KEIN: Kementerian Pariwisata Jangan cuma Jadi Tukang Promo

0
372

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) meminta agar Kementerian Pariwisata tidak hanya aktif berpromosi. Namun, juga harus menjalin kerja sama dengan kementerian dan lembaga lain agar target kunjungan wisatawan asing bisa sesuai target.

“Jadi Menteri Pariwisata itu jangan dijadikan ‎tukang promosi saja, tapi juga harus bisa akses ke ke bawah, biar mendukung apa yang ia promosikan,” papar Anggota KEIN Irfan Wahid dalam Rapat Kerja Nasional Kadin di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta, Senin (21/11/2016).

KEIN memandang sampai saat ini banyaknya lokasi wisata di Indonesia yang memiliki daya tarik tersendiri. Namun untuk dipasarkan ke wisatawan, sarana infrastruktur belum mendukung. Pariwisata memang menjadi salah satu sektor yang menyumbang ekonomi paling ampuh bagi setiap daerah. Dicontohkan seperti di Bali. “Pariwisata ini harus jadi landing sektor, karena sudah pasti akan lahir UKM, warung-warung dan kegiatan ekonomi lainnya,” tegasnya.

Untuk itu KEIN meminta kepada seluruh program di K/L mempunyai program-program yang disinergikan dengan Kementerian Pariwisata. ‎Paling tidak, untuk tahap awal program difokuskan untuk mendukung 10 destinasi wisata yang tengah dikembangkan pemerintah.

Sebelumnya, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sebanyak 15 juta turis pada 2017. Jumlah ini naik dari target 12 juta wisman di tahun ini.

Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya mengatakan, pemerintah berharap mencapai target yang telah ditetapkan 12 juta wisman di tahun ini dan naik menjadi 15 juta di tahun depan.
“Sampai dengan Agustus, target wisman yang‎ datang ke Indonesia sebanyak 7,1 juta orang. Tapi realisasi mencapai 7,3 juta turis,” ujarnya.

Pemerintah, kata Arief, sudah menyiapkan beberapa strategi untuk menarik kunjungan wisman di tahun depan, antara lain pertama menggenjot pemasaran destinasi wisata Indonesia. “Kedua, menyediakan pasar digital seperti Agoda, Traveloka. Akan tetapi, diakui Arief, market place ini dibuat oleh pemerintah sehingga para pemain di sektor pa‎riwisata, misalnya hotel, restoran, dan lainnya bisa masuk ke pasar digital tersebut,” jelas Arief.

Strategi ketiga, tambahnya, ‎meningkatkan frekuensi penerbangan langsung dari negara-negara asal wisman ke Indonesia, seperti Tiongkok. Arief menyebut, akses penerbangan ke Indonesia sangat lemah atau jauh dari negara lainnya. “Akses ke Indonesia sangat lemah. Penerbangan langsung dari Tiongkok ke Indonesia hanya 38 persen, ke Malaysia mencapai 78 persen, ke Thailand 81 persen, dan ke Singapura 86 persen,” ujar Arief. (*/LEO)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.