Kapitalisasi Hotel di Bali Tembus Rp 31,7 Triliun

0
385
Hotel di Pantai Jimbaran Bali memberikan suasana berbeda (Foto: Jelajahku Dokumentasi Jelajah640 × 426Telusuri pakai gambar)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Analis properti Torushon Simanungkalit memperkirakan, sepanjang 2016-2019, nilai kapitalisasi properti hotel di Bali menyentuh Rp 31,7 triliun. Nilai itu dari kapitalisasi hotel, resort serta vila berbintang tiga hingga lima.

“Angka itu merupakan 36,3% dari nilai kapitalisasi hotel nasional,” ungkap Torushon seperti dilansir Investor Daily, di Jakarta, Sabtu (22/10/2016).

Dilanjutkan, tingginya minat pembangunan hotel di Bali karena meningkatnya jumlah wisman dari tahun ketahun, tentu saja juga karena meningkatnya wisnus. “Selain itu, sejumlah promosi wisata yang dilakukan pemerintah dan swasta di luar negeri,” tuturnya.

Daya tarik Bali sebagai destinasi wisata dunia mendorong sejumlah investorhotel masuk Bali. Secara umum hingga tahun 2019, hotel yang masuk didominasi bintang 5 dan 4 dengan kontribusi masing-masing mencapai 45% dan 40%, sambungnya.

Sementara Djaja Roeslim, presiden direktur PT Trias Jaya Propertindo (TJP) menilai bisnis pariwisata dan hotel di Bali masih besar peluangnya. Potensi untuk berkembang pun masih cukup tinggi.

“Bali merupakan salah satu tujuan wisata favorit di Indonesia. Tentunya yang mempunyai prospek bagus adalah hotel-hotel yang berdiri di sekitar pantai atau lokasi atraksi wisata,” ungkapnya.

Karena itu, pihaknya fokus membangun hotel atau resort di daerah tujuan wisata. Di Bali, TJP berencana membangun dua hotel. Satu hotel dibangun dan mulai soft opening September 2016. Hotel kedua sedang dalam tahap desain ulang. “Untuk hotel yang pertama kami membangun 125 kamar dengan investasi sekitar Rp 125 miliar,” tuturnya.

Dia optimistis tingkat pengembalian modal (break even point/BEP) bisnis hotel itu berkisar 7-10 tahun. “Hal itu bisa dicapai dengan tingkat okupansi atau ketersisian kamar berkisar 60-80%,” ujar dia.

Menurut Artadinata Djangkar, direktur PT Ciputra Property Tbk, bisnis hotel merupakan salah satu sumber pendapatan berkesinambungan (recurring income) perseroan. Produk properti yang diandalkan untuk recurring income adalah hotel, mal, dan perkantoran.

Kini, kontribusirecurring income sekitar 20% terhadap total pendapatan perseroan. “Kontribusi hotel sekitar 25% terhadap total recurring income kami,” paparnya.

Saat ini, pihaknya memiliki tiga hotel yang tersebar di Jakarta, Semarang, dan Cibubur. Lalu, ada lima hotel budget, yakni Citradream. “Kami juga punya satu hotel bintang lima plus, yaitu Raffles Jakarta,” tutur dia.

Khusus untuk di Bali, tambah dia, Ciputra Property akan buka hotel resort di Kabupaten Tabanan. Rencananya akan dibuka dalam rentang 2018-2019. “Kemungkinan kami buka pada 2020, sedangkan jumlah kamarnya kami masih evaluasi. Kami menunggu waktu yang tepat,” tambah Artadinata.

Pengembang properti lainnya, yakni PT Agung Podomoro Land Tbk juga membidik Bali sebagai bisnis hotel perseroan. Kini, kelompok Agung Podomoro memiliki tujuh hotel yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Rencananya, pengembang properti itu akan membuka tiga hotel di kota berbeda seperti di Bandung, Bogor, dan Balikpapan.

Khusus di Bali, pengembang itu akan membuka hotel dengan nama Indigo di Seminyak. “Segmen yang dibidik adalah middle up,” tutur Wibisono, investor relations PT Agung Podomoro Land Tbk. Indigo rencananya dibuka pada 2016 itu berkapasitas 270 kamar hotel dan 19 vila.

Sejumlah pengembang properti lain pun ikut meramaikan Bali. Sebut saja misalnya, kelompok PT Summarecon Agung Tbk dan Binakarya Group. Mereka pastinya melihat potensi Bali masih cukup seksi untuk bisnis penginapan seiring bertumbuhnya pariwisata sang Pulau Dewata.

Apalagi, kata Associate Director Research Colliers International Ferry Salanto, saat ini kepercayaan keamanan di Indonesia, khususnya di Bali telah pulih. Selamat datang di Bali. (*/II)

LEAVE A REPLY