KADIN: Pariwisata Ujung Tombak Tingkatkan Ekonomi Kerakyatan

0
353
Wisatawan membeli souvenir buatan UKM (Foto: beritasatu.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai industri pariwisata salah satu ujung tombak peningkatan kesejahteraan ekonomi kerakyatan Indonesia. Karenanya, pelaku usaha harus mendukung pemerintah untuk mencapai target-target di bidang pariwisata dengan berbagai inovasi dan kegiatan promosi melalui pengembangan industri berbasis budaya dan MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Events).

“Pembangunan destinasi (supply) agar berdampak ekonomi yang signifikan perlu diimbangi dengan infrastruktur yang memadai, insentif keuangan, penciptaan permintaan (demand creation), promosi serta pengembangan sumber daya manusianya,” ungkap Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pariwisata Kosmian Pudjiadi di sela-sela Rakornas Kadin yang digelar di Jakarta, Rabu (23/11/2016).

Kadin mencatat, jumlah tenaga kerja di dalam industri pariwisata yang terlibat langsung dan tidak langsung termasuk industri pendukungnya mencapai sekitar 86,6 juta tenaga kerja. Jumlah ini sangat bagus untuk menekan angka penggangguran.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Berbasis Budaya, Putri K. Wardani menegaskan pihaknya bertekad untuk mendukung pencapaian target pemerintah di sektor pariwisata dengan memprioritaskan pengembangan ekonomi kreatif dan industri berbasis budaya. Oleh karena itu, pembinaan dari pihak swasta dan pemerintah kepada para UMKM di daerah pariwisata perlu terus dilakukan.

Selain itu, salah satu sektor potensial yang harus dikembangkan untuk menunjang pariwisata adalah MICE (Meetings, Incentives, Conferences & Exhibitions) baik oleh Pemerintah maupun swasta yang telah menciptakan sekitar 260 juta kunjungan per tahun oleh pengunjung domestik saja.

Dalam Rakornas Kadin Bidang Pariwisata, Industri Tradisional Berbasis Budaya serta MICE, ditandatangani pula Nota Kesepahaman (MoU) antara Kadin Indonesia dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).Kedua belah pihak sepakat untuk melakukan pemanfaatan dan penggunaan produk usaha berbasis budaya, yakni produk yang mempunyai nilai budaya Indonesia seperti jamu dan minuman tradisonal, kain tradisonal, kosmetik dan spa/holistik kesehatan, kerajinan tangan tradisional, makanan dan kuliner tradisional, pengobatan tradisional serta seni dan budaya tradisional (seni musik, seni tari, seni rupa dan seni teater).

“Kami ingin agar perhotelan dan restoran yang ada mulai memanfaatkan kekayaan budaya tradisional kita, melibatkan usaha-saha kecil menengah. Hotel bintang mungkin memang harus tetap memenuhi standarnya, tapi akan lebih bernilai pula bila kita menonjolkan apa yang Indonesia miliki. Para wisatawan yang datang ke Indonesia mereka ingin melihat budaya kita, sementara keindahan alam itu baru nomor ke sekiannya. Jadi, mereka ingin melihat budaya kita dengan keindahan alam Indonesia sebagai bonusnya,” Kata Putri.

Seperti diketahui, pemerintah telah menetapkan target industri pariwisata untuk tahun 2019 yang mencakup kenaikan jumlah wisatawan manca negara dari 9.4 juta pengunjung di tahun 2014 ke 20 juta, kenaikan kontribusi bidang pariwisata terhadap PDB nasional dari 4% ke 8%, kenaikan jumlah tenaga kerja industri pariwisata dari 10.3 juta ke 13 juta, dan kenaikan ranking daya saing pariwisata Indonesia (versi World Economic Forum) dari posisi 70 dari total 140 negara ke posisi 30. (*/NDY)

LEAVE A REPLY