Jenang Sapar, Kuliner Perekat Kekerabatan Warisan Wali Songo

0
40
Jenang sapar

LUMAJANG, Bisniswisata.co.id: Ratusan perempuan warga Kelurahan Ditotrunan, Lumajang, Jawa Timur, mengikuti Festival Nyapar Bareng atau membuat jenang sapar secara bersama-sama. Dengan memakai pakaian adat Jawa, emak-emak ini memasak jenang sapar di Gang Ngadinem, Lumajang.

Mereka membuat bola-bola kecil yang terbuat dari tepung ketan yang sudah diolah. Setelah banyak, bola-bola kecil tersebut kemudian dimasukkan ke dalam santan yang sudah mendidih, kemudian diaduk.

Untuk menambah aroma harum, warga biasanya memberi adonan jenang sapar tersebut dengan daun pandan dan nangka. Setelah warnanya berubah, jenang sapar siap untuk dikonsumsi. Agar makannya lebih nikmat, jenang sapar yang sudah jadi ditaruh di takir atau tempat khusus yang terbuat dari daun pisang.

“Lebih nikmatnya kita gunakan alas daun, sendoknya juga pakai dari daun biar aromanya lebih nikmat jika menggunakan daun,” ucap Dewi, salah satu warga, seperti diunduh laman Liputan6.com, Kamis (23/11/2017).

Mereka selalu membuat jenang sapar setiap tahun. Tapi untuk momen seperti ini (festival), baru kali ini kita melaksanakannya. Usai sesepuh desa berdoa, warga pun akhirnya melakukan gembul bujono atau makan bersama jenang sapar yang sudah jadi tersebut.

Bagi warga, jenang sapar merupakan kuliner hasil kebudayaan masyarakat Indonesia, yang mengakar sejak zaman Hindu dan era Wali Songo. Hingga kini, jenang selalu hadir sebagai simbol ungkapan rasa syukur atas karunia hasil ciptaan Tuhan.

Teksturnya yang kenyal dan lengket dapat diartikan sebagai sarana yang mampu membangun hubungan kebersamaan antarkerabat dan tetangga. “Ini digambarkan oleh para sesepuh untuk persatuan dan ditambahi oleh kuah yang lengket, supaya warga bisa menjalin kerukunan bersama,” tutur Joni Hidayat, Ketua RW 5 Kelurahan Ditotrunan, Lumajang.

Ke depan, festival ini akan rutin digelar setiap tahunnya. Selain untuk melestarikan adat, festival ini cukup ampuh untuk meningkatkan keakraban antarkerabat dan tetangga. “Enak mas, dan kita jarang ketemu satu tahun sekali. Jadi khas rasanya dan lengkap, santannya gurih,” ujar Faizah, penikmat jenang sapar.

Festival Jenang juga digelar di Solo, Jawa Tengah, pertengahan Ferbruari lalu. Saat itu, pesta kuliner bertema Festival Jenang Solo di Ngarsopuro, dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-272 Kota Solo. Ribuan takir (wadah dari daun) berisi jenang ludes dalam hitungan menit dirayah atau diperebutkan oleh warga yang memadati kawasan tersebut.

Prosesi Festival Jenang Solo 2017 diawali dengan kirab gunungan jenang dari Stadion Sriwedari Solo menuju kawasan Ngarsopuro yang berjarak sekitar 1,5 kilometer. Gunungan yang diangkut dengan rojomolo tersebut berisi sebanyak 272 plus satu takir berisi berbagai macam jenis jenang.

Setibanya di Ngarsopuro, tepatnya di depan Pasar Triwindu, prosesi dilanjutkan dengan umbul bujono yang diikuti oleh Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo dan pengurus Yayasan Jenang Indonesia.

Puncak acara tentu saja pembagian takir jenang yang tersaji di depan panggung utama. Berbagai ragam jenang tersebut merupakan hasil karya dari sejumlah kelompok PKK di kelurahan dan kecamatan yang ada di Solo. Ada pula jenang dari pihak swasta dan jenang dari berbagai daerah di luar Jawa.

Hanya dalam hitungan menit, jenang yang tersaji di panggung langsung diserbu warga. Tak hanya itu, puluhan stan yang menyediakan beraneka ragam jenang juga ikut dirayah warga. Pembagian ribuan takir jenang dilakukan secara gratis. (*/LEO)

LEAVE A REPLY