukkan bahwa hal ini telah terjadi selama bertahun-tahun, termasuk pada waktu perjalanan dinas delegasi Indonesia ke pasar program televisi MIPCOM di Cannes, Perancis, tahun 2014 lewat surat dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bernomor KP.1011/21/17/Sekjen/KPEK/2014.

Kasusnya kurang lebih sama, yaitu pemberangkatan orang-orang yang tidak memiliki urgensi dan relevansi untuk berada di ajang festival maupun pasar film dan televisi serta potensi penyalahgunaan uang negara sejumlah milyaran rupiah. Sekalipun saat itu perfilman masih dipegang oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, namun para pejabat yang memegang perfilman dan ekonomi kreatif masih sama dengan para pejabat di Kementerian Pariwisata sekarang ini.

Keikutsertaan para sineas Indonesia di festival-festival internasional dan pasar film adalah upaya untuk menyelesaikan beberapa masalah yang sedang dihadapi perfilman Indonesia saat ini, termasuk kurangnya skill pekerja film Indonesia dan kepentingan promosi untuk film-film Indonesia.

Sayangnya, selama ini upaya-upaya tersebut telah disabotase oleh oknum-oknum pejabat yang seharusnya memajukan perfilman Indonesia, bukan melemahkannya.

Pada tanggal 6 Februari 2015, Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya, Prof. Dr. HM. Ahman Sya, menyatakan bahwa Direktur Pengembangan Industri Perfilman, Armein Firmansyah, telah dicopot dari jabatannya. Armein Firmansyah juga merupakan ketua rombongan yang dijadwalkan berangkat ke Berlin pada tanggal 4 Februari 2015 lalu.

Namun, kami para pekerja film Indonesia menyatakan bahwa pencopotan jabatan tersebut bukanlah penyelesaian yang tuntas dari masalah yang selama ini menggerogoti pemerintah dalam memajukan perfilman Indonesia.

Kami menuntut agar para pejabat berikut ikut bertanggung jawab secara ksatria dengan mundur dari jabatan mereka dan untuk tidak di kemudian hari menerima jabatan di sektor ekonomi kreatif.

Mereka adalah Drs. Ukus Kuswara (Sekretaris Jendral Kementrian Pariwisata, Kementrian Pariwisata) dan Prof. Dr. HM. Ahman Sya (Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya).

Kami juga menuntut pihak berwenang untuk mengusut kemungkinan penyalahgunaan uang negara untuk kegiatan-kegiatan serupa pada tahun-tahun sebelumnya, dan pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan perfilman Indonesia termasuk penyelenggaraan Festival Film Indonesia.

Kami mendesak agar uang rakyat yang dikelola pemerintah untuk membangun perfilman Indonesia ditata secara profesional, bersih dari segala kepentingan pribadi, dan transparan.

Demi perfilman nasional dan demi kecerdasan bangsa,

Jakarta, 7 Februari 2015,

Para pekerja film Indonesia :

1.Alex Komang (Aktor), 2. Joko Anwar (Penulis/Sutradara), 3.Robby Ertanto (Penulis/Sutradara), 4. Nia Danit (Produser /Penulis/Sutradara), 5. Wulan Guritno (Aktris/Produser), 6. Tio Pakusadewo (Aktor), 7. Lukman Sardi (Sutradara/Aktor), 8. Anggy umbara (Sutradara), 9.Dewi Irawan (Aktris), 10.Affandi Abdul Rachman (Produser/Sutradara), 11. Ody C. Harahap (Penulis/Sutradara), 12. Upi (Penulis/Sutradara), 13. Richard Oh (Penulis/Sutradara), 14. Hanung Bramantyo (Sutradara)

15.Lucky Kuswandi (Penulis/Sutradara), 16.Lance Mengong (Sutradara), 17.Paul Agusta (Penulis/Sutradara), 18.Helfi Kardit (Penulis/Sutradara), 19.Titien Wattimena (Penulis/sutradara), 20.Yadi Sugandi (Sutradara/Penata Sinematografi), 21. Salman Aristo (Penulis/Sutradara), 22.Awi Suryadi (Produser), 23.Herdanius Larabu (Sutradara), 24. Lasja F Susatyo (Sutradara), 25. Andri Cung (Sutradara), 26. Ifa Isfansyah (Sutradara), 27. Putrama Tuta (Sutradara)

