Kebaya Encim, Busana Legenda Hasil Lebur Budaya Peranakan

0
897
Kebaya Encim (Foto: Sewa Busana Betawi dot Com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kebaya encim, busana legenda kini membumi lagi. Salah satu busana yang identik dengan peranakan Tionghoa dipadu budaya Belanda dan Betawi ini, ternyata memiliki sejarah panjang buah hasil lebur berbagai budaya.

“Kebaya encim itu sebenarnya dimulai oleh para wanita-wanita Belanda. Saat itu, mereka mengenakan busana dari bahan krinolin khas Victorian yang cukup rapat dan tebal,” kata desainer Lenny Agustin seperti dilansir laman CNNIndonesia.com, Sabtu (28/01/2017).

Ternyata pakaian itu dianggap tidak cocok dengan iklim tropis Indonesia. Kondisi bahan dianggap gerah. Sehingga untuk mengatasinya, para nyonya Belanda mulai mengadopsi kebaya yang biasa digunakan oleh perempuan pribumi.

Adopsi kebaya tersebut ternyata memicu inspirasi dari kalangan Tionghoa. Para perempuan Tionghoa kemudian ikut mengadopsi busana kebaya pribumi menjadi pakaian mereka.

Untuk membedakan buatan nyonya Belanda, perempuan Tionghoa membuat kebaya dengan warna lebih terang dan beragam. Tapi kebaya yang digunakan Nyonya Belanda rupanya tak bertahan lama. Ratu Belanda ketika itu membuat perintah melarang masyarakatnya memakai kebaya agar terdapat perbedaan kelas dengan kaum Tionghoa dan pribumi.

“Ketika para nyonya Belanda berhenti memakai, kalangan Tionghoa masih mempertahankan busana tersebut. Bahkan berkembang sampai motif batiknya banyak dipengaruhi budaya China. Akhirnya, itulah yang bertahan dan lambat laun disebut sebagai kebaya encim atau kebaya nyonya,” kata Lenny.

Kebaya awalnya berfungsi sebagai luaran saat perempuan pribumi mengenakan kemben. Kebaya saat itu berbentuk blus dengan ujung lancip. Dengan berkembangnya kebaya encim, muncul pula pakem yang berbeda dibanding kebaya tradisional.

Menurutnya, salah satu ciri kebaya ini adalah kerahnya berbentuk V dan berenda. “Kebaya encim juga lebih berwarna, motif-motif bunganya juga bunga yang khas China, seperti peony. Kebanyakan menggunakan warna kontras seperti merah dan kuning karena melambangkan kebahagiaan dan kemakmuran,” lontarnya.

Uniknya kebaya encim, membolehkan penggunaan warna putih yang di China berarti duka. Wana putih ini merupakan pembauran dengan budaya yang datang dari Eropa.

“Kalau di Tiongkok asli kemungkinan enggak akan pakai warna putih karena warna duka, tapi kalau peranakan dipakai,” kata Ketua Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia, Andrew Susanto.

Menurut Lenny, kebaya encim termasuk busana yang kerap mengalami modifikasi di era modern. Beragam modifikasi kebaya encim dibuat menyesuaikan tren kekinian. “Kini banyak label yang memang mengkhususkan diri membuat kebaya encim dengan motif lebih beragam. Masih dipakai di acara tertentu,” kata Lenny.

Proses pembuatan kebaya encim juga harus detail untuk mendapatkan bordir yang sempurna. Potongan kebaya encim mesti pas di badan. Bahan yang digunakan pun harus kuat agar benang tidak tertarik dan motif tidak pecah.

“Biasanya saya modifikasi lagi. Ada crop kebaya atau bahan-bahannya diganti dengan bahan dasar denim atau katun dan motifnya dibuat lebih kekinian,” ujar Lenny. “Sesuai imajinasi sendiri.”

Menurut Lenny, salah satu keunggulan kebaya encim adalah mudah dipadu-padan. Kebaya encim dapat dikombinasikan dengan rok, bahkan hingga skinny jin.

Ini memberikan pilihan lebih luas dibanding hanya sekadar kain tradisional, seperti batik peranakan. Batik ini selalu dianggap menjadi pasangan tepat bagi kebaya encim karena muncul seiring dengan perkembangan busana itu.

Beberapa batik peranakan yang digunakan biasanya memiliki motif khas Tionghoa seperti bunga dan hewan, contohnya naga, burung, dan kura-kura.

“Tapi kalau ingin mengombinasikan memakai kain, baiknya kainnya lebih tipis biar bisa diikat, jadi lebih santai. Karena kalau tebal tapi dipakai dengan gaya yang simple, kain akan menggembung di pinggang dan memberi kesan gemuk.” tambahnya. (*/CIO)

LEAVE A REPLY