Kampung Adat Cireundeu, Wisata Edukasi Dilirik Turis Domestik

2
165
Kampung Adat Cireundeu,

CIMAHI, Bisniswisata.co.id: Kota Cimahi, Jawa Barat ternyata memiliki wisata edukasi berbasis sejarah dan budaya. Kampung Adat Cireundeu, namanya. Kampung terletak di kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selata ini terkenal dengan ketahanan pangan, kekuatan adat istiadat dan budaya yang sangat melekat. Dengan suasana itu, kini wisata edukasi mulai dilirik wisatawan domestik.

Wisata alam hutan lindung yang melengkapi kampung ini sangat terjaga dengan baik, yang disebut hutan Larangan dan hutan Tutupan yang memiliki spot yang menarik untuk memotret pemandangan kota Bandung. Spot favorit untuk berfoto ria adalah Batu Cadas Gantung atau sering juga disebut Gajah Langu. Tempat ini dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam berjalan kaki dari kampung Cireundeu.

Dalam perjalanan, wisatawan dimanjakan dengan lansekap lahan tanam singkong berdampingan dengan pemandangan alam asri. Sesampainya di Batu Cadas Gantung, pengunjung kembali dimanjakan dengan pemandangan hampir 1800 kota Bandung dan sekitarnya.

Ingat, ada hutan lindung kampung Cireundeu tidak boleh dimasuki wisatawan dalam kondisi apapun, hanya warga adat yang boleh masuk dengan tujuan menjaga kondisi sumber mata air, agar tidak rusak. Jika masyarakat umum ingin berkunjung ke hutan Tutupan wajib didampingi oleh warga adat. Uniknya lagi, pengunjung tidak boleh mengenakan alas kaki jika mengunjungi Hutan Baladahan yang merupakan salah satu daerah di hutan tutupan tersebut.

Obyek wisata lainnya, upacara adat pada acara-acara pernikahan, kelahiran, kematian, dan puncaknya pada ritual tahunan yaitu Syura-an atau tahun baru Saka Sunda yang tahun ini jatuh pada Oktober 2017. Acara Upacara Syura-an ini dirayakan sebagai rasa syukur masyarakat adat atas rahmat dari yang Mahakuasa dan biasanya dirayakan secara besar-besaran.

Dari tahun ke tahun berbagai instansi pemerintah, perwakilan kampung adat lain, komunitas, kepala keluarga warga kampung Cireundeu dan masyarakat sekitar turut memberikan sumbangsihnya dalam caranya masing-masing demi mensukseskan acara adat ini.

Syura-an digelar sehari penuh, ritual dimulai pagi hari dengan melakukan “ngajayak” (keliling kampung) dari gerbang desa berakhir di balai desa. Di balai desa, rombongan disambut iring-iringan musik angklung buncis, gending. Setelah semua rombongan sampai ke balai, sesepuh desa memberikan kata sambutan yang dilanjutkan acara ngurah tumpeng yang berasal dari singkong.

Malam harinya, rombongan kembali melakukan ritual keliling kampung membawa obor. Seusai keliling membawa obor di balai desa kembali diadakan acaraacara pentas seni seperti kidung bumi segandu, jaipongan, pencak silat, karinding, calung,marawis, dan biasanya ditutup dengan penampilan wayang golek.

Wisata kuliner Kampung Cireundeu punya ciri khas tersendiri yakni makanan pokoknya yang bukan beras melainkan singkong. Menurut sejarah para leluhur, makanan pokok masyarakat di Kampung Adat Cireundeu beralih dari nasi ke rasi atau beras singkong sejak tahun 1918. Seiring berjalannnya waktu, menu olahan singkong di Kampung Adat Cireundeu semakin berkembang.

Awalnya, masyarakat hanya memproduksi nasi untuk kebutuhan makanan pokok, namun kini masyarakat sudah bisa memproduksi bahan singkong dari akar hingga daunnya. Akar singkong bisa diolah menjadi rasi, rangening, opak atau cimpring. Batang singkong bisa dimanfaatkan menjadi bibit, sedangkan daunnya dapat dijadikan lalapan atau disayur, dan kulit singkong dapat dibuat menjadi dendeng kulit singkong.

Dilansir laman infobdg.com, Rabu (19/07/2017), nama kampung ini dari pohon rendeu. Di Kampung Cireundeu, masyarakat memiliki konsep turun temurun dari leluhurnya yang terbagi menjadi tiga bagian. Leuweung Larangan (hutan terlarang) yaitu hutan yang tidak boleh ditebang pepohonannya karena bertujuan sebagai penyimpanan air untuk masyarakat adat Cireundeu, khususnya.

Leuweung Tutupan (hutan reboisasi) yaitu hutan yang digunakan untuk reboisasi, hutan tersebut dapat dipergunakan pepohonannya namun masyarakat harus menanam kembali dengan pohon yang baru. Luasnya mencapai 2 hingga 3 hektar.

Leuweung Baladahan (hutan pertanian) yaitu hutan yang dapat digunakan untuk berkebun masyarakat adat Cireundeu. Biasanya ditanami jagung, kacang tanah, singkong, dan umbi-umbian. “Tiga konsep ini selalu diutarakan saat ada wisatawan datang sehingga mereka mengerti arti menjaga lingkungan agar tetap asri,” papar sesepuah Kampung Cireundeu. (*/IBC)

2 COMMENTS

  1. Mau nanya, kalau mau berkunjung kesana apa harus mengabari orang disana sebelum berkunjung? Atau tinggal langsung dateng aja? Terima kasih

LEAVE A REPLY