IITCF siapkan SDM Tour Leader Lewat Program West Europe Tour Leader Moslem Educational Trip (WEMET)

0
396

Priyadi Abadi, pendiri Islamic Travel Communication Forum (IITCF) selenggarakan program West Europe Tour Leader Moslem Educational Trip (WEMET) pekan depan. (Foto: dok.Priyadi)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Indonesia Islamic Travel Communication Forum (IITCF) akan mengadakan halal bi halal dan briefing bagi peserta program West Europe Tour Leader Moslem Educational Trip (WEMET) angkatan ( batch) ke II, kata H. Priyadi Abadi, pendiri IITCF yang juga Dirut Adinda Azazhra Tour and Travel, perusahaan perjalanan umrah plus dan wisata Muslim.

“Briefing untuk angkatan ke dua ini akan kami selenggarakan pada 25 Juli mendatang di Jakarta dan selain saya sendiri sebagai nara sumber juga akan hadir H. Farshal Hambali, Manager Indonesia Virgin Australia & Tiger Australia yang akan memberikan tips pemilihan maskapai penerbangan/airlines bagi Moslem Traveller,” jelasnya hari ini.

Masyarakat Indonesia mayoritas Muslim dan banyak di antara mereka, terutama kelas menengah dan menengah ke atas bukan hanya menginginkan berumrah ke Tanah Suci, tetapi juga mengunjungi obyek-obyek wisata Islam di berbagai negara, khususnya Eropa Barat.

Untuk itu, kata Priyadi, mereka mencari biro perjalanan wisata yang juga menjaga kualitas makanan sesuai syariat Islam dan membuat program-program wisata Islam, terutama mengunjungi masjid-masjid maupun pusat kebudayaan Islam (Islamic Center) di berbagai negara Eropa yang mereka kunjungi.

Agar kebutuhan mereka dapat dilayani dengan baik maka IITCF mengadakan program West Europe Tour Leader Moslem Educational Trip (WEMET) angkatan ke II pekan depan. Tahun lalu angkatan pertama berlangsung pada 11-24 Februari 2015 diikuti 28 orang yang kebanyakan adalah tour leader atau pemandu wisata, para pelaku bisnis travel umrah. Ikut pula pelaku travel umum dan freelance tour leader, serta orang-orang yang menaruh perhatian kepada pariwisata muslim.

Priyadi menjelaskan, Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF) awalnya adalah diskusi/forum dunia maya bagi para pelaku Travel Muslim (TL) di Indonesia yg mempunyai semangat berbagi informasi dan kebersamaan.

“Namun seiring perkembangan dan kebutuhan maka kami memutuskan untuk membuat kegiatan-kegiatan yang bersifat edukasi, baik di dalam maupun luar negeri yang bisa langsung bermanfaat bagi para anggota. Misalnya, pelatihan-pelatihan, seminar, workshop dan lain-lain untuk para Tour Leader, Tour Planner, Tour Consultant serta pemilik Travel Muslim,” tambahnya.

Potensi wisatawan asal Indonesia yang berminat mengunjungi berbagai obyek wisata Islami khususnya di Benua Eropa bagian Barat sangat besar oleh karena itu IITCF meningkatkan wawasan para tour leader dengan program WEMET mengingat para pemandu wisata harus dibekali dengan pengetahuan mengenai sejarah maupun obyek wisata yang berkaitan dengan obyek-obyek wisata Islam di kawasan Eropa Barat.

Priyadi menyebutkan beberapa negara mempunyai obyek wisata Muslim yang sangat menarik. Di Paris sebagai ibukota Perancis misalnya juga terkenal dengan masjid raya yang disebut Grande Mosquee de Paris dan di Amsterdam, Belanda ada Masjid Al-Fatih.

Di Cologne, Jerman ada Masjid Masyarakat Turki yang megah. Masih di Jerman, tepatnya di Heidelberg juga ada mesjid besar yang dibangun imigran Masyarakat Turki, dan masjid yang besar dan megah juga berdiri di Kota Roma, Italia.

Untuk itu, kata Priyadi, banyak wisatawan muslim Indonesia mencari biro perjalanan wisata yang juga menjaga kualitas makanan sesuai syariat Islam dan membuat program-program wisata Islam, terutama mengunjungi masjid-masjid maupun pusat kebudayaan Islam (Islamic Center) di berbagai negara Eropa yang mereka kunjungi.

“Itulah sebabnya program WEMET angkatan ke II akan berlangsung pada 28 Juli hingga 10 Agustus 2016. Seperti program yang pertama, West Europe Tour Leader Moslem Educational Trip juga akan diadakan selama 14 hari, mencakup 13 kota dan 6 negara,”

Kota-kota tersebut adalah Paris (Perancis), Brussels (Belgia), Amsterdam, dan Den Haag (Belanda), Koln, Heidelberg, Titisee (Jerman), Lucerne, Mt Titlis (Swiss), serta Milan, Venice, Pisa dan Roma (Italia). Selama dalam perjalanan diadakan seminar di atas bus membahas tujuh topik secara bergantian. Yakni, basic Tour Leader, leadership, communications, guiding technique, marketing strategis, problem solving, dan pengetahuan mengenai destinasi wisata Islami yang dikunjungi.

“Upaya lain yang akan dilakukan IITCF adalah mengajak mahasiswa berprestasi dan dosen sekolah tinggi pariwisata untuk ikut dalam program WEMET batch III pada November 2016 mendatang,” kata pria yang sudah 20 tahun menekuni profesi tour leader kawasan Asia dan Eropa dan menjadi dosen perguruan tinggi pariwisata ini.

Guna mendanai kegiatan itu, IITCF menggandeng sejumlah perusahaan besar guna memanfaatkan dana CSR perusahaan karena pihaknya ingin para dosen dan mahasiswa wawasannya terbuka, tidak hanya teori-teori yang dipelajari tapi bisa langsung terjun di lapangan.

“Sekarang kita sudah dihadapkan dengan persaingan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), sehingga dibutuhkan tenaga-tenaga pariwisata yang handal dan siap pakai,” tegasnya.

Menurut Priyadi saat ini CSR pendidikan untuk mereka belum ada yang melakukan. Oleh karena itu dia optimistis kegiatan ini akan mendapat sambutan positif baik dari peserta maupun perusahaan donatur CSR.

“Apalagi ini kan kegiatan sosial bidang pendidikan tour leader , jadi kami yakin perusahaan-perusahaan besar tertarik untuk mengalokasikan dana CSR-nya,” tutur Priyadi.

Dalam kegiatan ini, kata dia, para mahasiswa dan dosen sekolah tinggi pariwisata ini tidak saja diajak mengunjungi objek-objek wisata, tapi juga diberi keterampilan menjadi seorang tour leader. “Saya tidak ingin, ketika wisatawan kita ke luar negeri, yang bawa tour leader asing bahkan dilatani oleh travel non muslim.,”

Untuk mengikuti tour ini, menurut Priyadi, para peserta telah diseleksi, antara lain untuk mahasiswa adalah prestasi di kampus dan nilai TOEFL. Pihaknya juga berharap Kiprah IITCF di bidang pendidikan akan menggugah cara penggunaan dana CSR pendidikan perusahaan besar untuk fokus pada bidang wisata muslim ini,” jelasnya. (Hilda Ansariah Sabri).

 

LEAVE A REPLY