Kemenpar Tawarkan Wisata Religi Manaqib

0
634

CIAMIS, test.test.bisniswisata.co.id: WISATA religi di Indonesia terus digali dan dikembangkan bahkan dipasarkan ke wisatawan nusantara maupun mancanegara. Kini Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menawarkan wisata religi Manaqib. Wisata relegi ini sudah menjadi kebutuhan spiritual bagi umat Islam di beberapa daerah, termasuk Ciamis.

Untuk memajukan wisata religi manaqib, Kemenpar menggandeng Yayasan Pesantren Sirnarasa Ciamis Jawa Barat dengan menyelenggarakan Wisata Religi Manaqib setiap tanggal 10 bulan di penanggalan kalender Hijriah di Pondok Pesantren Sirnarasa, Dusun Ciceurih, Desa Ciomas, Ciamis, Jawa Barat.

“Kementerian Pariwisata mendukung semua wisata religi di Indonesia. Manaqib ini adalah salah satu contoh wisata religi yang kami dukung,” ujar Kasubbid Promosi Wisata Sejarah dan Religi Kemenpar, Wawan Gunawan, saat ditemui di acara Munaqib di Ciamis, Jawa Barat,

Aktivitas manaqib ini, lanjut Wawan yang juga dikenal sebagai dalang, selain mendatangkan kepuasan lahir dan batin bagi wisatawan, juga menyejahterakan masyarakat di sekitar pesantren Sirnarasa.

“Dari hasil riset kami selama 2 tahun, saya melihat kegiatan manaqib ini sangat positif. Pengunjung tidak hanya datang dari lingkungan pesantren dan kecamatan, tapi dari berbagai daerah juga tumpah ruah datang,” ujar Wawan.
Tentunya hal itu akan berdampak baik untuk kesejahteraan masyarakat karena roda ekonomi berputar dan terjadi multiplier effect.

Setiap pelaksanaan manaqib, wisatawan yang datang bisa mencapai 10.000 orang yang berasal dari dalam negeri dan luar negeri.Manaqib di Pesantren Sirnarasa yang terletak di kaki Gunung Syawal, Ciamis ini menurut Ketua Yayasan Pesantren Sirnarasa, Dadang Muliawan, mengupas perjalanan hidup Syekh Abdul Qodir Al Jaelani. “Manaqib memperingati perjalanan hidup orang saleh, sejarah biografi yang berisi riwayat, wasiat, dan karomah,” ujar Dadang.

Manaqib di Pesantren Sirnarasa selalu dipenuhi oleh tamu dari berbagai wilayah. Sejak tahun 2010, sudah terlihat indikasi tamu semakin lama semakin membludak. “Kami mencari solusi agar jamaah dapat tertampung dengan baik karena di sini tidak ada hotel. Jamaah ditampung di rumah warga saja, karena selain dapat menampung jamaah juga meningkatkan kesejahteraan para warga,” tambah Dadang.

Dengan latar belakang sebagian besar penduduk di sekitar pesantren yang merupakan petani, maka hajatan besar sebulan sekali ini apabila dioptimalkan, dapat meningkatkan kesejahteraan warga. “Ada 2 RT yang paling dekat dengan pesantren terdiri dari 120 kepala keluarga. Untuk homestay mereka tidak pasang tarif, seikhlasnya jamaah. Ini justru membuat pendapatan warga lebih besar,” lanjut Dadang.

Selain mendapatkan pendapatan dari penyediaan homestay, menurut Dadang para warga juga membuat kerajinan tangan dan olahan panganan.

Kemenpar telah melakukan berbagai langkah untuk mendorong wisata religi lebih berkembang lagi. Di antaranya dengan memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat di sekitar destinasi wisata.

Hal tersebut diterapkan kepada warga di dusun Ciceurih ini. Menurut Dadang seiring dengan bertambahnya jamaah dan bertumbuhnya homestay, maka Kemenpar telah memberikan pelatihan kepada warga tentang cara mempersiapkan kebersihan, sanitasi, dan cara pelayanan wisatawan.

“Harapannya tentu ada di target kunjungan wisatawan. Semakin banyak kunjungan maka terjadi pergerakan ekonomi di destinasi wisata tersebut dan akhirnya menyejahterakan masyarakat,” tutup Wawan. (endy)

LEAVE A REPLY