28.Kemal Arsjad (Produser), 29.Robert Ronny (Produser/Sutradara), 30. Ardy Octavian (Sutradara), 31.Ayushita Nugraha (Aktris), 32. Melissa Karim (Penulis/Aktris), 33.Sammaria Simanjuntak (Sutradara), 34. Febrian (Aktor), 35.Amink (Aktor)
36. Happy Salma (Aktris), 37. Niniek L Karim (Aktris), 38. Marini (Aktris), 39. Prisia Nasution (Aktris), 40.Sastha Sunu (Penyunting Gambar), 41.Fauzi Baadillah (Aktor), 42.Ilya Sigma (Penulis), 43.John De Rantau (Sutradara)

44.Angga Dwimas Sasongko (Produser/Sutradara), 45. Baim Wong (Aktor), 46.Reza Rahardian (Aktor), 47.Fajar Nugros (Sutradara), 48. Embie C Noer (Penata Musik), 49. Nazyra C Noer (Sutradara), 50.Jajang C Noer (Aktris), 51. Slamet Rahardjo (Aktor), 52.Eros Djarot (Sutradara), 53.Kyo Hayanto (Produser), 54.Rio Dewanto (Aktor), 55.Tanta Ginting (Aktor)
56.Adilla Dimtri (Sutradara), 57.Atiqah Hasiholan (Aktris), 58.Monty Tiwa (Penulis/Sutradara), 59.Ginatri S. Noer (Penulis)

60.Cesa David Luckmansyah (Penyunting Gambar), 61.Aghi Narottama (Penata Musik), 62.Zaskia Adya Mecca (Aktris), 63. Ghandi Fernando (Aktor/Produser), 64.Yudi Giant (Asisten Penata Kamera), 65. Andre Opa Sumual (Wartawan), 66. Shafiq Pontoh (Penggiat Media Sosial), 67. Ulin Yusron (Penggiat Media Sosial), 68. Indra Bekti (Aktor), 69. Fifi Hadijanto (Penulis), 70. Jflow (Penyanyi/Pencipta Lagu), 71.Olga Lydia (Pekerja Film), 72.Adrianto Sinaga (Penata Artistik/Sutradara)

73.Frans XR Paat (Penata Artistik), 74.Wencislaus de Rozari (Penata Artistik), 75. Benny Lauda (Penata Artistik), 76. Eros Eflin (Penata Artistik), 77. Ezra Tampubolon (Penata Artistik), 78. T Moty D Setyanto (Penata Artistik), 79. Allan Sebastian (Penata Artistik), 80. Teddy Soeriaatmadja (Sutradara), 81. Faozan Riza (Penata Sinematografi/Sutradara) 82. Bounty Umbara (Penyunting Gambar), 83. Fajar Umbara (Penulis), 84. Anggia Kharisma (Produser), 85. Indrabirowo (Aktor), 86. Indra Prananto, 87. Daniel Dokter (Pecinta Film Indonesia)

88. Abimana (Aktor), 89. Verdi Soelaiman, 90. Rifnu Wikana (Aktor), 91. Agus Kuncoro (Aktor), 92. Tora Sudiro (Aktor), 93. Luna Maya (Aktris), 94. Darius Sinathrya (Aktor), 95. Maudy Kusnaedi (Aktris), 96. Tya Subiakto (Penata Musik), 97. Bowie Budiantto (Casting Director), 98. Nanda Giri (Casting Director), 99. Saiful Rahman (Casting Director), 100.Derry (Casting Director), 101.Rangga Djoned (Aktor), 102.Aria Agni (Penata Kamera), 103.Roy Lolang (Penata Kamera)

104.Yudhi Datau (Penata Kamera), 105.Sidi Saleh (Penata Kamera), 106.Arief Pribadi (Penata Kamera), 107.Gunnar Nimpuno (Penata Kamera), 108.Arya Tedja (Penata Kamera), 109.Anggi Frisca (Penata Kamera), 110.Vera Lestafa (Penata Kamera)
111.Camel (Penata Kamera), 112.Marcel (Penata Kamera), 113.Angela (Penata Kamera), 114.Joe Taslim (Aktor)
115.Sanca Khatulistiwa (Casting Director), 116.Ame Octavia, 117.Widhi Susila Utama, 118.Melisa Hana Kristianty

