Harga Tiket Pesawat Mahal, Berwisata Butuh Kocek Tebal

0
60
Harga tiket Pesawat mahal

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Siapa yang tak kenal dengan ribuan destinasi wisata Indonesia dengan keindahannya? Nusantara memang disorot mata internasional karena keindahan alamnya yang memesona. Tentu, pariwisata Tanah Air juga menjadi salah satu sektor utama penopang perekonomian. Sayangnya, tak semua masyarakat Indonesia bisa menikmati keindahan alam di negerinya sendiri.

Mikky Rahardja, wiraswasta mengaku lebih memilih berwisata ke luar negeri ketimbang menjelajah keindahan alam Indonesia. “Waktu itu pernah mau ke Bali, tapi harga tiketnya mahal dan beda Rp300.000 tiket PP ke Jepang jadi lebih milih ke Jepang. Waktu itu dibanding ke Singapore juga bedanya cuman dikit,” akunya seperti dilansir laman Bisnis, Kamis (12/07/2018).

Berwisata di Indonesia membutuhkan kocek yang tak sedikit untuk membeli tiket pesawat sehingga banyak yang memilih untuk menghabiskan waktu liburannya melancong ke luar negeri ketimbang di negeri sendiri.

Mahalnya tiket pesawat juga dikeluhkan oleh Clara Soca. Perempuan asal Yogyakarta ini telah mengunjungi 25 tempat wisata yang ada di Indonesia. Perjuangan untuk mengunjungi keindahan alam Indonesia memang tak mudah. Dirinya harus bekerja ekstra keras untuk memperoleh akomodasi yang murah.

“Kadang aku membandingkan juga, misal beli tiket pesawat terusan Jogja—Sorong sama kalau beli sendiri-sendiri Jogja—Surabaya—Makassar—Sorong, lebih murah mana? Kadang lebih murah, tapi mikir juga karena risikonya kalau salah satu pesawat delay berarti jadi tanggungan sendiri kan untuk penerbangan rute berikutnya,” tuturnya.

Kerja keras dan harus memutar otak untuk bisa menuju ke destinasi wisata yang diinginkan di Indonesia inilah yang tidak semua orang mau lakukan. Mereka memilih untuk berwisata instan yakni penerbangan langsung dan dengan tiket yang murah.

Ketua Umum Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Asnawi Bahar mengatakan harga tiket pesawat domestik yang mahal mengurangi minat masyarakat untuk terbang berpelesir di dalam negeri.

“Jargon Kenali Negerimu, Terangkan Negerimu ini susah diterapkan. Hanya kami ingin mengimbau harga tiket memang boleh ada aturannya, tetapi janganlah diberikan maksimal untuk tiket domestik. Di dalam negeri ini mahal, masyarakat lebih memilih keluar negeri.” lontarnya.

Saat ini, Asita berharap berbagai acara yang tengah dihelat di Tanah Air seperti Asean Games, rapat tahunan IMF/World Bank, dan lain sebagainya dapat menarik minat terutama wisatangan asing untuk berkunjung ke Indonesia.

Senada, Ketua Penyelenggara Visit Wonderful Indonesia (ViWI) 2018 Hariyadi Sukamdani meminta agar pemerintah memberikan insentif pada rute penerbangan yang kurang gemuk atau berada di remote area untuk meningkatkan jumlah wisatawan.

Menurutnya, salah satu faktor pendukung industri pariwisata Indonesia adalah penerbangan. Sayangnya, dia berpendapat tiket penerbangan Indonesia untuk mendatangkan turis asing terlalu mahal.

Padahal, kata Hariyadi, apabila sektor pariwisata dituntut untuk tumbuh kencang, pemerintah perlu memberikan subsidi untuk biaya tiket turis untuk tiket domestik. Pasalnya, biaya penerbangan termasuk komponen yang mahal bagi turis yang ingin ke Indonesia. “Penerbangan dalam negeri banyak, tapi harga tiketnya sangat kompetitif dibandingkan ke luar,” ujarnya.

Pemerintah juga harus memberikan dukungan kepada maskapai untuk harga tiket murah dan terjangaku. Insentif dan subsidi yang dilakukan dengan penurunan airport handling charges sehingga harga tiket domestik bisa terjangkau. “Infrastruktur pariwisata kalau sudah siap dan menunjang tapi kalau harga tiketnya mahal ya sama saja, market jadi susah,” ucapnya.

Deputi Bidang Pemasaran I Kementerian Pariwisata I Gde Pitana menuturkan untuk menarik minat wisatawan ke daerah destinasi baru, pemerintah telah menyiapkan program paket insentif bagi maskapai yang menggunakan pesawat berisi wisman langsung ke destinasi di luar Bali dan Jakarta.

“Kami kerja sama dengan maskapai maupun operator wisata dan pedagang grosir. Kami belajar dari Manado. Kenapa kunjungan wisman China tiba-tiba naik di Manado? Karena ada subsidi terhadap maskapai yang terbang ke sana. Kami kembangkan rute dengan maskapai mitra yang jual paket ke destinasi baru.”

Kemenpar juga bekerjasama dengan Kementerian Keuangan untuk memberikan sejumlah insentif dalam bentuk uang dengan dasar seberapa lama seorang wisman akan berbelanja di Tanah Air. Semakin lama, insentif yang diberikan tentu akan lebih besar.

Selain itu, kata Pitana, Kemenpar tengah membahas dengan Kementerian Perhubungan terkait pemberian insentif maskapai yang terbang ke rute kurang gemuk. “Rute-rute yang sepi, kurang gemuk, kita harapkan bisa ada insentifnya agar biaya tiket tidak mahal.”

Tahun ini sendiri, Kemenpar menargetkan 17 juta wisatawan asing berkunjung ke Indonesia atau naik 20% dibanding 2017. Untuk wisatawan lokal, ditargetkan 270 juta orang. Secara kumulatif, Januari—Mei 2018, jumlah wisman ke Indonesia baru mencapai 6,17 juta kunjungan.

Sementara itu, Pengamat penerbangan Arista Atmadjati menilai penurunan harga tiket pesawat tidak bisa serta merta dilakukan begitu saja karena sudah terdapat aturan yang mengatur tentang batas bawah dan batas atas tarif pesawat.

Terlebih, 38% komponen biaya tiket adalah bahan bakar minyak avtur sehingga apabila harga avtur turun juga membuat harga tiket pesawat menjadi turun. Harga avtur di Indonesia termasuk mahal karena tidak diproduksi di tanah air tetapi dari Singapura.

Kendati demikian, pemerintah dapat memberikan insentif berupa transport handling, navigasi, dan lain sebagainya di bandara remote untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan nusantara.

“Bisa beri insentif di handling, Airnav, atau dilakukan subsidi biaya perawatan pesawat. Misalnya untuk wisatawan yang mau ke daerah masih sepi seperti ke Wakatobi. Jadi enggak bisa serta merta tarif ini turun,” terang Arista. (BIS)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.