Kemenpar Siapkan Industri Wisata Banten Hadapi MEA Lewat Sosialisiasi TDUP

0
674
Drs Partono MM (ke empat dari kanan) bersama Kadisbudpar Provinsi Banten dan nara sumber lainnya ( foto: hss)

SERANG, test.test.bisniswisata.co.id: Menghadapi berlakunya kesepakatan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) awal 2016 dan terpilihnya Tanjung Lesung sebagai 10 destinasi baru pariwisata nasional, Kementrian Pariwisata sosialisasikan pentingnya memiliki standar usaha pariwisata di Serang, Banten.

Drs Partono MM, Kabid Administrasi Lembaga Sertifikasi Usaha (LSU) Pariwisata, Kemenpar mengatakan kegiatan ini sekaligus merupakan upaya akselerasi agar kalangan industri wisata memiliki Tata Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) sehingga menjadi usaha yang legal, prestis dan diakui pemerintah apalagi untuk pengurusannya tanpa biaya dan maksimal hanya 14 hari.

ā€œ Dulu proses izin usaha wisata sangat berbelit-belit dan adanya pungutan biaya, tetapi sekarang proses izinnya maksimal 14 hari, jauh lebih cepat, transparan dan tidak ada biaya,” katanya hari ini di Hotel Dā€˜ Gria, Serang.

Dikatakan, sebenarnya TDUP sudah mulai dibuka aksesnya oleh Kemenpar pada tahun 2012 lalu namun respon para pengusaha di bidang pariwisata ini masih sangat rendah. Hal ini bisa dilihat dari 514 kota kabupaten di seluruh Indonesia, baru sekitar 140 kota dan kabupaten yang telah memanfataan TDUP .

Dikatakan, saat ini ada sekitar 56 jenis usaha di bidang industri pariwisata yang bisa digarap oleh para pengusaha.Untuk itu pihaknya ingin mempermudah buat mereka yang mau usaha. Hal ini terkait pula dengan kebijakan industri pariwisata menghadapi MEA yang menyangkut kebijakan strandarisasi dan sertifikasi usaha pariwisata bagi para pengusaha pariwisata.

Sementara itu. Kadis Kementerian Kebudayaaan dan Pariwisata Provinsi Banten Drs. Arief Fadillah mengatakan dengan adanya proses perizinan ini, maka diharapkan bisa meningkatkan investor di bidang pariwisata. Apalagi keuntungan dari TDUP usaha yang dilakukan oleh para pengusaha pariwisata membuat legalitas usaha lebih terkjamin dan memudahkan untuk mencari modal.

“Kalau sudah TDUP, maka usahanya akan dipandang masyarakat dan konsumen lebih akan terjamin dan juga lebih leluasa berusaha dan lebih mudah mencari modal,” tegasnya.

Sementara itu, Kabid Penanaman Modal Badan Perijinan Terpadu dan Penanaman Modal, Kabupaten Serang, Nana Sastra Permana, S.IP., M.Si, mengatakan, khusus untuk Banten, pengurusan izin usaha pariwisata ini bisa dilakukan 5 hari kerja, asalnya semua persyaratan untuk itu usaha tersebut dipenuhi.Penyeleksi awal dari persyaratan adalah Disbudpar Provinsi Banten,ā€ jelasnya.

Adapun persyaratan utama dari proses izin usaha ini antara lain, rekomentasi teknis, izin lokasi adanya IMB, adanya sertifikasi ganguan.Dikatakan, umumnya usaha pariwisata khususnya di Banten belum banyak yang memilik TDUP terutama para pengelola pantai-pantai yang ada di Banten.

“Proses izin yang dimiliki industri pariwisata di Banten baru 30 persen, itupun hanya hotel dan restoran, yang lalinnya belum,” tegasnya.
Kadisbudpar Prov. Banten Arief Fadillah menyatakan siap mendukung target-target pariwisata yang sudah dicanangkan oleh pemerintah pusat tahun 2019, jumlah wisman aman mencapai 20 juta orang, dengan adanya investor di bidang pariwisata, maka optimis target itu bisa dicapai,” tegasnya.

Kegiatan sosialisasi TDUP ini penting apalagi Menpar Arief Yahya sudah mengumumkan Tanjung Lesung di wilayahnya sebagai bagian dari 10 destinasi baru yang akan dipromosikan pemerintah pada 2016 karena itu semua stakeholder harus siap menggandakan angka-angka yang menjadi target kunjungan.

“Target tiga tahun ke depan, akan targetkan mencapai 1 juta wisatawan mancanegara, tetapi saat ini kami masih fokus tiga hal yakni investasi destinasi , promosi, baru penjualan,” tegasnya.

Seperti diketahui belum lama ini Menpar Arief Yahya menyatakan 10 destinasi wisata baru itu adalah Borobudur di Jawa Tengah, Mandalika di NTB, Labuan Bajo di NTT, Bromo-Tengger-Semeru di Jawa Timur, Kepulauan Seribu di Jakarta, Danau Toba di Sumatera Utara, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Tanjung Lesung di Banten, Morotai di Maluku Utara dan Tanjung Kelayan di Bitung.

Dari 10 destinasi wisata itu, kata Arief, lima diantaranya dalam tahap revitalisasi yakni destinasi wisata yang pernah populer. Sementara, tiga destinasi dibangun sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK) dan dua destinasi baru. “tiga itu sudah dibangun sebagai kawasan ekonomi khusus dan dua pengembangan baru seperti Tanjung Lesung,” tutupnya. (hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY