ICBC fasilitasi maestro lukis Sidik W Martowidjojo berpameran di Louvre, Perancis

0
930
Maestro lukis tinta air, Sidik W Martowijdjojo, ke tiga dari kiri, di dampingi Hari Untoro Drajat, Staf Ahli Menpar, Shen Xiaoqi, Presdir ICBC, Ahman Sya, Dirjen Ekonomi Kreatif berbasis Seni dan Budaya, Ke Zhihua dan Kurator Eddy Soetriyono

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Bank ICBC Indonesia mendukung sepenuhnya Maestro lukis asal Indonesia, Sidik W. Martowidjojo untuk pameran lukisan di Museum Louvre, Paris, Perancis. Bank ini tidak hanya ingin menjadi jembatan finansial antara Tiongkok -RI tetapi juga menjadi jembatan budaya,” kata Shen Xiaoqi, Presdir ICBC.

Berbicara ketika memberikan sambutan pada jumpa pers R Sidik W Martowidjojo, pelukis tinta air bergaya Tiongkok bertajuk “Louvre Internationals Arts Exhibition di Paris pada 11-14 Desember 2014, Shen Xiaoqi mengatakan bahwa sudah selayaknya pihaknya membantu maestro pelukis Indonesia yang dalam lukisannya menggambarkan keindahan alam dan budaya Indonesia.

“Budaya Indonesia adalah harta yang besar di Asia karena itu sebagai sesama bangsa Asia apalagi dengan pertalian sejarah yang sudah terjalin antara Indonesia dan Tiongkok maka sejak berdiri tahun 2007, kami sekaligus ingin menjadi jembatan budaya Indonesia,” kata Shen Xiaoqi.

Menurut dia, keberadaan perusahaan tidak bisa hanya berkiblat pada masalah perekonomian, tapi menjadi jembatan budaya sangatlah penting karena itukeduanya harus mendapat perhatian yang sama dan menjadi bagian dari tanggungjawab sosial perusahaan.

Upaya mendukung keberadaan Sidik W Martowidjojo ke kancah internasional, ujarnya, merupakan bagian dari tanggungjawab yang ingin dijunjungnya dan hal itu tidak terbatas pada seni lukis tetapi juga cabang seni budaya lainnya.

Bank ICBC Indonesia sangat mementingkan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan yang memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan komunitas di sekitarnya. Apalagi dua tahun setelah beroperasi didirikan pula Yayasan ICBC Peduli Indonesia untuk membantu anak-anak yatim yang kehilangan orang tua mereka akibat tsunami , gempa bumi dan bencana alam lainnya serta anak-anak yang membutuhkan uluran bantuan dan pembinaan dari masyarakat.

Kehadiran Sidik di pameran internasional tidak lepas dari peran China Internastional Coorporation Center (CICC) yang aktif mengorganisasi delegasi Tiongkok untuk ikut serta dalam Louvre International Arts Exhibitions sejak 2012 lalu.

Ke Zhihua, direktur CICC mengatakan telah 100 tokoh seni rupa Tiongkok pernah berpartisipasi menampilkan karya-karya seni rupa dalam ekshibisi tersebut. Mengingat Indonesia dan Tiongkok sama-sama negara yang penting dari Asia dan memiliki kebudayaan yang cemerlang maka CICC mengundang maestro Sidik berpartisipasi dalam pameran di Louvre tahun ini.

“Tema lukisan yang akan dipamerkan nanti adalah ‘Enlighten Orientalism’ yang bermakna ‘Pencerahan dari Timur’. Lukisannya akan banyak menampilkan lanskap dan pemandangan yang saya buat sejak tahun 2004. Sebanyak 30 peserta mancanegara terlibat dalam pameran ini namun mereka umumnya masing-masing hanya mengirimkan satu lukisan. Sedangkan saya mengirimkan 21 lukisan dan yang terbesar ukuran 7 X 2 meter,” kata Sidik, di gedung pertemuan ICBC Jakarta, Kamis (13/11).

Sidik yang juga bernama Ma Yong Qiang, 77, lahir di Malang, Jawa Timur dan sejak kecil sudah menekuni seni lukis, kaligrafi, sejarah, sastra dan filsafat Tiongkok. Dia baru bisa berpameran secaraformal pada 1990 an karena sebelumnya semua hal yang berhubungan dengan ekspresi kebudayaan Tionghoa di larang tampil.

 

Pameran tunggalnya terus mengalir di tahun 2000 an dengan sedikitnya menggelar 20 kali pameran tunggal di Indonesia terakhir di Galeri Nasional dan juga pameran tunggal di berbagai kota besar di Tiongkok. Tahun 2006, misalnya, dia berpameran di galeri besar di Beijing yaitu The China Millenium Monument, di susul tahun berikutnya di National Art Museum of China, tempat para maestro dunia menggelar karyanya.

Kemudian di susul pameran di Zhong Guo Meishuguan, Beijing dan sejumlah galeri di Shanghai, Fushou, Mongolia dan atas gaya melukisnya yang khas para kritikus di Tiongkok menjulukinya sebagai Dewa Pit Mabuk.

Kurator seni lukis Eddy Soetriyono mengatakan bahwa lukisan pemandangan karya Sidik bukan lagi lanskap alam nyata yang cukup dilihat dengan mata telanjang. Kematangan teknik yang mendukung telah membuatnya mampu menghadirkan esensi alam semesta, keteguhan gunung, keluwesan sungai, gelora nafsu maupun badai samudra yang siap menelan segalanya.

“Dalam karya lukisnya, Sidik memasukkan cahaya batin yang bisa membiaskan spectrum kearifan kehidupan yang sangat kaya nuansa sehingga lukisannya juga berjiwa,” tandas Eddy Soetriyono yang juga perancang scarf, perhiasan serta seorang penyair.

Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ahman Sya dalam kesempatan yang sama mengatakan bahwa Seni lukis menggambarkan peradaban di semua negeri sehingga pameran lukisan bisa menjadi diplomasi budaya.

“Saya pribadi maupun pemerintah sangat bangga ada maestro Indonesia yang bisa berpameran di Louvre, Perancis. Pengunjung akan bertanya-tanya pelukisnya dari mana ? oleh karena itu keikutsertaan Sidik di festival Internasional ini diharapkan bisa menjadi diplomasi budaya di dunia. Mudah-mudahan pamerannya nanti mendapatkan respons yang positif,” kata Ahman Sya. (hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY