Jamuan Bajamba bagi Peserta Tour de Singkarak

0
535
Bajamba bagi peserta Tour de Singkarak

TANAH DATAR, test.test.bisniswisata.co.id: Sambutan meriah dengan kesenian tarian Daerah Minangkabau Talempong Pacik, yang dipersembahkan secara khusus bagi peserta balap sepeda Tour de Singkarak (TdS) 2015 yang finish di pelataran Istano Basa Pagaruyung pada etape VI di Tanah Datar. Bahkan sedikitnya 100 pembalap dijambu Bajamba.

Makan Bajamba adalah tradisi makan bersama dalam satu piring besar, tradisi ini sudah turun temurun sampai sekarang di Minangkabu. Adapun tujuan dari Makan Bajamba untuk meningkatkan silahturahmi dan kebersamaan satu suku dengan suku lain serta sesama warga di dusun, jorong, Nagari juga tamu yang kini peserta balap sepeda skala internasional.

Sebelum masuk ke Istano Pagaruyung, pembalap sepeda maupun tamu lainnya diberi kain sarung dan wajib dipakai sebelum masuk Istano. Para pembalap disambut beberapa gadis berpakaian Minangkabau dan dipersialhkan masuk ke Istano dengan melepas alas kaki terlebih dulu.

Di dalam istano, sudah berderet hidangan makanan ringan, buah pisang, jeruk, juga ada spagetti yang khusus dipersembahkan untuk peserta asing. Bahkan ada fried Chiken dan nasi yang dimasukkan dalam termos ukuran kecil.

Kemudian Makan Bajamba dilaksanakan secara bersama-sama. Makan Bajamba bagi laki-laki duduk bersila di atas lantai mengeliling talam (biasanya juga memakai daun pisang) dan saling berhadapan. Dan bagi yang perempuan duduk bersimpuh, juga saling berhadapan.

Selain 100 lebih pebalap yang mampu finis di etape ini, makan bajamba juga diikuti Chairman Sapta Nirwandar, Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Burhasman Bur, Plh Bupati Tanah Datar Hardiman, Ketua DPRD Zuldafri Darma, Mantan Bupati M Shadiq Pasadigoe, Kapolres AKBP Irfa Asrul Hanafi, dan unsur Muspida lainnya.

“Selain makan bajamba, yang menarik adalah para pebalap dunia tersebut mengenakan kain sarung untuk menghormati rumah adat Istano Basa Pagaruyung sekaligus sebagai souvenir,” kata Hardiman di Istano Basa Pagaruyung.

Sebelum makan bajamba di Istano Basa Pagaruyung, para pebalap disambut “siriah carano” dan penampilan kesenian daerah, “talempong pacik”, “gandang tasa” dan “tambua”, serta penampilan sanggar seni.

Bupati menyebutkan penjamuan makanan khas Tanah Datar dan penampilan kesenian daerah tersebut mampu memperkenalkan pariwisata ke dunia internasional yang akan berdampak terhadap peningkatan kunjungan wisata dan perekonomian masyarakat.

“Peserta yang berasal dari berbagai negara dapat menikmati seni budaya, makanan khas daerah, dan indahnya pesona alam Minangkabau sehingga menjadi pengalaman terindah dan mendapat kesan yang baik,” katanya.

Sapta Nirwandar, mantan Wamen Pekeraf mengatakan pada TdS 2015 ini selain diikuti pebalap dari negara Asia, juga diikuti pebalap dari Eropa. “Para pebalap itu ingin mencoba rute jalan yang menantang dengan trek yang beragam serta pemandangan alam yang indah,” katanya.

Sapta mengapresiasi masyarakat Sumatera Barat yang ramai menyaksikan ajang berlevel internasional. Bahkan sambutan tuan rumah Tanah Datar sangat apressiatif terhadap tamunya para pembalap juga tim offical.

Pada Etape VI, para pebalap memulainya dari depan Jam Gadang di Kota Bukittinggi pukul 11.00 WIB. Kemudian melintasi Padanglua, Malalak, Sicincin, Lembah Anai, Padang Panjang, Batipuh, Pariangan, Simabur, Batusangkar, dan berakhir di Istano Basa Pagaruyung pada pukul 15.05 WIB dengan jarak tempuh 116 kilometer.

Finis pertama di Etape VI adalah pebalap Iran Hossein Askari dari Pishgaman Yazd Team (PKY) dengan catatan waktu 3 jam 29 menit 50 detik. Kemudian disusul dua pebalap Iran lainnya Arvin Moazemi Goudarzi dan Rahim Emami dengan catatan waktu yang sama

Kegiatan Tour de Singkarak (TdS) 2015 di Sumatera Barat bukan sekadar ajang balap sepeda. Event olahraga tahunan ini juga digelar untuk mempromosikan wisata Indonesia ke dunia luar, khususnya Sumatera Barat. Sebagai sarana promosi wisata, pemerintah kabupaten atau kota yang menjadi lokasi finis maupun start para pebalap silih berganti menampilkan tradisi kebanggaan masyarakat setempat. (endy poerwanto)

LEAVE A REPLY