INACA: Usia Pesawat Jangan Dibatasi

0
377
Pesawat penerbangan sipil

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Indonesia National Air Carriers Association (INACA) meminta aturan batas usia maksimum pesawat niaga penumpang yang beroperasi di Indonesia maksimal 30 tahun dikaji ulang oleh Kementerian Perhubungan. Seharusnya, aturan batas usia ditujukan terhadap komponen pesawat, bukan secara keseluruhan.

“Kami menghargai aturan batas usia pesawat itu. Namun, kami berharap pembatasan usia itu dapat mengatur lebih detail, apakah itu engine, aviation system, dan lain sebagainya. Jadi jangan gelondongan,” papar Denon Prawiraatmadja, Ketua Bidang Penerbangan Tidak Berjadwal INACA di Jakarta.

INACA, sambung dia, samgat mengapresiasi upaya Kemenhub selama ini, terutama menyangkut peningkatan keselamatan, keamanan dan pelayanan penerbangan. Namun, dia juga berharap Kemenhub juga dapat mempertimbangkan kepentingan industri.

Namun, aturan batas usia pesawat membuat kebanyakan maskapai lebih memilih pengadaan armada menggunakan skema operating lease atau sewa tanpa hak opsi ketimbang financial lease atau sewa dengan hak opsi. “Karena setelah batas usia maksimal, pesawat enggak laku di Indonesia. Jadi rugi kalau pakai finansial lease. Makanya, maskapai memilih operating lease, sebenarnya biaya yang dikeluarkan per bulan itu juga lebih tinggi,” tuturnya.

Denon berharap Kemenhub dapat mengevaluasi kembali aturan batas usia pesawat niaga. Menurutnya, perawatan pesawat secara berkala dengan suku cadang pesawat yang berkualitas dapat juga meningkatkan tingkat keselamatan penerbangan.

Sekadar informasi, aturan yang mengatur batas usia pesawat niaga tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. 7/2016 tentang Peremajaan Armada Pesawat Udara Angkutan Udara Niaga.

Dalam Pasal 3 disebutkan pesawat udara untuk angkutan udara penumpang yang beroperasi di wilayah Indonesia, maksimum berusia 30 tahun. Sementara pesawat udara untuk angkutan udara khusus kargo maksimum berusia 40 tahun.

Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Suprasetyo enggan merespons telepon dan pesan pendek tentang perlunya revisi belied pembatasan usia pesawat.

Sejalan dengan itu, Denon juga berharap pemerintah dapat mendorong industri angkutan udara tidak berjadwal atau carter agar dapat melengkapi transportasi udara saat ini, yakni angkutan udara berjadwal. “Selama ini, pemerintah terkesan fokus kepada airlines saja, padahal angkutan udara carter bisa menjadi pelengkap, terutama dalam menjangkau daerah yang tidak terjangkau airlines,” ujarnya.

Denon menjelaskan angkutan udara carter sebenarnya dapat berkontribusi terhadap rencana pemerintah dalam menggenjot sektor pariwisata. Apalagi, banyak objek wisata yang berada di wilayah yang sulit untuk dijangkau angkutan udara berjadwal.

Sepanjang paruh pertama tahun ini, dia menilai kinerja angkutan udara carter masih belum menunjukkan perkembangan yang positif, dan cenderung stagnan ketimbang periode yang sama tahun lalu.

“Sepanjang semester pertama ini, para maskapai carter memang melakukan diversifikasi, atau menjajaki bisnis carter di sektor lainnya, dari sebelumnya banyak berkutat di sektor minyak dan gas. Jadi belum ada yang signifikan,” katanya seperti dilansir laman bisnis.com, Jumat (09/09/2016).

Denon mengakui tantangan dalam menjalankan bisnis angkutan udara carter saat ini cukup besar. Pada tahun lalu, dia mencatat rata-rata pendapatan usaha maskapai carter yang tercatat menurun 50% dari pendapatan yang diterima pada 2013.

Menurutnya, sektor yang potensial untuk digarap maskapai carter saat ini a.l. kargo, penumpang dan sektor pariwisata, terutama di wilayah Indonesia Timur. Dia berharap pemerintah dapat membantu maskapai carter untuk menjaga kelangsungan usahanya. (*/B)

LEAVE A REPLY