Gunung Agung Erupsi, Penutupan Bandara Jember Diperpanjang

0
152
Bandara Notohadinegoro Jember (foto: Rimanews.com)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Penutupan Bandar Udara (Bandara) Notohadinegoro Jember Jawa Timur diperpanjang sebagai dampak erupsi Gunung Agung. Penutupan itu, sesuai NOTAM C7023/18 Bandara Jember ditutup sampai tanggal 03 Juli 2018 Pukul 10.00 WIB. Namun diperpanjang hingga pukul 15.00 WIB sesuai NOTAM C7025/18.

“Penutupan ini dikarenakan angin bergerak ke arah Barat, sehingga kedua bandara tersebut terdampak,” ujar Manager Humas Airnav Indonesia Yohanes Sirait dalam siaran pers yang diterima Bisniswisata.co.id di Jakarta, Selasa (3/7/2018).

Sementara Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali sampai saat ini masih beroperasi normal. Selain itu AirNav Indonesia mengatur pemanduan lalu lintas udara di sejumlah rute sedemikian rupa untuk menghindari area terpapar abu vulkanik. “Observasi akan dilakukan secara terus menerus dengan pemangku kepentingan (stakeholder) penerbangan lainnya,” jelasnya.

Gunung Agung erupsi lagi. Kali ini erupsi terjadi Senin malam pukul 21.04 Wita. Berdasarkan pantauan dari Pos Pengamatan, tinggi kolom abu yang teramati ± 2.000 meter di atas puncak Gunung Agung.

“Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang condong ke arah barat. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 24 mm dan durasi ± 7 menit 21 detik,” demikian keterangan tertulis yang diterima dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Senin (2/7/2018).

Dalam laporan PVMBG, disebutkan erupsi terjadi secara strombolin dengan suara dentuman. Lontaran lava pijar teramati ke luar kawah mencapai jarak 2 kilometer.

Saat ini, Gunung Agung berada pada status Siaga atau level III. PVMBG mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki, pengunjung, wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apa pun di zona perkiraan bahaya yaitu di seluruh areal di dalam radius 4 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung.

Zona perkiraan bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual atau terbaru.

“Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di areal puncak,” sebut PVMBG. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.