Kalau Ibukota Bisa Ngomong; I’am Tourism, I’am Jakarta

0
480

FB_IMG_1455839513265Jakarta merupakan Ibukota Republik Indonesia, pintu gerbang utama keluar masuk ke negri ini. Selain menjadi pusat bisnis juga barometer untuk mengukur pembangunan negara. Jadi Jakarta memiliki potensi besar untuk di berdayakan untuk memberikan bagi masyarakat dan bagi Jakarta itu sendiri.

Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta mulai berbenah dari alat transportasi yang terus di tingkatkan, kebersihan yang terus di jaga, membuat Jakarta tambah menarik untuk memikat  wisatawan mancanegara dan domestik. Sebenarnya setiap wisatawan pasti ingin melihat ibukota setiap negara karena  tanpa mengunjunginya kerap membuat kunjungan ke suatu negara menjadi kurang lengkap.

Sejarah menceritakan Jakarta telah hidup sejak abad ke 7 dan tercatat dalam sejarah Kerajaan Sunda. Sejak Indonesia diketahui memiliki potensi besar rempah-rempah yang merupakan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari di Benua Eropah. Maka Jakarta dijadikan pusat dari sebuah perdagangan oleh Bangsa Belanda selama 3,5 abad lamanya.

Jakarta telah ada dalam Sejarah Dunia yang menghidupkan perekonomian Bangsa Eropah, pada jaman dahulu dan penjajahan oleh Bangsa Belanda, banyak meninggalkan warisan wisata sejarah, yang dapat dikelola untuk mendatangkan wisatawan.

Apalagi, suku asli Jakarta, yaitu masyarakat Betawi memiliki berbagai macam ragam budaya mulai dari pakaian, adat tradisional, pertunjukan seni sampai penyajian makanan yang siap di santap oleh wisatawan. Belum lagi suku asli warga keturunan yang telah menetap sejak jaman dahulu, seperti Suku Tiongkok, India dan Arab. Menjadikan Jakarta penuh warna dalam penyajian kulinernya.

Semuanya yang ada sudah merupakan modal untuk membuat Jakarta memiliki potensial besar untuk terus menggapai, wisatawan yang tidak henti-henti berkunjung untuk melihat-lihat dan merasakan suasana Jakarta. Sekarang tinggal bagaimana mengemasnya menjadi tujuan wisata dunia.

Marilah kita mengajak semua Warga Jakarta untuk menjadikan bagian dari pengembangan produk wisata dan juga masuk ke dalam bagian wisata itu sendiri  yang akan ditawarkan kepada Warga Dunia, dengan tema “I am Tourism, I am Jakarta”

Membuat Jakarta menjadi titik pusat persinggahan wisatawan membutuhkan produk-produk wisata yang mengenal kebutuhan setiap wisatawan dan mampu memikat wisatawan yang akan berkunjung mulai dari wisata sejarah, budaya, arsitektur, kuliner, seni pertunjukan dan juga membuat aktivitas unik dalam kemasaannya.

Dibutuhkan dahulu modal dasarnya, yaitu setiap warga yang hidup di Jakarta agar  dapat menyambut wisatawan yang akan berkunjung, karena setiap warga yang hidup di Jakarta merupakan bagian dari cerita wisata itu sendiri.

Warga yang hidup di Jakarta, memiliki peranan penting dalam membuat cita rasa aroma Jakarta, sehingga menciptakan kehangatan yang membuat wisatawan betah.  Anggaplah Jakarta itu adalah “Disneyland” sebuah Taman Hiburan yang terkenal di dunia yang berasal dari Negara Amerika, kunjungan wisatawan ke sana untuk melihat, bermain dan merasakan sambutan hangatnya disetiap sudut karena  warga Disneyland atau orang-orang yang bekerja di sana, sangat pro aktif dalam memberikan sambutan dan layanan.

Belum lagi bertebaran tokoh-tokoh cerita dongeng yang karakternya diperankan oleh warga Jakarta itu sendiri sehingga membuat kunjungan menjadi menyenangkan  di hati. Wisatawan secara otomatis dapat bercerita kepada teman-temannya perihal penhalamannya berwisata ke Jakarta hingga menjadi promosi dari mulut ke mulut yang efektif dan efisien alias yanpa biaya pemasaran.