119.Widhi Wicaksono, 120.Kenes Andhari (Aktris), 121.Winky Wiryawan (Aktor), 122.Ria Irawan (Aktris), 123.Ario Bayu (Aktor), 124.Retno (Penata Kostum), 125.Chico Jericho (Aktor), 126.Tegar Satria (Aktor), 127.Novia Faizal (Penulis), 128.Anggoro Saronto (Penulis), 129.Jujur Prananto (Penulis), 130.Lele Laila (Penulis), 131.Ilya Sigma (Penulis), 132.Oka Aurora (Penulis), 133.Haqi Achmad (Penulis), 134.Daniel Tito (Penulis), 135.Priesnanda Dwisatria (Penulis),

136.Hardanius Larobu (Sutradara), 137.Dian Sastrowardoyo (Aktris), 138.Kuntz Agus (Sutradara), 139.Aoura Chandra (Produser), 140.Fauzan Zidni (Produser), 141.Leni Lolang (Produser), 142.Kemala Atmojo (Pengamat Perfilman). 143.Sheila Timothy (Produser), 144.Shanty Harmayn (Produser), 145.Reza Hidayat (Produser), 146.Ajish Dibyo (Produser), 147.Erwin Arnanda (Produser/Sutradara), 148.Sendy Sugiharto (Produser), 149.Mira Lesmana (Produser), 150.Edwin Nazir (Produser)

151.Kimo Stamboel (Produser/Sutradara), 152.Meiske Taurisia (Produser), 153.Lalu Roimsari (Pecinta Film Indonesia), 154.Tia Hasibuan (Produser), 155.Wilza Lubis (Produser), 156.Khimawan Santosa (Penata Suara), 157.Abduh Azis (Produser), 158.Rudi Soedjarwo (Sutradara), 159.Lulu Hendra (Sutradara), 160.Hendrik Gozali (Produser), 161.Charles Gozali (Produser), 162.Linda Gozali (Produser), 163.Pandji Pragi Waksono (Aktor), 164.Dewi Umaya (Produser), 165.Faisal mohammad (Penulis), 166.Ucu agustin (Penulis/Sutradara Dokumenter), 167.Fadil Timorindo (Publisis Film)

168.Adella Fauzi (Publisis Film), 169.Kiki Febriyanti (Manajer Produksi), 170.Chairunnisa (Sutradara), 171.John Badalu (Konsultan Festival Film), 172.Indrayanto (Sutradara), 173.M.Ainun Ridho (Produser/Sutradara), 174.Anto Hoed (Penata Musik), 175.Bemby Gusti (Penata Musik), 176.Mondo Gascaro (Penata Musik), 177.Perdana Kartawiyudha (Penulis)
178.Ahsan Andrian (Penyunting Gambar), 179.Aline Jusria (Penyunting Gambar), 180.Endjah Prabowo (Penyunting Gambar)
181.Nandang Wahyu (Penyunting Gambar), 182.Gregorius Arya (Penyunting Gambar), 183.Andhy Pulung (Penyunting Gambar)

184.Dwi Agus Purwanto (Penyunting Gambar), 185.Ryan Purwoko (Penyunting Gambar), 186.Wawan i Wibowo (Penyunting Gambar), 187.Yoga Krispratama (Penyunting Gambar), 188.Kelvin Nugroho (Penyunting Gambar), 189.Waluyo Ichwandiardono (Penyunting Gambar), 190.Rizal Basri (Penyunting Gambar), 191.Eric Primasetio (Penyunting Gambar). 192.Rio Dewanto (Aktor), 193.Parama Adi Wirasmo (Produser), 194.Mouly Surya (Penulis/Sutradara), 195.Uwie Balfas (Produser), 196.Nanda Utama (Line Producer)

197.Musa Tambunan (Line Produser), 198.Arifin Cuunk (Penyunting Gambar). 199.Edo Rachmat (Penata Rias), 200.Aufa R Triangga Aria Putra (Perekam Suara), 201.Yusuf Patawari (Perekam Suara), 202.Tara Basro (Aktris). 203.Karina Salim (Aktris), 204.Aimee Saras (Aktris), 205.Tony Setiaji (Penata Musik), 206.Mandy Marahimin (Produser), 207.Ninin Musa (Produser).208.MarsioJuwono (Produser/Sutradara)

LEAVE A REPLY