GMT 2016 Dan Dampak Berganda Yang Diciptakannya Di Berbagai Daerah

0
467
Gerhana Matahari Total di Palu, Sulteng ( foto humas Kemenpar Agung Budiyanto)

JAKARTA,test.test.bisniswisata.co.id: Masyarakat dari berbagai daerah menikmati langsung dampak berganda atau multiplier effect dari kedatangan wisatawan dari dalam dan luar negri sehubungan dengan Gerhana matahari total 2016.
Masyarakat yang membanjiri Pantai Tanjung Kelayang membawa berkah tersendiri bagi warga Bangka Belitung. Ribuan wisatawan menyerbu pulau ‘Laskar Pelangi’ ini untuk menyaksikan gerhana matahari total dari bibir pantai Tanjung Kelayang.

Membanjirnya wisatawan membuat  hotel penuh, mobil rental pun habis dipesan. Sebanyak 34 hotel dari berbagai kelas sudah terisi penuh oleh wisatawan yang akan menyaksikan GMT di Kepulauan Bangka Belitung. Tak hanya itu, wisma dan homestay yang dikelola warga desa pun sudah terisi dan dibooking sejak sebulan lalu.

“Kami sudah full booking. Kalau mau pesan sesudah tanggal 11 Maret,” ujar Megawati, salah satu pemilik homestay di wilayah Tanjung Kelayang, Belitung.

Banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Tanjung Pandan Bangka Belitung menyebabkan mobil rental di wilayah itu habis dipesan. Sewa mobil di Tanjung Pandan mencapai Rp 500 hingga Rp 550 per hari. Biaya itu sudah termasuk bahan bakar dan sewa sopir. “Saya punya 3 mobil. Semuanya sudah habis dipesan dengan harga sewanya Rp550 ribu
sehari atau 12 jam,” ujar warga Tanjung Pandan, Ichan (42).

Sementara itu, wisatawan asal Garut Jawa Barat yang berkunjung ke Tanjung Pandan.Ujang Sugandi dan Ija Khodijah mengaku sudah memesan hotel beberapa bulan sebelumnya. “Sudah lama pesan Kang. Mau liburan, dan kebetulan bersamaan gerhana matahari total. Cuma bingung nyari mobil rental nih, soalnya mau keliling,” ucap Ujang.
Ujang mengaku berkunjung ke Belitung untuk bulan madu bersama istrinya.

Transportasi umum menjadi salah satu kendala wisatawan di Tanjung Pandan. Sebab, angkutan umum di Tanjung Pandan sangat sedikit, terutama yang mengarah ke Manggar, Belitung Timur. “Di sini jarang angkutan. Soalnya warga sudah pada punya motor semua. Kalau dari Bandara ke Manggar biasanya ada Damri. Kalau angkutan umum sangat kurang,cuma satu dua saja,” ujar Agusman, warga yang berjualan di Terminal Tanjung Pandan.

Suasana menjelang dan saat GMT di kota Palu serta pasca GMT di Terentang, Bangka ( foto Agung Budiyanto dan Sulha Handayani)
Suasana menjelang dan saat GMT di kota Palu serta pasca GMT di Terentang, Bangka ( foto Agung Budiyanto dan Sulha Handayani)

Hal yang sama terjadi di Sulawesi Tengah (Sulteng) dimana sekitar 10.000 pengunjung dari dalam dan luar negeri menyaksikan GMT di Sulawesi Tengah. Di sini berkumpul komunitas dunia yang menamakan dirinya pencinta gerhana atau “eclipse hunter” terdiri dari para ilmuwan, fotografer dan wisatawan.

Akibatnya, kamar-kamar hotel mulai yang berbintang sampai kelas melati sudah terpesan penuh untuk empat hari, yakni 7 sampai 10 Maret 2016. “Kami terpaksa mencari-cari rumah penduduk yang bisa dimanfaatkan untuk tempat menginap para tamu dari sejumlah kementerian dan lembaga negara yang akan datang, karena tidak ada lagi kamar hotel yang
kosong,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulawesi Tengah Sitti Norma Mardjanu.

Provinsi berpenduduk sekitar 2,7 juta jiwa ini memang lebih beruntung dibanding 11 provinsi lainnya yang akan dilintasi GMT, karena memiliki titik pantau terbanyak yang tersebar pada lima kabupaten yakni Sigi, Parigi Moutong, Poso, Tojo Unauna dan Banggai serta Kota Palu.

Berbagai festival disiapkan untuk para pengunjung GMT yang diharapkan membikin mereka betah berlama-lama di kota ini, serta memikat hati turis untuk kembali lagi berkunjung pada kesempatan berikutnya. “Festival seperti ini penting karena, sebagian besar pengunjung asing nanti adalah mereka yang baru pertama kalinya datang ke Indonesia,” tutur Zulfikar Usman, Direktur Hasan Bahasuan Institute (HBI) yang menggelar festival seni-budaya di Desa Ngatabaru, Kabupaten Sigi, lokasi pengamatan GMT dengan pengunjung asing terbesar di provinsi ini.

HBI menyajikan seni budaya dari berbagai daerah di Sulawesi, khususnya Sulawesi Tengah seperti tari kolosal Raego dari Kabupaten Sigi, yang melibatkan 40 orang penari ditambah 10-an orang pemain musik. Raego dance didampingi dengan penampilan tari-tarian dari Tanah Toraja dan Bone, Sulawesi Selatan sea berbagai kelompok etnis seperti Batak dan Jawa.

Menpar Arief Yahya menilai dari animo yang begitu kuat itu, target Kemenpar pada GMT 2016 ini terlampauai jauh. “Target wisman di 12 provinsi, pada GMT ini 10.000 wisman, dengan devisa Rp 150 miliar optimistis terlampau ” ucap Arief Yahya. (*/hss)

LEAVE A REPLY