Kabut Asap, Tingkat Hunian Hotel Meratap

0
490

PONTIANAK, test.test.bisniswisata.co.id: Kabut asap tak hanya merugikan dunia penerbangan. Kunjungan wisatawan pun menurun, tingkat hunian hotel juga meratap karena tak ada tamu yang datang akibat penerbangan mengalami penundaan. Kondisi ini dialamai industri pariwisata di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar).

“Dalam kondisi normal, tingkat hunian hotel sangat baik, yaitu rata rata di atas 70 persen. Namun sejak kabut asap tebal melanda Kota Pontianak, tingkat hunian hotel mengalami penurunan yang cukup tajam. Tingkat hunian hotel hanya 55 persen, atau bahkan terkadang di bawah 50 persen,” papar Muhammad, salah satu pengelola hotel di Pontianak, Sabtu (19/9).

Kabut asap yang menyelimuti POntianak, sambung dia, hampir terjadi setiap tahun sekali. Jika hujan turun, kabut asap bisa menipis namun hingga kini belum ada hujan turun sehingga kondisi di Pontianak sangat parah. “Lebih parah mempengaruhi bisnis, pariwisata, penerbangan hingga hotel pun kena dampaknya,” ungkapnya.

Diharapkan, masalah kabut asap ini dapat segera diselesaikan, sehingga jumlah wisatawan yang datang ke Kalbar, khususnya Kota Pontianak kembali normal lagi. Aktifitas kegiatan bisnis maupun penerbangan berjalan seperti sediakala.

“Memang aparat TNI dan Polri sudah diterjunkan untuk memadamkan hutan yang terbakar. Namun alangkah baiknya pelaku pembakaran diambil tindakan. Ini tugas aparat penegak hukum,” sarannya.

Kepala Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pontianak, K Damanik, mengatakan, kondisi cuaca sudah sedikit membaik. Kualitas udara sudah hampir normal, yaitu 99,02 pg/M3, dengan kategori sedang. ”

Ia berharap, pembakaran hutan, lahan, dan ladang dapat segera berhenti. Selain itu, semua titik api dapat segera dipadamankan, sehingga kabut asap segera hilang dari Kalbar.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan pemerintah Indonesia bukannya lepas tangan. Pemadam kebakaran dikerahkan, helikopter diterbangkan, ribuan tentara juga disiagakan untuk mencegat api. Namun, bara tak jua padam. “Itu mengindikasikan bahwa pembakaran hutan dan lahan masih terus berlangsung,” paparnya.

Berdasarkan pantauan Satelit Terra dan Aqua pada Senin 14 September 2015, ada 1.143 titik api di Pulau Sumatera, yaitu di Bengkulu 13, Jambi 234, Lampung 69, Riau 78, Sumbar 25, dan Sumsel 724. Di Kalimantan, masih terdata 266 titik kebakaran yaitu Kalbar 26, Kalsel 74, Kalteng 164, dan Kaltim 2. (*)

LEAVE A REPLY