Kadin: Pertemuan IMF Dongkrak Pariwisata Bali

0
108
Turis di Bandara Bali (Foto: Antara)

DENPASAR, Bisniswisata.co.id: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menyebutkan perputaran dana cukup besar bakal menguncang Bali. Ada dua event besar pada tahun 2018 digelar di Pulau Dewata, yakni menjelang Pilkada serentak serta pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bali akan mendorong geliat ekonomi daerah serta pariwisata di Bali.

“Itu merupakan peluang ekonomi besar yang harus dimanfaatkan masyarakat,” kata Ketua Kadin Bali Anak Agung Alit Wiraputra dalam keterangan tertulis yang diterima Redaksi, Kamis (28/12/2017).

Menurut Alit, tahun 2018 menjadi tahun politik yang merangsang pertumbuhan ekonomi masyarakat karena panitia pelaksana pemilihan dan unsur kandidat akan banyak mencetak kebutuhan Pilkada.

Belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat juga mendongkrak perekonomian daerah saat musim Pilkada serentak di dua kabupaten dan pemilihan gubernur-wakil gubernur Bali. “Ekonomi di Bali akan terbantu dengan adanya Pilkada karena perputaran uang yang besar sehingga ekonomi bisa tumbuh,” ucapnya.

Setelah perhelatan demokrasi usai, Bali kembali disibukkan karena menjadi tuan rumah pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia pada Oktober 2018 di Nusa Dua, Kabupaten Badung.

Sedikitnya 17 ribu delegasi dari seluruh dunia yang merupakan petinggi dan pelaku industri perbankan dan keuangan rencananya akan hadir di Bali. Momentum itu, lanjut dia, akan mendongkrak sektor pariwisata dan turunannya mulai dari akomodasi makan dan minum, transportasi, telekomunikasi dan sektor lainnya.

Alit menjelaskan hampir setengah dari sekitar Rp800 miliar alokasi dana untuk kesiapan pertemuan tersebut digelontorkan di Bali. Dana tersebut, untuk membangun sejumlah proyek infrastruktur penunjang di antaranya jalan bawah tanah simpang Bandara Ngurah Rai hingga proyek tempat pembuangan akhir (TPA) di Suwung Denpasar.

Dilanjutkan, pengeluaran dari delegasi yang diprediksi mencapai 17 ribu orang selama pertemuan di Bali diperkirakan mencapai sekitar Rp1,5 triliun. “Akan ada banyak rangkaian pertemuan sebelum acara puncak pada Oktober 2018 sehingga ia optimis hal itu akan menggerakkan roda ekonomi daerah,” paparnya.

Momentum tersebut, lanjut Alit, akan menjadi pemacu ekonomi daerah setelah sektor pariwisata yang menjadi andalan Bali sempat melesu seiring meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Agung sejak September hingga akhir tahun 2017.

Meski demikian, pihaknya tetap optimistis pariwisata akan tumbuh apalagi sejumlah maskapai penerbangan dari China sudah kembali membuka penerbangan langsung ke Bali setelah sempat terhenti karena adanya kekhawatiran terkait erupsi Gunung Agung.

Menjelang libur panjang Imlek pada pertengahan Februari 2018 diprediksi kunjungan turis dari negeri panda itu akan kembali melonjak di Bali. Wisatawan dari China saat ini menduduki posisi pertama jumlah kunjungan di Bali disusul Australia, Jepang, India serta negara di kawasan Asia Pasifik dan Eropa lainnya.

Kadin Bali menargetkan pertumbuhan ekonomi di Pulau Dewata optimistis tumbuh mencapai 6,5 persen tahun 2018. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan prediksi pertumbuhan ekonomi di Bali dari Bank Indonesia untuk tahun 2017 yang mencapai kisaran 5,7 hingga 6,1 persen dan tahun 2018 diperkirakan mencapai 6 hingga 6,4 persen. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY