Hanya Kejar Keuntungan, Pelaku Wisata Tak Perhatikan Lingkungan

0
294
Wisata alam yang masih lestari

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Pelaku wisata di Indonesia diharapkan wajib mengedepankan kelestarian dan keseimbangan keanekaragaman hayati. Bukan hanya mengejar keuntungan ekonomi dalam pengelolaannya, namun harus turut memperhatikan keanekaragaman hayati sehingga bisa menjadi penyumbang laju perubahan iklim di Indonesia.

“Banyak industri pariwisata di tanah air menjalankan usahanya tanpa memperhatikan dampak terhadap kelangsungan keanekaragaman hayati, lingkungan, dan perubahan iklim. Ini sangat disayangkan,” ujar Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Agus Justianto dalam Pojok Iklim, seperti dikutip laman Inilah.com, Kamis (01/06/2017).

Dicontohkan, masih ditemukan tumpukan sampah plastik serta limbah di kawasan wisata, yang dapat merusak biodiversitas sekitarnya. “Sampah di obyek wisata ini harusnya bisa dikelola dengan baik, misalnya dengan membatasi penggunaan plastik di kawasan wisata dan sekitarnya,” kata Agus.

Selain itu, penyediaan lahan hutan untuk industri wisata juga harus memperhatikan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) yang baik, untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Pengaruh pemanasan global dalam kenaikan temperatur permukaan laut di Indonesia diperkirakan mencapai 1,0 derajat celcius selama abad ke-20.

Sekitar 80 persen dari bencana yang terjadi di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi, yang diakibatkan perubahan iklim. Di awal abad ke-21, bencana ini menyebabkan 4.936 orang meninggal dan yang terkena dampak sekitar 17,7 juta jiwa.

Menurut Agus, penebangan ilegal, pembukaan lahan tambang, dan konversi lahan hutan menjadi perkebunan yang tidak sesuai hasil Amdal adalah penyebab utama deforestasi yang dapat meningkatkan dampak perubahan iklim.

“Permasalahan ini sudah menjadi keterlanjuran di Indonesia. Karena itu, saat ini pemerintah mengedepankan tindakan korektif atas hal-hal yang terlanjur itu, seperti melalui kebijakan moratorium izin sawit baru dan penguatan ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil). Ini langkah-langkah yang harus diapresiasi sebagai salah satu solusi mengatasi masalah tersebut,” kata Agus.

Munculnya inovator-inovator muda di sektor lingkungan dapat meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam upaya memulihkan keanekaragaman hayati. “Pemerintah mengapresiasi dan terus akan bersama mereka bersama-sama menjaga dan memulihkan keanekaragaman hayati dan lingkungan,” tandas Agus.

Dalam kegiatan dengan tema “Keanekaragaman Hayati dan Pariwisata Berkelanjutan” ini, turut hadir Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) M.S. Sembiring, mitra KEHATI, dan musikus Idang Rasjidi. (ino)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.