Goyobod, Jadi Angkutan Wisata Java van Paris

0
37
Bus Damri Jadul (Foto: MUHAMMAD FIKRY MAULUDY/”PR” )

BANDUNG, Bisniswisata.co.id: Penghujung masa baktinya, bus Damri kotak mendapat banyak cibiran dari publik Kota Bandung. Bus Damri putih bergaris biru itu dianggap kelewat tua, keropos, lambat, serta usang. Dianggap tak layak karena asap dari knalpotnya yang hitam pekat mengganggu pengguna jalan lain, juga menimbulkan polusi.

Setelah 26 tahun berjasa mengantar para penumpang ke berbagai tujuan, bus legendaris sering disebut Goyobod itu dipaksa pulang kandang. Pada 2014, satu persatu bus itu diapkir, dipotong menjadi beberapa bagian, dan dilelang ke pengusaha besi loak. Sebagai pengganti, sudah siap 100 lebih bus bantuan Kementerian Perhubungan yang baru, canggih, lebih modern ketimbang “seniornya”.

Junixon Sinaga (37), mengenang jasa bus ini untuk mengantarnya sekolah dari Kopo ke Dago. Duduk di atas kap mesin bus yang ada berada di sisi sopir menjadi rebutan, agar jarak ke pintu keluar lebih dekat. Banyak kenangan yang masih ia ingat, mulai dari stiker “Jauh Dekat Rp 200,” atau “Dilarang Mengeluarkan Anggota Badan.”

“Di sini juga kondektur mengajarkan ilmu fisika. Jangan pernah gunakan kaki kanan sebagai tumpuan, waktu lompat dari bus pas jalan pelan, yakin 90 persen jatoh,” ujarnya seperti diunduh laman PikiranRakyat.com, Kamis (30/11/2017)

Demi memberi kenangan bagi pengguna bus ini, Damri Bandung pun memberi kejutan di HUT Ke-71 Damri, pada 26 November 2017. Damri Mercedes Benz 1988 dilakukan rekondisi. Saat ini mereka tengah merestorasi satu bus dulu, dari target dua bus.

“Dasar kita merekondisi bus ini untuk melayani pariwisata. Tentu harus ada izin dari Dinas Perhubungan Kota Bandung, mudah-mudahan bulan depan sudah bisa melayani. Rutenya disiapkan menyambungkan titik keramaian,” papar Manajer Teknik Damri Bandung Arief Effendi
Rekondisi

Konsep rekondisi bus ini untuk mengembalikan orisinalitas, tanpa banyak ubahan. Total biaya yang dipegang Damri untuk satu bus ini hanya Rp 14 juta. Meski begitu, fungsi dan kelayakan masih diperhatikan. “Suku cadang untuk rekondisi ini tak sulit. Bus ini juga sudah punya power-steering, rem angin pneumatic system, penyetelan rem otomatis, yang sudah ada dari dulu,” ujarnya.

Lampu utama serta lampu interior diganti baru. Kursi berbahan fiber dengan rangka besi ditata-ulang, dengan formasi tetap 2-3. Demi kenyamanan jarak antarlutut penumpang, jumlah kursi dikurangi lima, menyisakan kapasitas duduk bagi 43 penumpang. Sementara besi bagi penumpang berdiri tetap dipasang. Jendela lebar pun siap digeser jika panas melanda.

Bagian yang keropos ditambal rapi, dan setiap sisi dicat, termasuk bagian luar. Di hangar Bengkel Damri Bandung, bus bernomor 2060 ini sedang tahap penyelesaian akhir hasil 20 hari kerja. Beberapa hari lalu sempat diuji jalan keliling Bandung dengan mesin diesel Mercedes Benz yang masih dipertahankan. Arief pun meyakini akan ada pertanyaan dari banyak warga terkait asap hitam dari bus ini.

“Masih ngebul karena bagamanapun ini bukan mesin euro 2, paling kita sempurnakan kembali setelan mesinnya biar tidak terlalu mengepulkan asap,” tuturnya. Rencananya bus Damri berkode 2177 akan juga direkondisi.

Dioperasikannya kembali bus Damri kotak legendaris ini untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat yang pernah menggunakan kendaraan ini sebagai alat transportasi. Apalagi bus ini sangat populer pada zamannya. “Paling engga segmennya di dalam kota Bandung saja. Nanti dengan menggunakan bus ini bisa mengantarkan masyarakat dari satu tempat wisata tertentu ke tempat wisata yang lain,” tambahnya.

Dulu ada 40 unit bus yang disebar untuk melayani berbagai jurusan di Kota Bandung. Bus Damri kotak ini, bus paling unggul di kelasnya, baik dari tampilan maupun mesin digunakan. Bus ini memiliki kapasitas kursi sebanyak 48, namun bisa menampung hingga 120 orang penumpang yang rela bedesak-desakan berdiri di dalam bus. “Ini terkerenlah pada zamanya. Kalau sekarang kan udah Euro 3. Busnya udah dipensiunkan 3 tahun lalu sekitar 2014,” katanya.

Komunitas Pecinta Damri turut mengawal saran rekondisi ini hingga ke Jakarta. Anjar, perwakilan komunitas itu berharap masyarakat bisa ikut menjaga bus klasik itu karena sebagian besar telah berakhir di pengumpul besi. “Ini aset sejarah transportasi di Indonesia, dan sudah sangat langka. Untuk sebagian warga, ini akan menjadi pengingat masa lalunya,” ujarnya. (PR)

LEAVE A REPLY