Jadi Saksi Sunrise, Daya Tarik Wisata Danau Kelimutu

0
149
Wisatawan menikmati indahnya matahari terbit dengan pemandangan Danau Tiwu Nua Muri Koo Fai, Danau Tiga Warna atau Danau Kelimutu, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, (Foto:. MI/RAMDANI)

ENDE, Bisniswisata.co.id: Berwisata ke danau dan puncak gunung Kelimutu Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) tak hanya menikmati keindahan alam, kebesaran Sang Pencipta dan keunikan danau dengan tiga warna, namun kini wisatawan bisa menjadi saksi sekaligus menikmati matahari terbit (sunrise) di puncak danau.

Belasan wisatawan ramai-ramai mengambil gambar danau, dan sunrise dalam satu kawasan di ketinggian 1.640 meter di atas permukaan laut itu, terdapat tiga danau yang dihasilkan lewat proses vulkanis gunung api.

Evelyn wisatawan asal Swiss mengaku terkagum-kagum akan pesona indahnya kawasan danau Kelimutu, danau tiga warna karena memiliki tiga warna: merah, biru, dan putih. Warna itu berubah-ubah dalam jangka waktu tertentu.

“Ini pertama kali saya ke sini dan luar biasa sekali keindahannya danaunya juga sunrise yang indah saat muncul di ufuk sana,” kata Evelyin sambil saat ditemui di kawasan hutan Danau Kelimutu, Rabu (04/10/2017).

Evelyn mengaku berangkat dari Kota Ende sejak pukul 03.00 WITA dengan maksud bisa menunggu munculnya matahari, sebab perjalanan menuju ke danau dan gunung Kelimutu membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Iapun mengaku tak bisa melanjutkan perjalanan ke puncak dengan ketinggian 1.639 mdpl karena tak mampu.

“Saya hanya bisa sampai di sini saja. Sudah tidak mampu lagi menuju ke atas. Menyaksikan matahari terbit juga danau tiga warna sudah menghilangkan penasaran selama ini,” tuturnya.

Arif wisatawan domestik dari Surabaya, Jawa Timur yang berwisata dengan keluarganya mengaku kunjungan ke kawasan danau dan gunung Kelimutu tersebut adalah yang kedua kalinya. “Tetapi waktu itu datangnya siang sehingga tidak bisa menikmati keindahan sunrise,” tuturnya seperti dilansir laman Antara.

Arief mengaku untuk bisa mencapai puncak gunung Kelimutu, wisatawan harus mampu menaiki ratusan anak tangga yang jumlahnya diperkirakan mencapai 300an anak tangga. Namun dalam dua kali berkunjung ke kawasan wisata tersebut, dirinya tidak mendapat keberuntungan untuk menyaksikan berubahnya warna danau tiga warna tersebut.

Danau Kelimutu diberi nama lokal sesuai keyakinan masyarakat tempat. Danau paling dalam, sekitar 127 meter, disebut Tiwu Nua Muri Koo Fai atau Danau Pemuda dan Gadis. Pagi itu, danau seluas 5,5 hektare itu tampak berwarna hijau lumut.

Di bagian tenggara terdapat Tiwu Ata Polo alias Danau yang Mempesona sedalam 64 meter dengan luas 4 hektare. Danau itu diperkirakan menjadi salah satu sumber air bagi Sungai Ria Mbuli yang mengalir di Gunung Kelimutu. Warnanya pada hari itu hijau.

Sekitar setengah kilometer dari puncak, terdapat Tiwu Ata Mbupu (Danau Orang Tua) yang berwarna hijau. Luasnya 4,5 hektare dengan kedalaman 67 meter. Ketiga danau memiliki bentuk, kondisi hidrotermal, dan geokimia yang berbeda. “Itulah yang menjadi daya tarik Danau Kelimutu,” kata Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Kelimutu, Benedictus Rio Wibawanto.

Data Balai Taman Nasional Kelimutu menunjukkan, selama 1915-2011, Ata Polo mengalami 44 kali perubahan warna, Nua Muri Koo Fai berubah warna 25 kali, dan Ata Mbupu 16 kali bersalin warna. Tak ada jadwal dan pola perubahan yang pasti.

Perubahan terkadang menghasilkan warna campuran. Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan, pada Mei 1997, air Ata Polo berubah warna dari cokelat dan hijau tua menjadi merah hati. Mbupu berubah dari cokelat tua menjadi hijau kecokelatan. Sedangkan Nua Muri Koo Fai berubah menjadi putih telur asin dari biru dan hijau muda. Empat tahun lalu, warna danau hampir seragam hijau. Setahun kemudian, warna berubah menjadi hijau dan hitam.

Riset Pasternak 20 tahun lalu menunjukkan Kelimutu termasuk gunung api tipe stratovolcano yang tak banyak mengeluarkan material vulkanis. Gunung ini terakhir kali meletus pada 1968. Aktivitas vulkanis Gunung Kelimutu tercatat 11 kali selama 1830-1996. Perubahan warna air tiga danau itu terjadi sejak letusan pada 1886.

Sejumlah ilmuwan menduga perubahan warna itu terjadi karena aktivitas gunung api, pembiasan cahaya matahari, mikrobiota air, zat kimia terlarut, ganggang, dan pantulan warna dinding dan dasar danau. Tapi, menurut Kepala Seksi Pencegahan dan Penanggulangan Kerusakan Danau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Titi Novitha Harapah, penelitian yang lebih akurat menyimpulkan bahwa warna danau yang berubah-ubah disebabkan oleh proses geokimia di dasar danau yang menghasilkan kandungan zat kimia tertentu di dalam air.

Peralihan warna air menjadi hijau dimungkinkan oleh perubahan komposisi kimia air kawah akibat perubahan gas-gas gunung api atau bisa pula dampak kenaikan suhu. Sedangkan naiknya konsentrasi zat besi dalam fluida menghasilkan warna merah dan cokelat tua. Warna hijau lumut mungkin berasal dari biota jenis lumut. Perubahan warna terjadi akibat erosi dinding atas danau dan dasar kawah yang menyingkap material-material tertentu.

Danau ini sangat rawan bila terjadi gempa atau getaran hebat. Kepala Subdirektorat Pengendalian Kerusakan Danau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Syamsuhari, mengatakan dinding pemisah antara Nua Muri Koo Fai dan Ata Polo merupakan bagian yang paling labil karena berupa dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat dan ketinggian 50-150 meter.

“Bila terjadi gempa dalam skala besar, kedua danau bisa menyatu,” kata dia. Karena itu, kata Syamsuhari, diperlukan kajian untuk memberikan panduan kepada turis ihwal tempat berlindung ketika berada di sekitar Danau Kelimutu.

Walau berada di taman nasional sejak kawasan tersebut ditetapkan pada 1992, bukan berarti danau ini sepenuhnya aman dari ancaman. Salah satu ancaman utama datang dari sampah yang dibuang pengunjung. Menyedihkan memang. (*/BBS)

LEAVE A REPLY