Faktor utama, wisatawan datang adalah Kenyamanan, karena rasa itu melekat di hati. Kenyamanan  memiliki hubungan erat dengan keadaan dan perilaku warganya. Sekarang bagaimana mengemas Jakarta sehingga karakter sumber daya manusianya menjadi lebih hidup dan mampu berinteraksi dengan wisatawan dengan baik.

Kalau menyoroti kebersihan ibukota maka kita melihat banyak petugas kebersihan melakukan tugasnya di berbagai penjuru kota. Kehadiran mereka membuat Jakarta lenih sedap dipandang mata dan  nyaman. Lalu soal ketertiban harus diupayakan aga suasana hiruk-pikuk tidak menganggu hati wisatawan.

Bukan berarti macet tidak boleh, boleh asal teratur. Intinya ketertiban semua berjalan dengan teratur. Bayangkan bila kita berkunjung ke Paris, untuk menaiki Menara Eiffel Tower, antriannya seperti ular melingkar-lingkar, tapi wisatawan tidak keberatan untuk mengantri, karena sadar monumennya terkenal sehingga  antrian tetap teratur dan tertib dan rasa aman pun terbentuk.

Faktor berikutnya adalah alat transportasi, yang memindahkan wisatawan dari satu tempat ke tempat lainnya. Alat transportasi adalah faktor terpenting juga, untuk dapat meningkatkan arus wisatawan. Transportasi berhubungan dengan biaya, biaya berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas.

Jakarta memiliki alat transportasi dan memiliki fasilitas yang bagus untuk sarana dan terus berbenah diri untuk transportasi yang ada, sehingga memberikan kemudahan dalam menyediakan produk wisata.

Sekarang tinggal Jakarta Mengemas produk wisata yang kreatif dan memiliki aktivitas dalam pelaksanannya.

Perlu hal- hal baru dalam pengembangan produk wisata, seperti berwisata dengan mengunakan alat Segway untuk menjelajahi tempat-tempat yang menjadi daya tarik wisata. Segway adalah alat transportasi personal yang digerakan oleh mesin. Cukup popular di Eropah dan Amerika.

Menjelajahi daerah-daerah singkat atau terjangkau contohnya seperti Kota Tua Jakarta, Monas dan sekitarnya bisa dilakukan debgan Segway ini. Produk yang lebih sederhana adalah dengan menggunakan Sepeda, ada sepeda ontel berkeliling lapangan Kota Tua, di depan Musium Fatahillah. Semua kemasaan produk hanya merupakan tawaran, belum dikemas secara profesional. Banyak tawaran aktivitas wisata yang dijual untuk mendapat nilai tambah.

Setiap hotel di Jakarta, kekurangan produk informasi mengenai apa saja yang akan dilakukan untuk wisata di Jakarta. Tidak terdapat informasi berupa brosur yang terpampang di lobby hotel sehingga memudahkan wisatawan untuk mendapatkan informasi yang diharapkannya terutama kuloner, jasa transportasi, obyek wisata di sekitar hoyel dan daya tarik lainnya. Akibat minimnya infornasi mungkin wisatawan berpikir apakah ada tempat wisata di Jakarta atau tidak ?

Marilah menjadikan Jakarta sebuah Taman Hiburan dunia, yang menyajikan ke aneka ragam kemeriahan setiap hari bagi wisatawan dengan menikmati suasana yang menyenangkan di hati. Mari Jakarta Mengemas dengan membuat produk-produk wisata yang menarik dan terperinci untuk dapat mengundang wisatawan terus datang dan datang lagi. Untuk itu wajah ibukota ini harus mencerminkan diri sebagai kota pariwisata yang layak dikunjungi dan kalau ibukota ini bisa ngomong maka dia mengklaim diri  I am Tourism, Iam Jakarta. (Eddy Efendy, praktisi pariwisata)

 

LEAVE A REPLY